Jakarta Love Story-Bagian 1

Project Cerbung
Genre: comedy, romance, adventure, friendship

Catatan: asal daerah dari tokoh dalam cerita ini adalah makassar, jadi ada beberapa dialog dalam cerita yang menggunakan logat makassar






‘Tok... tok… tok…’ suara ketukan pintu, “Ilo.. bangun miqi’ nak, sudah pagimi. Cepat mandi, sarapan baru berangkat ke sekolah!” teriak ibu sambil mengetuk pintu kamarku, “Iye Ibu, bangun maqa’ ini,” jawabku, teriakan dan suara ketukan pintu dari ibu membuatku terbangun. Aku yang masih setengah sadar segera bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi di lantai bawah sebelum didahului Madara, adik kecilku. Sayangnya kamarku berada di lantai dua dan kamar adikku di lantai bawah jadi dia yang selalu mandi duluan sedangkan aku harus bersabar menunggu di depan pintu kamar mandi.

“Ah, aku harus cepat sebelum Madara sampai duluan,” ucapku dalam hati. Dengan kecepatan kilat aku menuruni tangga, melalui jalan yang berliku untuk mencapai sasaran, kamar mandi rumahku. Dan lagi, Madara telah berada di depan pintu kamar mandi, masuk dan menutup pintu dan akupun sekali lagi harus menunggu orang itu dengan sabar. Urghh, dasar anak itu, setidaknya dia bisa membiarkanku untuk mandi lebih dulu. Aku ini kan kakaknya, lagipula setiap hari aku selalu bersabar menunggunya, sekali-sekali dia kek yang menunggu.

‘Hufh’ akirnya aku hanya bisa menghela napas bersabar, LAGI. Tapi tiba-tiba dia membuka pintu dan melihatku sambil tersenyum, “Oh, apa dia akan membiarkanku masuk? Tumben anak ini jadi baik kepadaku,” pikirku. Memang setiap hari kami selalu bertengkar dan mendepatkan hal-hal yang sepele, tapi kami sebenarnya sangat dekat dan saling menyayangi layaknya kakak dan adik. Bagaimanapun juga dia itu adik kecilku dan aku adalah kakaknya, senakal-nakalnya dia tapi dia masih memiliki hati yang baik nan polos dan tetap menghormatiku sebagai kakak yang menyayanginya.

 “Kak Ilo,” katanya sambil mengeluarkan senyum polosnya. Aku pun membalasnya dengan senyuman. Saat kakiku akan melangkah masuk ke kamar mandi, dia malah menjulurkan lidahnya meledekku dan segera menutup pintu. “Ha..ha..ha…,” aku dapat mendengar suara tertawanya yang puas mengerjaiku dari luar. “Hei Madara! kalau berani keluar sekarang, jangan bisanya hanya sembunyi,” teriakku kesal sambil memukul pintu. Aku memanggilnya Madara, tokoh yang paling aku benci di anime Naruto, kebetulan kami berdua sama-sama menyukai Naruto. Dasar anak ini, masih pagi sudah buat emosi. Menyesal aku tersenyum dan memujinya tadi.

Tak lama kemudian dia pun keluar dari kamar mandi. Sama seperti tadi, anak itu mengeluarkan senyum polosnya kepadaku, tapi kali ini aku membalasnya dengan tatapan sinis dan marah, “Lain kali akan ku balas kamu” ucapku dalam hati.

Selesai mandi aku kembali ke kamarku, memakai seragam sekolahku dan turun ke bawah menuju meja makan. Terlihat seluruh anggota keluargaku telah menikmati sarapannya. Ada ayah dan ibu, Rani kakakku, dan si kecil Madara. Akupun turut bergabung menikmati sarapan lezat buatan ibuku tercinta.

“Ilo, sebentar kamu yang antar adikmu ke sekolah yah!” perintah ibu disela-sela sarapanku. Entah kenapa perkataan ibu tadi membuatku jadi tidak selera makan. Mengantar si Madara ini ke sekolah? ih amit-amit deh.

“Kenapa harus aku yang mengantarnya, kan biasa ayah yang mengantar,” ucapku mencoba protes.

“Hari ini ayah ada rapat di kantor, tidak boleh terlambat,” kata ayah.

“Lalu kenapa bukan kak Rani saja?” ucapku lagi.

“Eh tidak bisa, hari ini aku ada praktek di kampus jadi aku harus cepat-cepat,” kata kak Rani.

“Iya Ito, sekali-sekali kamu yang mengantar tidak apa-apakan,” pinta ibu.

Hufh, Baiklah.”

**********

Selesai sarapan kamipun bersiap berangkat. Ayah dan kakak telah berangkat lebih dulu, sedangkat aku masih menunggu adikku menyiapkan buku pelajarannya, “Madara cepat sedikit dong, nanti kita bisa terlambat. Kenapa tidak dari tadi sih kamu menyiapkan bukumu” kataku. “Iya kak, ini juga sudah selesai, ayo kita berangkat,” kata Madara.

Aku dan adik berpamitan dengan ibu, mencium tangan ibu dan bersiap berangkat ke sekolah.

“Pegang yang erat yah, kakak akan balap. Gara-gara kamu juga sih terlalu lama, kalau tidak cepat kita bisa terlambat,” ucapku.

“Tenang saja kak, kita tidak akan terlambat,” kata Madara santai.

“Kamu yang enak karena diantar lebih dulu, tapi aku yang telat,” ucapku kesal.

“He..he…, iya deh. Kalau begitu cepat dong jalannya, supaya kakak tidak telat ke sekolahnya,” kata Madara.

“Iya tuan, ini juga juga saya mau cepat, makanya kamu pegangnya yang erat, nanti kalau jatuh aku juga kan yang repot,” ucapku lagi.

“Oke deh,” kata Madara semangat. Dia pun memeluk pinggangku dengan sangat kuat.

“Eh eh eh.., tidak begini juga kali, pegangnya jangan terlalu kencang, kan aku jadi susah napas,” kataku sambil melepas tangan Madara dari pinggangku.

“Katanya tadi suruh pegang yang kuat,” protes Madara.

“Hmph, ampun deh. Ya sudah, terserah kamu saja,”

Aku mengantar adikku ke sekolahnya, SMPN 6 Makassar. Saat ini Adikku menduduki bangku kelas tiga di SMP 6 Makassar. Sepanjang jalan Madara terus berceloteh tidak jelas, tentang gurunyalah, tentang teman kelasnyalah, tentang narutolah, saya hanya diam menanggapinya. Untungnya jarak dari rumah ke sekolah adik tidak terlalu jauh, jadi kami bisa cepat sampai dan saya tidak harus mendengar lama celotehannya itu, ha..ha…

“Oke, kita sudah sampai, cepat turun!” perintahku

“Pulangnya kakak jemputkan?” kata Madara sambil membuka helmnya.

“Tidak!” tegasku sambil mengambil helm yang diberi Madara.

“Nanti aku bilang ibu loh,” katanya mencoba mengancam.

“Eh…, masih kecil sudah berani mengancam. Coba saja, memangnya aku takut,” kataku melawan.

“Hmph, mblek,” sekali lagi Madara menjulurkan lidahnya meledekku. Aku juga tidak mau dikalah, aku pun menjulurkan lidahku membalas ledekannya. Dan si licik Madara akhirnya  berlari meninggalkanku. Tapi belum jauh dia berlari dia berbalik ke arahku, tersenyum dan memperlihatkan wajahnya yang lucu, “Da da.. kak Ilo, pulang jangan lupa jemput yah..,” teriak Madara sambil melambaikan tangannya. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyolnya. Aku menancap gas motorku, bergegas menuju sekolah sebelum pintu pagar sekolah tertutup.

**********

Akhirnya aku sampai di sekolah. Aku memarkir motorku dan pergi menuju ruang kelas. Sampainya di ruang kelas aku langsung duduk di bangkuku. Dalam ruang kelas terlihat murid-murid yang santai menikmati waktu luangnya, ada yang bermain gadget nya, ada yang rajin membersihkan ruang kelas dan yang membaca buku. Para siswi yang sibuk bergosip ria, dan ada anak itu, Dito.

“Halo bro,” kata Dito sambil menepuk pundakku, “Ada apa bro, kalau dilihat dari raut mukamu kayaknya lagi ada masalah.”

“Biasa,” jawabku singkat.

“Owh, Madara berulah lagi yah,” Dito menebak.

“Dasar anak itu yah, selalu saja membuatku kesal,” kataku kesal.

“Maklumi sajalah, namanya anak bungsu memang sering berulah” ucap Dito santai. Dito adalah sahabat dekatku. Kami telah bersama sejak di bangku SMP. Dan dialah yang paling tahu tentangku. Easy going, cerewet dan sok tahu, itulah sifatnya. Dia yang tahu semua masalahku dari dulu sampai, apalagi masalah cewek.

Pertama kali aku menembak cewek itu waktu kelas dua SMP dan yang menyuruhku adalah Dito. Sebenarnya pertama kali aku mengalami cinta monyet itu pas kelas enam SD, tapi karena malu aku hanya menyimpan perasaanku. Baru setelah SMP aku memberanikan diri untuk menembak gadis yang aku sukai, itupun karena paksaan Dito. Tapi dasar nasib, baru pertama nembak sudah langsung di tolak. Dan anak itu, Dito, bukannya turut prihatin malah menertawaiku. Aku begitu juga kan karena ulahnya. Dito banyak menceramahiku, memberiku solusi untuk mendapatkan pacar. Tapi tak satupun dari solusinya yang berhasil.

“Bro, prom night nanti jadi ikutkan?” Tanya Dito. Aku dan Dito adalah murid kelas tiga di SMA 1 Makassar, dan sebentar lagi kami akan meninggalkan sekolah yang telah kami jalani selama tiga tahun ini.

“Entahlah Dit, sebenarnya aku malas ikut acara perpisahan sekolah,” jawabku.

“Ayolah bro, inikan acara perpisahan sekolah kita, kapan lagi coba kita bisa ikut cara beginian,” bujuk Dito. “Nanti sama-sama yah kita perginya, aku yang jemput deh. Siapa tahu disana kita bisa kenalan sama cewek. Apalagi dalam acara pesta begitu, pasti cewek yang datang cantik-cantik semua. Kalau mau aku bisa kenalin deh, banyak cewek yang aku kenal di sekolah, nanti kamu tinggal pilih yang mana yang kamu suka,” Dito menggoda.

“Bro.. bro…, apa sih isi kepala kamu, memangnya yang ada di kepala kamu cuma cewek apa,” kataku. Dito hanya tertawa mendengarnya.

**********

Hari yang ditunggu pun tiba, Dito menepati janjinya untuk menjemputku dengan mobilnya, kami pergi ke acara prom night bersama. Kamipun sampai di tempat tujuan, para siswa mengenakan pakaian terbaiknya di acara tersebut, begitupun dengan guru-guru kami.

Tak banyak yang bisa kami lakukan di acara itu, hanya menonton tarian, nyanyian dan pentas kesenian lainnya yang ditampilkan. Dan kami juga disuguhkan beberapa video, banyak diantara  murid yang menangis setelah menonton video tersebut, maklum kami murid kelas tiga akan meninggalkan sekolah kami ini.

Aku banyak menghabiskan waktu hanya untuk bercanda dengan teman-temanku, ada Rio, Fahmi, Iqbal, Dito, Wawan, Udin, dan Anwar. Berkat merekalah jadi waktu tidak membosankan buatku.

Acara perpisahan sekolah hampir mencapai puncaknya. Saat ini akan diumumkan siswa berprestasi di sekolah kami, “Wah kira-kira siapa yah yang dapat?” tanya tanya Iqbal, “Yang pastinya ibu ketua osis kita, siapa lagi,” jawab Rio. Dan saat pak guru menyebutkan nama siswa berpestasi, nama Nurfadillah disebut, sesuai dugaan kami semua yang ada di acara malam itu. Kami semua yang hadir berdiri memberikan tepukan atas penghargaan yang diraih oleh Dillah.

Nurfadillah adalah siswi yang menjabat sebagai ketua osis di sekolah kami. Otaknya yang pintar dan sikapnya yang ramah membuatnya disukai oleh para guru dan seluruh siswa, begitupun juga denganku. Dillah adalah cewek yang selama tiga tahu ini aku sukai. Dan aku yakin bukan cuma aku saja yang suka dengan dia, pasti masih banyak yang tertarik sama gadis cantik, pintar dan baik seperti dia.

 Acara prom night akhirnya selesai. Ritual foto bareng pun bertebaran di mana-mana. Para siswa saling mengucapkan salam perpisahan. Aku dan teman gengku pun akan meninggalkan tempat ini, kami berjalan bersama keluar gedung.

Di luar gedung kami bertemu dengan Dillah yang asik bercerita dengan temannya, “Hey itu Dillah kan yang disana, Dillah!” teriak Rio. Rio adalah anggota osis di sekolah jadi otomatis dia dekat dengan ibu ketua osis kami. Akibat teriakan itu Dillah mendatangi kami, sebenarnya aku malu untuk berpapasan langsung dengannya, bahkan kalau bisa kami jangan bertemu sekalian, aku tidak mau memperlihatkan wajahku di depannya. Tapi gara-gara anak itu si Rio membuatku harus bertemu dengan Dillah.

“Hay Dillah,” sapa kami. Aku juga menyapanya dengan suara pelan karena malu.
“ Hay semua,” jawab Dillah.

“Wah selamat yah, kamu terpilih menjadi siswa berprestasi di sekolah,” ucap Dito.

“Terima kasih,” jawabnya sedikit malu.

Aku melihat wajah Dillah, dia terlihat lebih manis saat malu, membuatku menjadi salah tingkah. Saat itu Dito mendorongku pelan, mencoba menggodaku karena salah tingkahku tadi.

Aku pulang diantar lagi sama Dito, dia telah berani membawaku pergi jadi dia juga harus bertanggung jawab membawaku kembali ke rumah. Di tengah perjalanan dia mencoba menggodaku lagi, “Cie cie Ilo, tadi bertemu dengan Dillah. Bagaimana rasanya tadi berpapasan langsung dengan Dillah, hi..hi…,” kata Dito cengengesan, orang itu, suka sekali menggodaku. “Ah, jangan banyak bacot deh kamu. Tadi juga, apaan sih kamu main dorong-dorong segala, bikin aku malu tahu,” kataku sedikit kesal, Dito hanya tertawa mendengarnya. Sikap Dito ini bukan tanpa sebab, tapi karena dulu aku nembak Dillah.

Aku dan Dillah pernah sekelas waktu tahun pertama SMA, dari situ aku bisa mengenalnya. Dan tanpa terasa aku mulai memendam perasaan terhadapnya. Pas naik kelas dua aku memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku kepada Dillah, sayanngnya dia menolak dengan alasan dia ingin lebih berkonsentrasi dengan pendidikannya dan aku menghargai alasannya itu. Dan kamipun tetap menjadi teman seperti biasa, walau sebenarnya aku selalu menghindar dari Dillah karena malu.

Setelah 40 menit perjalanan akhirnya aku sampai di rumah, dengan lemas aku membuka pintu rumahku dan disambut hangat oleh ibu.

“Pulangmi tauwa anakku, bagaimanaji tadi acaranya, bagusji?” tanya ibu.

“Biasaji. Seperti acara perpisahan sekolah biasa,” jawabku.

“Oh…., sini qi’ pale dulu nak, ada yang mau ibu bicarakan,” kata ibu sambil menarikku, menyuruhku duduk tenang, sepertiya dia ingin membicarakan hal yang serius.

“Deh ibu, baru qi’ pulang, istiahat dulu baru ganti baju, kenapa kah?” tanyaku penasaran

“Eh begini, mau qa’ kasih masuk qi’ kuliah di Jakarta di Universitas Indonesia (UI). Ibu sudah siapakan tiket ke Jakarta, jadi lusa berangkat miqi’ nak ke sana,” kata ibu semangat.

“Ibu sembarangannya, untuk apa kuliah jauh-jauh di Jakarta, bisa tonji juga di sini kuliah,” kataku protes.

“Ka biarmi. Bangga tong juga itu ibu kalau ada anaknya lulusan Universitas Indonesia,” kata ibu memaksa.

“Edede.. Ibu, sok-soknya mau kasih masuk qa’ ke UI,” ucapku dalam hati.

“Cepat  miqi’ nak naik ke kamar ta’, siapkan memangmi barang-barang ta’ yang mau di bawa,” kata ibu.

Aku pun naik ke kamar, memilih barang yang akan aku bawa ke sana. Sebenarnya aku tidak ingin kuliah di Jakarta tapi karena itu perintah orang tua, dan mereka juga telah menyiapkan tiket jauh hari, jadi aku tidak bisa menolak. Saat sibuk-sibuknya mengemas, Madara datang ke kamar dan mencoba mengangguku lagi.

“Katanya kakak akan kuliah di Jakarta yah, wah asik dong,” kata Madara.

“Sok tahu kamu,” jawabku.

“Nanti kalau kakak pergi kamarnya buat aku yah,” pinta Madara.

“Ini anak kecil, sini kamu yah,” kataku sambil mengejar Madara yang berlari kegirangan.

Saat itu aku melihat isi kamarku, kamar yang telah aku tempati sejak kecil. Melihat seluruh barang yang mengisinya. Setiap barang yang ada di kamar memiliki kenangan tersendiri. Dan mulai lusa aku tidak akan menempati kamar ini lagi. Aku mengambil smartphone ku untuk menghubungi Dito, “Bro, besok ketemuan yah, di tempat biasa, ajak anak-anak lain juga sekalian.”

**********

Keesokan harinya aku bertemu dengan teman-temanku dengan niat ingin berpamitan dengan mereka. Kami telah mengatur waktu untuk bertemu di cafe tempat nongkrong kami yang biasa. Disana telah menunggu Wawan, Rio, Fahmi dan Dito. Kami menghabiskan waktu bercerita sambil menikmasti snack yang kami pesan. Setelah puas, kamipun bersiap meninggalkan cafe, tapi sebelum pergi aku ingin berpamitan kepada temanku.

“Oh iya, sebelum pergi ada yang ingin aku bicarakan,” kataku.

“Ada apa? kenapa mukamu serius begitu?” Tanya Rio.

“Begini, besok aku mau pergi ke Jakarta, aku akan melanjutkan pendidikanku di sana,” jawabku.

“Kamu akan kuliah di Jakarta?” tanya Fahmi keheranan.

“Iya, tepatnya di Universitas Indonesia, itu karena perintah orang tuaku juga,” jawabku lagi.

“Yah sudah, mau bagaimana lagi. Yang penting jangan lupakan kami di sana. Jangan mentang-mentang sudah jadi anak Jakarta kamu justru melupakan kami yang ada di Makassar,” kata Wawan.

“Pastinya bro…” kataku sambil tersenyum.

Setelah berpamitan kami meninggalkan cafe. Rio, Wawan dan Fahmi pulang kerumahnya masing-masing sedangkan Dito ikut bersamaku ke rumah. Sebenarnya yang akan ke Jakarta bukan cuma aku sendiri, tapi Sahabatku Dito juga akan ke sana. Kami akan ke Jakarta bersama. Hari ini dia akan membantuku mengemas barang yang mungkin akan kami perlukan di sana. Beda denganku yang belum pernah ke Jakarta, Dito telah dua kali ke sana dalam rangka liburan keluarga jadi dia lebih tahu bagaimana suasana kota Jakarta.

**********

Keesokan paginya aku bersiap menuju bandara, mengucapkan salam perpisahan kepada seluruh anggota keluarga. Perasaanku sedih karena harus meninggal keluargaku, ini pertama kalinya aku berpisah jauh dari keluargu. Si kecil Madara juga menangis, tidak ingin melepasku pergi, aku hanya dapat memberinya senyuman terakhir sebelum meninggalkannya menuju kota Jakarta. “Padahal sebelumnya dia yang paling semangat perihal kepergianku, dan sekarang dia malah menangis,” ucapku dalam hati, sambil mengelus kepalanya.

“Tenang saja, kak Ilo tidak lama akan lama di sana, nanti kakak juga akan kembali, sekarang kamu diam yah,” kataku kepada Madara. Aku mengusap pipinya yang basah karena air mata. Aku pasti akan merindukan kejahilannya ketika disana nanti.

Ayah mengantarku ke bandara Hasanuddin dan disana telah menunggu Dito. Kami menaiki pesawat yang akan kami tumpangi ke Jakarta. Setelah menempuh perjalanan jauh kamipun akhirnya sampai di Jakarta. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di kota ini.

Ibukota Jakarta, kota metropolitan yang kata orang-orang sih kehidupan di Jakarta itu keras, dan selama beberapa tahun ke depan kami akan tinggal di kota ini. Awalnya aku sempat ragu untuk kuliah di kota ini. Hidup di kota Jakarta sangat sulit, apalagi untuk kami yang hanya menumpang tinggal di kota metropolitan ini.

“Bagaimana menurutmu kota Jakarta, WELCOME TO JAKARTA,” kata Dito sambil membentangkan kedua tangannya menyambut kota metropolitan ini.

Dan petualangan kami pun di kota Jakarta akan segera di mulai.



Bersambung…… 

Kalau mau baca kelanjutan ceritanya silahkan berkunjung  KE SINI... :)

Previous
Next Post »

14 komentar

Write komentar
Unknown
AUTHOR
26 January 2016 at 06:28 delete

Alhamdulillah saya baca sampe ending...
Keren...
Suka dgn tulisan kayak gini..

Saya kasih masukan gpp yaa^^
Openingny mesti dibumbuhi lagi ya... krn faktor penentu yg paling utama adalah ketika paragraf awal...
Cerita mengalir...saya pun menikmatinya ^^

Salam literasi ya
Ditunggu tulisan selanjutnya^^

Reply
avatar
Jefferson L
AUTHOR
26 January 2016 at 07:16 delete

wahahaha... rese juga si dito ceng-cengannya. hajar aja udah! keluarin isi perutnya! jual organ tubuhnya ke pasa gelap! *psikopat banget*
hati-hati, jakarta tak pernah ramah bagi pendatang. ini serius..

Reply
avatar
Rifqi Banyol
AUTHOR
30 January 2016 at 01:17 delete

Bagus mbak ceritanya,,
jadi grogi mau lanjutin ceritanya,, hehe

Reply
avatar
Niki s
AUTHOR
30 January 2016 at 18:34 delete

adeknya madara, abangnya hashirama y? haha
sebenarnya si dillah nolak lu itu karena suka sama gw
hahaha

Reply
avatar
31 January 2016 at 00:27 delete

aku nimbrung komentar disini ya kak.
suka sama ceritanya.
tapi iya, openingnya diperbaiki lagi.
karena saya rasa opening ini sangat menentukan apakah pembaca akan tertarik atau tidak di cerita ini.

semangat!!!

Reply
avatar
muthihaura
AUTHOR
1 February 2016 at 16:56 delete

Ilo dan madara, jarang akur, tp ttap aja klo terpisah gt jd sedih. persis kaya aku dan adikku. haha.

baca dialek makassar gt jdi keinger tman tman PJTL asal makassar. haha jd curcol. okee, mw lnjut baca k bgian dua dlu deh

Reply
avatar
Awaldi Rahman
AUTHOR
2 February 2016 at 09:42 delete

Wuiiih bener aja ceritanya jadi keren gini.
Maafkan daku yang keluar dari project di tengah jalan ini mbak.
Bahkan belum setengahnya kali ya kemarin tuh.
Tapi suka deh sama ceritanya.
Setuju sama komentar di atas, diedit lagi prolog paragraf awalnya karena disitulah letak ketertarikan pembaca.
Overall, Ini kece!

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 00:03 delete

Oh begitu yah, openingnya harus diperbaiki...

terima kasih sarannya, akan saya coba nanti ditulisan saya selanjutnya... ^_^

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 00:09 delete

Waduh, keluarin isi perutnya, kalau begitu ajak-ajak, he..he... (psikopat kedua) :p

Mudah-mudahan saja Dito dan Ilo baik-baik di Jakarta, he..he...

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 00:24 delete

He..he..., makasih..
Cerita lanjutan di blog kamu juga bagus, bahkan lebih bagus dari yang ini, kalau tulisan saya bahasa masih kaku...

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 00:28 delete

Wah, jadi sudah kenalan sama Dillah yah, kalau titip salam sama Dillah, he..he... :D

Iya, adiknya Madara
Kakaknya Hashirama? mungkin saja itu... =D

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 00:36 delete

Iya, tokoh utamanya berasal dari kota makassar.
Yang namanya saudara, walau sering bertengkar tapi tetap saling sayang...

Silahkan dibaca lanjutannya... :)

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 00:41 delete

He..he..., terima kasih...
Iya tidak apa-apa, lain kali bisa ikut lagi :)

Awal ceritanya yah, kayaknya memang perlu diperbaiki. Maklum masih penulis pemula, masih banyak yang harus dipelajari...

Reply
avatar
lintas
AUTHOR
17 February 2016 at 03:07 delete

ngena juga pas pisah sama si madara. gue jadi inget sama adik yang selalu berantem karena sesuatu haha. emang sering gitu ya kala adik sama kakak.

eh iya, pengen ngasih masukan, cuma rapihin tulisan sih, jangan pake rata kiri, di justify lebih enak :D

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon