‘Kring… Kring…’ suara
jam weker yang berbunyi, membangunkanku dari tidur lelapku. Sudah pagi, aku
harus bangun dan siap untuk bekerja. Mulai hari ini aku akan bekerja sebagai
seorang guru SMA di daerah Kanto, Jepang.
Sebenarnya menjadi seorang guru adalah pekerjaan tidak
terlalu aku sukai, lagipula aku juga tidak begitu pintar untuk mengajar
murid-murid di sekolah. Tapi apa boleh buat, itu satu-satunya cara agar aku
bisa mendapatkan uang. Selama ini aku hanya bekerja part time, pernah bekerja sebagai pelayan toko, pengantar makanan
dan juga sebagai staff waiter di sebuah restoran.
Sayangnya bekerja part
time mendapat upah yang sangat sedikit, belum lagi pekerjaan tersebut
sangat tidak cocok buatku, harus bersikap manis kepada pelanggan. Kalau pelanggan
menginginkan yang macam-macam aku harus sabar menanggapinya, dan juga bekerja
menjaga sampai larut malam, tidak cocok denganku yang pemalas dan cuek dengan
keadaan sekitar. Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus yaitu menjadi
seorang guru, walaupun gaji juga tidak cukup buatku yang memiliki banyak hutang
tapi itu lebih bagus daripada bekerja part time.
Saat ini prioritas utama dalam hidupku adalah mencari uang,
uang yang banyak. Aku harus melunasi hutang-hutangku yang segudang, hutang yang
kudapat dari hasil tipu daya temanku, seorang teman yang tidak bertanggung
jawab yang memberikan semua bebannya kepadaku. Bahkan untuk melunasi hutang
tersebut aku terpaksa menjual rumahku dan sekarang aku harus tinggal di sebuah
apartemen kecil, tapi hal tersebut belum cukup.
“Dasar sial hidupku ini.” Aku selalu berfikir begitu. Hidupku
yang baru bersusia 25 tahun ini sudah penuh dengan masalah. Sudah kena tipu,
kehilangan rumah, dan sekarang harus dikejar-kejar dengan penagih hutang yang
menakutkan.
***
Fajar sudah membentang, aku harus cepat berangkat ke
sekolah, jangan sampai terlambat di hari pertama kerja. Aku berangkat ke tempat
kerja yang jaraknya cukup jauh dari apartemenku. Aku harus menaiki busway
agar sampai ke tempat tujuan di SMA Gokusen, tempatku bekerja. “Nama sekolahnya
saja mirip seperti judul film jepang, apa keadaan di sana juga sama? hih… bikin
merinding saja,” pikirku.
Tak lama kemudian aku akhirnya sampai di sana. Aku menghela
napas berat, langkahku terasa berat untuk masuk ke gerbang sekolah. Tapi ini
adalah tugas yang harus aku jalani dan aku memberanikan diriku untuk masuk,
“Hahh… ayo Tachibana Michi, semangatlah!” Kataku sambil mengepal tanganku.
Aku berjalan pelan sambil melihat note di handphone ku. Baru
masuk beberapa langkah seorang murid telah menabrakku, membuat handphone jatuh dari tanganku. Tapi
bukannya minta maaf, dia malah asik bercanda dengan temannya, “Dasar anak-anak
jaman sekarang tidak memiliki sopan santun,” ujarku sambil memungut hp-ku, “Minta
maaf sedikitkan tidak ada salahnya” sambungku dengan nada yang kesal.
Aku melanjutkan langkahku sambil melihat-lihat keadaan
sekitar sekolah, melihat murid-murid dan beberapa guru yang berjalan menuju
gedung sekolah. Tiba-tiba, ‘Tak’ sebuah kaleng minuman kosong yang entah
darimana asalnya menjatuhi kepalaku. Aku melihat di sekitarku, mencari siapa
sang pelaku kaleng kosong ini tapi tidak ada yang mencurigakan, “Apa-apaan ini,
memangnya kaleng kosong bisa jatuh dari langit dengan sendiri,” Kataku sambil
kesal. ‘Tak’ dan lagi, kaleng minuman kosong menjatuhi kepalaku.
“Siapa itu?” kataku dengan nada marah sambil mencari-cari
tersangka. Aku melihat ke atas, terlihat seorang murid yang memakai jaket hitam
sedang berdiri di atas gedung sekolah. Dialah si pelaku kaleng kosong, yang menendang
kaleng tersebut ke bawah hingga menimpa kepalaku. Aku menatapnya dengan harapan
dia akan meminta maaf, tapi dia hanya dia menatapku lalu pergi begitu saja.
“Apa-apaan dia itu,” ujarku. Itulah sebabnya kenapa aku tidak
begitu suka menjadi seorang guru, harus berhadapan dengan murid-murid SMA yang
perilakunya diluar kendali. Dengan hati yang kesal aku melangkah maju menuju
gedung sekolah.
***
Aku bertemu dengan kepala sekolah, berbincang-bincang
dengannya. Aku diberi amanah menjadi wali kelas di kelas 2-3 menggantikan guru
pensiunan pak Matsumoto. Aku pergi menuju kelasku, melihat keadaan kelas
sebelum bel sekolah berbunyi.
Sampainya di depan ruang kelas mataku langsung terpusat pada
seorang murid laki-laki memakai jaket hitam yang duduk di bangku belakang dekat
jendela, “Diakan yang melempariku kaleng minuman kosong dari tadi,” pikirku.
Teman-teman sekelasnya menjahili dan mengganggunya, tap dia tidak
memperdulikannya, dia hanya diam dan menatap keluar jendela.
Tak lama kemudian bel sekolah pun berbunyi, murid-murid
bergegas masuk dalam kelas begitu juga denganku. Aku memperkenalkan diriku di
depan murid-murid dan mereka menerimaku dengan baik, tapi tidak dengan bocah
itu. Bocah itu tidak sedikitpun berbalik melihatku pada saat aku memerkenalkan
diri, dia melamun melihat keluar jendela, “Memang apa yang dia lihat di luar
jendela, sampai-sampai aku ini jadi tidak terlihat olehnya,” pikirku.
“Hei kamu, yang memakai jaket hitam,” tegurku kepadanya, “Sebaiknya
kamu melepaskan jaketmu, inikan sedang belajar jadi lebih baik kalau kamu hanya
memakai seragammu,” kataku terhadap bocah itu. Dan lagi, dia hanya diam
menatapku dan kembali memalingkan wajahnya, setelah itu dia baru membuka jaketnya dan langsung berbaring di atas mejanya.
“Hufh” teman-teman sekelasnya menghela nafas melihatnya dan
berbalik kembali memusatkan perhatiannya kepadaku.
“Sepertinya teman-teman sekelasnya tidak begitu menyukainya. Yah sudahlah, jangan terlalu
memperdulikannya, setidaknya dia mendengarkan kata-katau untuk membuka jaketnya
di kelas,” pikirku. Aku pun mulai mengabsen muridku satu per satu.
”Masahiro Riu!”
“Hai.”
“Nakayama Yuuta!”
“Hai.”
“Akiko Ui!”
“Hai.”
“Takaya Shouta!” Tidak ada yang menjawab, “Takaya Shouta!”
Aku memanggil ulang tapi tetap tidak ada jawaban, dan akhirnya seorang murid
mengangkat tangannya, seorang murid yang duduk di bangku belakang kelas dekat
jendela, ia mengangkat tangannya sambil berbaring di atas mejanya.
“Ohh, jadi
bocah tidak tahu sopan santun itu bernama Takaya Shouta, memangnya dia itu bisu
apa, dia tidak menjawab panggilanku, bahkan sejak tadi dia tidak mengeluarkan
sepatah katapun” kataku dalam hati. Akupun melanjutkan pekerjaanku, mengajar
murid-murid kelasku.
Selesai mengajar aku langsung pulang, meninggalkan ruang
kelas menuju ke ruang guru. Mengemas barang-barang di meja, dan berdiri pergi
meninggalkan ruang guru menuju gerbang sekolah. Dalam perjalanan menuju gerbang
aku melihat Takaya Shouta, memakai jaket hitamnya berjalan sendiri menuju
gerbang sekolah.
Setahuku murid-murid SMA setelah selesai sekolah tidak
langsung pulang ke rumah mereka. Mereka pasti mengurus extrakurikuler yang mereka
masuki. Setidaknya kalau langsung pulang kerumah mereka pasti pergi dengan
teman-temannya, satu atau dua teman cukup. Tapi tidak dengan dia. Sepertinya dia tidak memiliki teman di sekolah. Yah sudahlah, itu bukan
urusanku. Langsung saja aku melanjutkan perjalanku, menuju Home Sweet Home,
apartemen kecil.
Tak lama dalam perjalanan pulang aku akhirnya sampai di
tempat tujuan, masuk ke dalam dan menaiki lift meuju lantai tiga tempat
apartemenku. Saat menunggu lift turun, seorang wanita datang ke arahku dengan
tujuan untuk menaiki lift denganku, dia adalah Ayame Yuuna, tetangga yang
tinggal di sebelahku.
Bisa dikatakan aku ssedikit penasaran dengan dia. Dia tidak
pernah terlihat berbaur dengan tetangga sekitar, walaupun aku juga begitu. Apa
dia mirip denganku yang cuek dan pemalas ini, tapi kalau diperhatikan dia
sepertinya tidak begitu. Setahuku dia bekerja sebagai salah satu pelatih
disekolah olahraga Kanto.
Dia memang cukup rajin bekerja tapi sikapnya sedikit
misterius. Pernah suatu hari aku melihatnya tengah malam keluar dari apartemen
dengan diam-diam. Dan keesokan paginya dia pulang dengan membawa sebuah tas
yang dia pegang dengan sangat erat dan tergesa-sega masuk ke rumahnya. Dan
bukan hanya sekali, tapi beberapa kali aku melihatnya seperti itu. Bukan cuma
itu, disekitar tubuhnya sering terlihat bekas luka yang cukup parah.
Apakah dia mendapatkan luka itu dari pekerjaannya sebagai
seorang pelatih? Tapi tidak mungkin akan separah itu, pasti hanya luka memar
biasa, hah sudahlah, aku banyak mencampuri urusan orang lain,
“Konichiwa,” aku menegurnya, dia hanya membalasnya dengan
senyuman
“Dilihat darimana pun wanita ini memang terlihat misterius. Dia
seperti menyembunyikan sesuatu. Sudahlah… itu bukan urusanku,” ucapku dalam.Dan
kamipun menaiki lift bersama-sama.
***
Beberapa hari telah berlalu. Amenjalani keseharianku seperti
biasa, mengajar, makan, tidur, membaca manga, tidak ada yang spesial dan
ketegangan dalam hidupku karena aku memang menghindarinya. Sifatku yang malas
yang selalu menghindari konflik membuatku manjalani kehidupan datar dan aku
menyukai hal tersebut, sampai suatu ketika kehidupan berubah seratus delapan puluh
derajat.
Sekelompok orang yang entah dari mana asal mereka mendatangi
apartemenku, mereka mengaku sebagai penagih hutang.
“Tachibana-san?” salah satu dari mereka bertanya kepadaku,
seorang pria memakai kemeja putih polos, sepertinya dia pemimpin dari sekelompok
orang ini.
“Ya, itu adalah namaku, Tachibana Michi,” jawabku dengan
ketakutan, “Kalian siapa?” lanjutku.
“Langsung saja
Tachibana-san, kau mempunyai hutang kepada kami dan kamu harus melunasinya. Kami
telah memberikanmu waktu yang cukup lama jadi sekarang kamu harus membayar kami,”
kata pria berkemeja putih itu.
“Haduh, bagaimana yah, saat ini aku belum mendapatkan uang.
Sekarang aku telah bekerja sebagai guru jadi setelah mendapatkan gaji aku akan
membayar kalian. Terus menerus sampai hutangku lunas, jadi kalau bisa tolong
berikan aku waktu lagi,” kataku dengan memelas.
“Sekarang atau tidak sama sekali” lanjut pria itu mengancam.
Aku belum mengerti apa maksudnya sampai dia memberikan isyarat kepada rekannya
dan seketika mereka mengepungku dan memukulku. Aku harus membayar hutangku,
kalau tidak berarti mati.
“Mau bagaimana lagi, biarpun kalian akan membunuhku sekarang
aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku memang belum punya uang,” kataku
sambil menahan rasa sakit dari bekas pukulan mereka.
Pria menatapku, dan sambil tersenyum dia berkata “Baiklah,
kalau kamu belum bisa membayarnya kamu harus bekerja kepadaku. Kamu bahkan
tidak perlu membayar hutangmu, hutangmu akan lunas dengan persyaratan kamu
bekerja denganku dan kamu tidak perlu meninggalkan pekerjaan yang sekarang. Bahkan
kami akan memberikanmu gaji dalam jumlah yang besar, bagaimana? apa kamu akan
menerika tawaran kami?”
Aku terdiam sejenak, pekerjaan apa yang hendak mereka
berikan kepadaku. Aku mulai berfikir yang tidak-tidak, apakah sebegai pengedar
barang ilegal? hah, tidak-tidak aku tidak mau berurusan dengan polisi, “Pekerjaan
seperti apa itu, apa sebagai pengedar barang illegal atau semacamnya?” tanyaku.
“Ha ha, tentu saja bukan,” jawab pria itu
“Kalau begitu pekerjaan sepeti apa?” tanyaku lagi.
“Nanti kau akan tahu sendiri,” kata pria itu sambil
mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya, “Ini adalah kontrak kerja, kalau
mau berminat silahkan menandatangani kontrak ini.”
Aku membaca kontrak yang diberikan, dalam kontrak itu
tertulis namaku. Tidak ada yang bermasalah dengan kontrak itu, seperti kontrak
kerja yang biasa. Daripada mati disini lebih baik aku menuruti perkataannya,
mungkin pekerjaan yang ditawarkan hanya pekerjaan biasa dan aku pun langsung
menandatangani kontraknya.
“Oke, baiklah. Nanti kami akan menghubungi dan menjemputmu
jika waktunya tiba. Terima kasih kasih atas kerja samanya,” kata pria itu sambil
tersenyum. Dan merekapun pergi.
***
Aku mulai melanjutkan aktifitasku, mangajar disekolah. Beberapa
hari tidak ada panggilan pekerjaan dari mereka, membuat aku sedikit lega. Dan pada
akhirnya suatu malam mereka menghubungiku, mengatakan bahwa pekerjaanku akan
dimulai malam ini dan merekapun menjemputku.
Aku disuruh menaiki mobil yang telah mereka sediakan. Tapi
setelah aku masuk dalam mobil, mereka langsung
menutup mataku dengan kain hitam. Mereka tidak ingin aku mengetahui
tempat tujuan mereka.
“Mau kemana kita?” tanyaku.
"Ke tempat kerja, mau ke mana lagi,” jawab pria yang sedang
mengendarai mobil tersebut.
“Mamangnya pekerjaan seperti apa?” tanyaku lagi karena penasaran.
“Nanti kamu akan tahu sendiri.” jawab itu santai. Aku jadi
tambah penasaran, kenapa mereka tidak mau memberitahukannya.
Tak lama kemudian kami tiba di tempat tujuan. Dengan mata
tertutup aku dibawa disuatu tempat, setelah sampai penutup mataku dibuka. Aku
melihat ada empat orang yang sedang menunggu di sana. Aku terkejut melihat
mereka, dua diantara mereka adalah orang yang aku kenal, salah satunya seorang
anak laki-laki yang memakai jaket hitam sedang duduk dilantai menyandarkan
dirinya di dinding.
Yah, dia adalah Takaya Shouta, murid kelasku. Dan yang
satunya lagi adalah seorang wanita, Ayame Yuuna, tetangga sebelahku. Aku
menghampiri Ayame, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, “Apa yang kamu
lakukan di sin, apa kamu juga bekerja dengan mereka,” tanyaku kepada Ayame
Yuuna. Wanita pendiam itu akhirnya berbicara kepadaku.
“Kamu juga dipaksa menandatangani kontrak kerja? dasar
mereka ini,” kata wanita itu tegas.
“Apa maksudmu, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku
kepadanya.
“Kamu masih baru disini, jadi pasti bingung apa yang sebenarnya
terjadi. Biar saya jelaskan kepadamu.” Wanita itu pun mulai menjelaskan apa
yang sebenarnya terjadi, “Kita semua yang telah menandatangi kontrak akan
mengikuti sebuah permainan, permainan yang mereka ciptakan untuk kepentingan
pribadi mereka. Kamu dan Murata-san baru pertama kali mengikuti permainan ini
jadi kamu tidak mengetahui permainan seperti apa yang akan kita hadapi,” jelasnya.
“Hah? permainan katamu? setahuku, aku di bawa ketempat ini
untuk bekerja, bukan untuk memainkan permainan seperti yang kamu katakana tadi,”
kataku kepada perempuan itu.
“Kamu belum tahu saja. Nanti kamu akan terkejut setelah
mengetahui permainan seperti apa ini,” balas Ayame.
“Memangnya permainan seperti apa yang akan kita mainkan?”
tanyaku. Wanita itu hanya dia menatapku.
Tidak lama kemudian kami menunggu, beberapa orang memasuki
ruangan tersebut. Membawa sebuah kotak besar yang membuatku bertanya-tanya apa
isi kotak itu. “Apa kalian semua sudah siap.” Terdengar suara yang keluar dari
sebuah speaker yang ada dalam ruangan tersebut. Beberapa orang yang dating tadi
langsung membuka kotak besar itu.
Aku terkejut melihat isi kotak itu yang ternyata adalah sebuah
senjata mematikan yang bertumpuk. Dengan serentak Ayame Yuuna, Takaya Shouta
dan satu pria yang tadi juga menunggu di ruangan ini memilih dan mengambil
senjata yang ada di dalamnya.
“He..hei, apa ini?” kataku sedikit takut.
“Diamlah dan cepat ambil senjatanya,” paksa pria yang
membawa kotak tadi sambil menodongkan senapan kearahku.
“Sebaiknya kamu mengikuti perkataan pria itu,” kata Ayame
dengan mimik muka yang serius. Aku pun mengambil salah satu senjata itu, sebuah
senapan yang dengan satu tembakannya dapat menghilangkan nyawa seseorang.
Aku merasa takut, tanganmu tampak gemetaran memegang senapan
itu, “Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganmu,” kata Ayame yang hendak
menenangkanku, “Tidak akan terjadi apa-apa dengamu, kita semua akan selamat,
karena kita memiliki dia,” kata Ayame sambil menunjuk ke arah Shouta yang terlihat
memainkan senapan yang dia pegang.
“Baiklah, sebentar permainan akan segera dimulai, jangan
mengecewakanku. Shouta-kun, lakukanlah yang terbaik seperti yang kamu lakukan
selama ini.” Suara keluar dari speaker itu lagi. “Tanpa disuruhkan aku pasti
akan melakukannya, ini adalah Game-ku, aku pasti akan menang,” Kata Shouta
dengan percaya diri.
Mata kami berlima ditutup, kami dibawa ke mobil menuju ke
arena permainan, aku duduk dimobil tanpa mengetahui apa yang telah menantiku,
sebuah permainan yang mematikan dan aku telah terjebak di dalamnya.
Bersambung...
Kelanjutan cerita dapat dilihat DI SINI
Sign up here with your email

4 komentar
Write komentarMakin penasaran nih sama cerita selanjutnya, jangan lama lama ya update yg part 2 nya! Ditunggu loh;) hehee
ReplyHe..he..., makasih sudah mau mampir....
ReplyPart 2 sementara berjalan, mohon doanya semoga bisa cepat2 dipostingkan....
Iyaa, ditunggu lohh! :) Semangaat teruus yaa jgn pantang nyerah!!
ReplyIya, harus tetap semangat menulisnya...
ReplyTerima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon