Project
Cerbung
Genre:
comedy, romance, adventure, friendship
Catatan: asal daerah dari tokoh dalam cerita ini adalah makassar, jadi ada beberapa dialog dalam cerita yang menggunakan logat makassar
‘Tok... tok… tok…’ suara ketukan pintu, “Ilo.. bangun
miqi’ nak, sudah pagimi. Cepat mandi, sarapan baru berangkat ke sekolah!”
teriak ibu sambil mengetuk pintu kamarku, “Iye Ibu, bangun maqa’ ini,” jawabku,
teriakan dan suara ketukan pintu dari ibu membuatku terbangun. Aku yang masih
setengah sadar segera bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk dan bergegas
menuju kamar mandi di lantai bawah sebelum didahului Madara, adik kecilku. Sayangnya
kamarku berada di lantai dua dan kamar adikku di lantai bawah jadi dia yang selalu
mandi duluan sedangkan aku harus bersabar menunggu di depan pintu kamar mandi.
“Ah, aku
harus cepat sebelum Madara sampai duluan,” ucapku dalam hati. Dengan kecepatan
kilat aku menuruni tangga, melalui jalan yang berliku untuk mencapai sasaran,
kamar mandi rumahku. Dan lagi, Madara telah berada di depan pintu kamar mandi,
masuk dan menutup pintu dan akupun sekali lagi harus menunggu orang itu dengan
sabar. Urghh, dasar anak itu, setidaknya dia bisa membiarkanku untuk mandi
lebih dulu. Aku ini kan kakaknya, lagipula setiap hari aku selalu bersabar
menunggunya, sekali-sekali dia kek yang menunggu.
‘Hufh’ akirnya aku hanya bisa menghela
napas bersabar, LAGI. Tapi tiba-tiba dia membuka pintu dan melihatku sambil
tersenyum, “Oh, apa dia akan membiarkanku masuk? Tumben anak ini jadi baik
kepadaku,” pikirku. Memang setiap hari kami selalu bertengkar dan mendepatkan
hal-hal yang sepele, tapi kami sebenarnya sangat dekat dan saling menyayangi
layaknya kakak dan adik. Bagaimanapun juga dia itu adik kecilku dan aku adalah
kakaknya, senakal-nakalnya dia tapi dia masih memiliki hati yang baik nan polos
dan tetap menghormatiku sebagai kakak yang menyayanginya.
“Kak Ilo,” katanya sambil mengeluarkan senyum
polosnya. Aku pun membalasnya dengan senyuman. Saat kakiku akan melangkah masuk
ke kamar mandi, dia malah menjulurkan lidahnya meledekku dan segera menutup pintu.
“Ha..ha..ha…,” aku dapat mendengar suara tertawanya yang puas mengerjaiku dari
luar. “Hei Madara! kalau berani keluar sekarang, jangan bisanya hanya
sembunyi,” teriakku kesal sambil memukul pintu. Aku memanggilnya Madara, tokoh
yang paling aku benci di anime Naruto, kebetulan kami berdua sama-sama
menyukai Naruto. Dasar anak ini, masih pagi sudah buat emosi. Menyesal aku
tersenyum dan memujinya tadi.
Tak lama
kemudian dia pun keluar dari kamar mandi. Sama seperti tadi, anak itu
mengeluarkan senyum polosnya kepadaku, tapi kali ini aku membalasnya dengan
tatapan sinis dan marah, “Lain kali akan ku balas kamu” ucapku dalam hati.
Selesai
mandi aku kembali ke kamarku, memakai seragam sekolahku dan turun ke bawah
menuju meja makan. Terlihat seluruh anggota keluargaku telah menikmati
sarapannya. Ada ayah dan ibu, Rani kakakku, dan si kecil Madara. Akupun turut
bergabung menikmati sarapan lezat buatan ibuku tercinta.
“Ilo,
sebentar kamu yang antar adikmu ke sekolah yah!” perintah ibu disela-sela
sarapanku. Entah kenapa perkataan ibu tadi membuatku jadi tidak selera makan.
Mengantar si Madara ini ke sekolah? ih amit-amit deh.
“Kenapa
harus aku yang mengantarnya, kan biasa ayah yang mengantar,” ucapku mencoba
protes.
“Hari ini
ayah ada rapat di kantor, tidak boleh terlambat,” kata ayah.
“Lalu kenapa
bukan kak Rani saja?” ucapku lagi.
“Eh tidak
bisa, hari ini aku ada praktek di kampus jadi aku harus cepat-cepat,” kata kak
Rani.
“Iya Ito,
sekali-sekali kamu yang mengantar tidak apa-apakan,” pinta ibu.
“Hufh, Baiklah.”
**********
Selesai
sarapan kamipun bersiap berangkat. Ayah dan kakak telah berangkat lebih dulu,
sedangkat aku masih menunggu adikku menyiapkan buku pelajarannya, “Madara cepat
sedikit dong, nanti kita bisa terlambat. Kenapa tidak dari tadi sih kamu menyiapkan
bukumu” kataku. “Iya kak, ini juga sudah selesai, ayo kita berangkat,” kata
Madara.
Aku dan adik
berpamitan dengan ibu, mencium tangan ibu dan bersiap berangkat ke sekolah.
“Pegang yang
erat yah, kakak akan balap. Gara-gara kamu juga sih terlalu lama, kalau tidak
cepat kita bisa terlambat,” ucapku.
“Tenang saja
kak, kita tidak akan terlambat,” kata Madara santai.
“Kamu yang
enak karena diantar lebih dulu, tapi aku yang telat,” ucapku kesal.
“He..he…,
iya deh. Kalau begitu cepat dong jalannya, supaya kakak tidak telat ke
sekolahnya,” kata Madara.
“Iya tuan,
ini juga juga saya mau cepat, makanya kamu pegangnya yang erat, nanti kalau
jatuh aku juga kan yang repot,” ucapku lagi.
“Oke deh,”
kata Madara semangat. Dia pun memeluk pinggangku dengan sangat kuat.
“Eh eh eh..,
tidak begini juga kali, pegangnya jangan terlalu kencang, kan aku jadi susah
napas,” kataku sambil melepas tangan Madara dari pinggangku.
“Katanya
tadi suruh pegang yang kuat,” protes Madara.
“Hmph, ampun
deh. Ya sudah, terserah kamu saja,”
Aku
mengantar adikku ke sekolahnya, SMPN 6 Makassar. Saat ini Adikku menduduki
bangku kelas tiga di SMP 6 Makassar. Sepanjang jalan Madara terus berceloteh
tidak jelas, tentang gurunyalah, tentang teman kelasnyalah, tentang narutolah,
saya hanya diam menanggapinya. Untungnya jarak dari rumah ke sekolah adik tidak
terlalu jauh, jadi kami bisa cepat sampai dan saya tidak harus mendengar lama
celotehannya itu, ha..ha…
“Oke, kita
sudah sampai, cepat turun!” perintahku
“Pulangnya
kakak jemputkan?” kata Madara sambil membuka helmnya.
“Tidak!”
tegasku sambil mengambil helm yang diberi Madara.
“Nanti aku bilang
ibu loh,” katanya mencoba mengancam.
“Eh…, masih
kecil sudah berani mengancam. Coba saja, memangnya aku takut,” kataku melawan.
“Hmph, mblek,” sekali lagi Madara menjulurkan
lidahnya meledekku. Aku juga tidak mau dikalah, aku pun menjulurkan lidahku
membalas ledekannya. Dan si licik Madara akhirnya berlari meninggalkanku. Tapi belum jauh dia
berlari dia berbalik ke arahku, tersenyum dan memperlihatkan wajahnya yang
lucu, “Da da.. kak Ilo, pulang jangan lupa jemput yah..,” teriak Madara sambil
melambaikan tangannya. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyolnya. Aku
menancap gas motorku, bergegas menuju sekolah sebelum pintu pagar sekolah
tertutup.
**********
Akhirnya aku
sampai di sekolah. Aku memarkir motorku dan pergi menuju ruang kelas. Sampainya
di ruang kelas aku langsung duduk di bangkuku. Dalam ruang kelas terlihat
murid-murid yang santai menikmati waktu luangnya, ada yang bermain gadget nya, ada yang rajin membersihkan
ruang kelas dan yang membaca buku. Para siswi yang sibuk bergosip ria, dan ada
anak itu, Dito.
“Halo bro,”
kata Dito sambil menepuk pundakku, “Ada apa bro, kalau dilihat dari raut mukamu
kayaknya lagi ada masalah.”
“Biasa,”
jawabku singkat.
“Owh, Madara
berulah lagi yah,” Dito menebak.
“Dasar anak
itu yah, selalu saja membuatku kesal,” kataku kesal.
“Maklumi
sajalah, namanya anak bungsu memang sering berulah” ucap Dito santai. Dito
adalah sahabat dekatku. Kami telah bersama sejak di bangku SMP. Dan dialah yang
paling tahu tentangku. Easy going,
cerewet dan sok tahu, itulah sifatnya. Dia yang tahu semua masalahku dari dulu
sampai, apalagi masalah cewek.
Pertama kali
aku menembak cewek itu waktu kelas dua SMP dan yang menyuruhku adalah Dito.
Sebenarnya pertama kali aku mengalami cinta monyet itu pas kelas enam SD, tapi
karena malu aku hanya menyimpan perasaanku. Baru setelah SMP aku memberanikan
diri untuk menembak gadis yang aku sukai, itupun karena paksaan Dito. Tapi dasar
nasib, baru pertama nembak sudah langsung di tolak. Dan anak itu, Dito,
bukannya turut prihatin malah menertawaiku. Aku begitu juga kan karena ulahnya.
Dito banyak menceramahiku, memberiku solusi untuk mendapatkan pacar. Tapi tak
satupun dari solusinya yang berhasil.
“Bro, prom night nanti jadi ikutkan?” Tanya
Dito. Aku dan Dito adalah murid kelas tiga di SMA 1 Makassar, dan sebentar lagi
kami akan meninggalkan sekolah yang telah kami jalani selama tiga tahun ini.
“Entahlah Dit,
sebenarnya aku malas ikut acara perpisahan sekolah,” jawabku.
“Ayolah bro,
inikan acara perpisahan sekolah kita, kapan lagi coba kita bisa ikut cara
beginian,” bujuk Dito. “Nanti sama-sama yah kita perginya, aku yang jemput deh.
Siapa tahu disana kita bisa kenalan sama cewek. Apalagi dalam acara pesta
begitu, pasti cewek yang datang cantik-cantik semua. Kalau mau aku bisa kenalin
deh, banyak cewek yang aku kenal di sekolah, nanti kamu tinggal pilih yang mana
yang kamu suka,” Dito menggoda.
“Bro.. bro…,
apa sih isi kepala kamu, memangnya yang ada di kepala kamu cuma cewek apa,”
kataku. Dito hanya tertawa mendengarnya.
**********
Hari yang
ditunggu pun tiba, Dito menepati janjinya untuk menjemputku dengan mobilnya,
kami pergi ke acara prom night
bersama. Kamipun sampai di tempat tujuan, para siswa mengenakan pakaian terbaiknya
di acara tersebut, begitupun dengan guru-guru kami.
Tak banyak
yang bisa kami lakukan di acara itu, hanya menonton tarian, nyanyian dan pentas
kesenian lainnya yang ditampilkan. Dan kami juga disuguhkan beberapa video,
banyak diantara murid yang menangis
setelah menonton video tersebut, maklum kami murid kelas tiga akan meninggalkan
sekolah kami ini.
Aku banyak
menghabiskan waktu hanya untuk bercanda dengan teman-temanku, ada Rio, Fahmi, Iqbal,
Dito, Wawan, Udin, dan Anwar. Berkat merekalah jadi waktu tidak membosankan
buatku.
Acara
perpisahan sekolah hampir mencapai puncaknya. Saat ini akan diumumkan siswa
berprestasi di sekolah kami, “Wah kira-kira siapa yah yang dapat?” tanya tanya
Iqbal, “Yang pastinya ibu ketua osis kita, siapa lagi,” jawab Rio. Dan saat pak
guru menyebutkan nama siswa berpestasi, nama Nurfadillah disebut, sesuai dugaan
kami semua yang ada di acara malam itu. Kami semua yang hadir berdiri
memberikan tepukan atas penghargaan yang diraih oleh Dillah.
Nurfadillah
adalah siswi yang menjabat sebagai ketua osis di sekolah kami. Otaknya yang
pintar dan sikapnya yang ramah membuatnya disukai oleh para guru dan seluruh
siswa, begitupun juga denganku. Dillah adalah cewek yang selama tiga tahu ini
aku sukai. Dan aku yakin bukan cuma aku saja yang suka dengan dia, pasti masih
banyak yang tertarik sama gadis cantik, pintar dan baik seperti dia.
Acara prom
night akhirnya selesai. Ritual foto bareng pun bertebaran di mana-mana.
Para siswa saling mengucapkan salam perpisahan. Aku dan teman gengku pun akan
meninggalkan tempat ini, kami berjalan bersama keluar gedung.
Di luar
gedung kami bertemu dengan Dillah yang asik bercerita dengan temannya, “Hey itu
Dillah kan yang disana, Dillah!” teriak Rio. Rio adalah anggota osis di sekolah
jadi otomatis dia dekat dengan ibu ketua osis kami. Akibat teriakan itu Dillah
mendatangi kami, sebenarnya aku malu untuk berpapasan langsung dengannya,
bahkan kalau bisa kami jangan bertemu sekalian, aku tidak mau memperlihatkan
wajahku di depannya. Tapi gara-gara anak itu si Rio membuatku harus bertemu
dengan Dillah.
“Hay
Dillah,” sapa kami. Aku juga menyapanya dengan suara pelan karena malu.
“ Hay
semua,” jawab Dillah.
“Wah selamat
yah, kamu terpilih menjadi siswa berprestasi di sekolah,” ucap Dito.
“Terima
kasih,” jawabnya sedikit malu.
Aku melihat
wajah Dillah, dia terlihat lebih manis saat malu, membuatku menjadi salah
tingkah. Saat itu Dito mendorongku pelan, mencoba menggodaku karena salah
tingkahku tadi.
Aku pulang
diantar lagi sama Dito, dia telah berani membawaku pergi jadi dia juga harus
bertanggung jawab membawaku kembali ke rumah. Di tengah perjalanan dia mencoba
menggodaku lagi, “Cie cie Ilo, tadi bertemu dengan Dillah. Bagaimana rasanya
tadi berpapasan langsung dengan Dillah, hi..hi…,” kata Dito cengengesan, orang
itu, suka sekali menggodaku. “Ah, jangan banyak bacot deh kamu. Tadi juga,
apaan sih kamu main dorong-dorong segala, bikin aku malu tahu,” kataku sedikit
kesal, Dito hanya tertawa mendengarnya. Sikap Dito ini bukan tanpa sebab, tapi
karena dulu aku nembak Dillah.
Aku dan
Dillah pernah sekelas waktu tahun pertama SMA, dari situ aku bisa mengenalnya. Dan
tanpa terasa aku mulai memendam perasaan terhadapnya. Pas naik kelas dua aku
memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku kepada Dillah, sayanngnya dia
menolak dengan alasan dia ingin lebih berkonsentrasi dengan pendidikannya dan
aku menghargai alasannya itu. Dan kamipun tetap menjadi teman seperti biasa,
walau sebenarnya aku selalu menghindar dari Dillah karena malu.
Setelah 40 menit perjalanan akhirnya aku sampai di rumah,
dengan lemas aku membuka pintu rumahku dan disambut hangat oleh ibu.
“Pulangmi
tauwa anakku, bagaimanaji tadi acaranya, bagusji?” tanya ibu.
“Biasaji.
Seperti acara perpisahan sekolah biasa,” jawabku.
“Oh…., sini
qi’ pale dulu nak, ada yang mau ibu bicarakan,” kata ibu sambil menarikku,
menyuruhku duduk tenang, sepertiya dia ingin membicarakan hal yang serius.
“Deh ibu,
baru qi’ pulang, istiahat dulu baru ganti baju, kenapa kah?” tanyaku penasaran
“Eh begini,
mau qa’ kasih masuk qi’ kuliah di Jakarta di Universitas Indonesia (UI). Ibu
sudah siapakan tiket ke Jakarta, jadi lusa berangkat miqi’ nak ke sana,” kata
ibu semangat.
“Ibu
sembarangannya, untuk apa kuliah jauh-jauh di Jakarta, bisa tonji juga di sini
kuliah,” kataku protes.
“Ka biarmi.
Bangga tong juga itu ibu kalau ada anaknya lulusan Universitas Indonesia,” kata
ibu memaksa.
“Edede.. Ibu, sok-soknya mau kasih masuk qa’ ke UI,” ucapku
dalam hati.
“Cepat miqi’ nak naik
ke kamar ta’, siapkan memangmi barang-barang ta’ yang mau di bawa,” kata ibu.
Aku pun naik ke kamar, memilih barang yang akan aku bawa ke
sana. Sebenarnya aku tidak ingin kuliah di Jakarta tapi karena itu perintah
orang tua, dan mereka juga telah menyiapkan tiket jauh hari, jadi aku tidak
bisa menolak. Saat sibuk-sibuknya mengemas, Madara datang ke kamar dan mencoba
mengangguku lagi.
“Katanya kakak akan kuliah di Jakarta yah, wah asik dong,”
kata Madara.
“Sok tahu kamu,” jawabku.
“Nanti kalau kakak pergi kamarnya buat aku yah,” pinta
Madara.
“Ini anak kecil, sini kamu yah,” kataku sambil mengejar
Madara yang berlari kegirangan.
Saat itu aku melihat isi kamarku, kamar yang telah aku
tempati sejak kecil. Melihat seluruh barang yang mengisinya. Setiap barang yang
ada di kamar memiliki kenangan tersendiri. Dan mulai lusa aku tidak akan
menempati kamar ini lagi. Aku mengambil smartphone
ku untuk menghubungi Dito, “Bro, besok ketemuan yah, di tempat biasa, ajak
anak-anak lain juga sekalian.”
**********
Keesokan
harinya aku bertemu dengan teman-temanku dengan niat ingin berpamitan dengan
mereka. Kami telah mengatur waktu untuk bertemu di cafe tempat nongkrong kami
yang biasa. Disana telah menunggu Wawan, Rio, Fahmi dan Dito. Kami menghabiskan
waktu bercerita sambil menikmasti snack
yang kami pesan. Setelah puas, kamipun bersiap meninggalkan cafe, tapi sebelum
pergi aku ingin berpamitan kepada temanku.
“Oh iya,
sebelum pergi ada yang ingin aku bicarakan,” kataku.
“Ada apa?
kenapa mukamu serius begitu?” Tanya Rio.
“Begini,
besok aku mau pergi ke Jakarta, aku akan melanjutkan pendidikanku di sana,”
jawabku.
“Kamu akan
kuliah di Jakarta?” tanya Fahmi keheranan.
“Iya,
tepatnya di Universitas Indonesia, itu karena perintah orang tuaku juga,”
jawabku lagi.
“Yah sudah,
mau bagaimana lagi. Yang penting jangan lupakan kami di sana. Jangan
mentang-mentang sudah jadi anak Jakarta kamu justru melupakan kami yang ada di
Makassar,” kata Wawan.
“Pastinya
bro…” kataku sambil tersenyum.
Setelah
berpamitan kami meninggalkan cafe. Rio, Wawan dan Fahmi pulang kerumahnya
masing-masing sedangkan Dito ikut bersamaku ke rumah. Sebenarnya yang akan ke
Jakarta bukan cuma aku sendiri, tapi Sahabatku Dito juga akan ke sana. Kami
akan ke Jakarta bersama. Hari ini dia akan membantuku mengemas barang yang
mungkin akan kami perlukan di sana. Beda denganku yang belum pernah ke Jakarta,
Dito telah dua kali ke sana dalam rangka liburan keluarga jadi dia lebih tahu
bagaimana suasana kota Jakarta.
**********
Keesokan
paginya aku bersiap menuju bandara, mengucapkan salam perpisahan kepada seluruh
anggota keluarga. Perasaanku sedih karena harus meninggal keluargaku, ini
pertama kalinya aku berpisah jauh dari keluargu. Si kecil Madara juga menangis,
tidak ingin melepasku pergi, aku hanya dapat memberinya senyuman terakhir
sebelum meninggalkannya menuju kota Jakarta. “Padahal sebelumnya dia yang
paling semangat perihal kepergianku, dan sekarang dia malah menangis,” ucapku
dalam hati, sambil mengelus kepalanya.
“Tenang saja, kak Ilo tidak lama akan lama di sana, nanti
kakak juga akan kembali, sekarang kamu diam yah,” kataku kepada Madara. Aku
mengusap pipinya yang basah karena air mata. Aku pasti akan merindukan
kejahilannya ketika disana nanti.
Ayah mengantarku
ke bandara Hasanuddin dan disana telah menunggu Dito. Kami menaiki pesawat yang
akan kami tumpangi ke Jakarta. Setelah menempuh perjalanan jauh kamipun
akhirnya sampai di Jakarta. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di
kota ini.
Ibukota
Jakarta, kota metropolitan yang kata orang-orang sih kehidupan di Jakarta itu
keras, dan selama beberapa tahun ke depan kami akan tinggal di kota ini.
Awalnya aku sempat ragu untuk kuliah di kota ini. Hidup di kota Jakarta sangat
sulit, apalagi untuk kami yang hanya menumpang tinggal di kota metropolitan
ini.
“Bagaimana
menurutmu kota Jakarta, WELCOME TO JAKARTA,” kata Dito sambil membentangkan
kedua tangannya menyambut kota metropolitan ini.
Dan
petualangan kami pun di kota Jakarta akan segera di mulai.
Sign up here with your email

14 komentar
Write komentarAlhamdulillah saya baca sampe ending...
ReplyKeren...
Suka dgn tulisan kayak gini..
Saya kasih masukan gpp yaa^^
Openingny mesti dibumbuhi lagi ya... krn faktor penentu yg paling utama adalah ketika paragraf awal...
Cerita mengalir...saya pun menikmatinya ^^
Salam literasi ya
Ditunggu tulisan selanjutnya^^
wahahaha... rese juga si dito ceng-cengannya. hajar aja udah! keluarin isi perutnya! jual organ tubuhnya ke pasa gelap! *psikopat banget*
Replyhati-hati, jakarta tak pernah ramah bagi pendatang. ini serius..
Bagus mbak ceritanya,,
Replyjadi grogi mau lanjutin ceritanya,, hehe
adeknya madara, abangnya hashirama y? haha
Replysebenarnya si dillah nolak lu itu karena suka sama gw
hahaha
aku nimbrung komentar disini ya kak.
Replysuka sama ceritanya.
tapi iya, openingnya diperbaiki lagi.
karena saya rasa opening ini sangat menentukan apakah pembaca akan tertarik atau tidak di cerita ini.
semangat!!!
Ilo dan madara, jarang akur, tp ttap aja klo terpisah gt jd sedih. persis kaya aku dan adikku. haha.
Replybaca dialek makassar gt jdi keinger tman tman PJTL asal makassar. haha jd curcol. okee, mw lnjut baca k bgian dua dlu deh
Wuiiih bener aja ceritanya jadi keren gini.
ReplyMaafkan daku yang keluar dari project di tengah jalan ini mbak.
Bahkan belum setengahnya kali ya kemarin tuh.
Tapi suka deh sama ceritanya.
Setuju sama komentar di atas, diedit lagi prolog paragraf awalnya karena disitulah letak ketertarikan pembaca.
Overall, Ini kece!
Oh begitu yah, openingnya harus diperbaiki...
Replyterima kasih sarannya, akan saya coba nanti ditulisan saya selanjutnya... ^_^
Waduh, keluarin isi perutnya, kalau begitu ajak-ajak, he..he... (psikopat kedua) :p
ReplyMudah-mudahan saja Dito dan Ilo baik-baik di Jakarta, he..he...
He..he..., makasih..
ReplyCerita lanjutan di blog kamu juga bagus, bahkan lebih bagus dari yang ini, kalau tulisan saya bahasa masih kaku...
Wah, jadi sudah kenalan sama Dillah yah, kalau titip salam sama Dillah, he..he... :D
ReplyIya, adiknya Madara
Kakaknya Hashirama? mungkin saja itu... =D
Iya, tokoh utamanya berasal dari kota makassar.
ReplyYang namanya saudara, walau sering bertengkar tapi tetap saling sayang...
Silahkan dibaca lanjutannya... :)
He..he..., terima kasih...
ReplyIya tidak apa-apa, lain kali bisa ikut lagi :)
Awal ceritanya yah, kayaknya memang perlu diperbaiki. Maklum masih penulis pemula, masih banyak yang harus dipelajari...
ngena juga pas pisah sama si madara. gue jadi inget sama adik yang selalu berantem karena sesuatu haha. emang sering gitu ya kala adik sama kakak.
Replyeh iya, pengen ngasih masukan, cuma rapihin tulisan sih, jangan pake rata kiri, di justify lebih enak :D
Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon