Unexpected Friend - Part 1




Ding…dong…ding…dong….Bel sekolah telah berbunyi, murid-murid mengemas perlengkapan mereka dan meninggalkan ruang kelas dan bebepara murid lain bercerita satu sama lain. Tampak dalam ruang kelas Akio yang sedang menaruh buku2 dalam tasnya dan berjalan sendiri meninggalkan ruang kelas. Tanpa menoleh kiri dan kanan ataupun untuk menyapa teman kelasnya, ia hanya berjalan sendiri tanpa berkata sepatah katapun.


Akio berjalan meninggalkan sekolah menuju halte bis, duduk sendiri menunggu kedatangan bis, menaiki bis mengambil tempat di pojok kanan belakang, sepanjang jalan ia hanya menikmati pemandangan luar melalui jendela hingga sampai di tempat tujuan. Akio turun dari bis dan berjalan menuju apato tempat ia tinggal.

Sampainya di apato Akio langsung menuju kamar, melempar tasnya dan membuang dirinya di kasur, berbaring sejenak sambil mengotak atik smartphonenya memeriksa apakah ada pesan yang dikirimkan orang tuanya. Setelah itu dia bangkit dari kasur berjalan memuju kulkas mengambil makanan dan sambil menonton TV ia menikmati makan siangnya dan kembali ke kamar, mengotak atik komputernya.

Itulah keseharian Akio Kenji, seorang siswa biasa di SMA Fumio.

**********

Hah, akhirnya bel berbunyi, pelajaran yang membosankan ini akhirnya berakhir. Aku sebaiknya bergegas pulang. Aku berjalan sendiri menuju bis, sampainya di apato aku langsung berbaring di kamarku. “Apa ada pesan dari okaa-san?” aku memeriksa message di handphone, “Belum ada pesan, kira-kira apa yang dilakukan okaa-san sekarang yah?” 

Aku berjalan mengambil makanan di kulkas dan menonton TV sambil menikmati makan siangku, “Seperti biasa, tidak ada yang menarik.”

Setelah menghabiskan makananku aku kembali ke kamar, dan seperti biasa, aku membuka komputerku, melihat apa yang bisa kulakukan dengan sebongkah teknologi ini. Aku menghabiskan waktu tiga jam di depan computer, mataku terasa sedikit perih, leherku terasa tegang. Aku berbaring sejenak merefleksikan otot-ototku. Tidak ada yang bisa kulakukan di ruangan yang kecil ini sendiri.

Aku tinggal sendiri di apato yang kecil ini, aku berasal dari Okinawa, dikarenakan ingin melanjutkan pendidikanku, orang tuaku mengirimku ke Nagoya dan memasukkanku ke SMA Fumio, dengan alasan sekolah itu cocok denganku. SMA Fumio cukup terkenal dengan extrakurikulernya di bidang sport. Tim baseball dan basket adalah tim andalan di sekolah tersebut. Selain itu prestasi dalam bidang akademik juga cukup menunjang di sekolah ini. Bisa dikatakan SMA Fumio ini telah mencuri hati orang tuaku.

Aku sebaiknya keluar berjalan-jalan sejenak. Aku berjalan keluar menghirup udara segar, aku berjalan menuju lapangan baseball yang terletak di dekat apato tempat tinggalku, menyaksikan pertandingan yang sedang berlangsung.

Aku melihat diantara mereka teman kelasku, Hideki Sato, seorang anak yang energic dan easy going, dia salah satu satu anggota club baseball di SMA Fumio, dia memang menyukai baseball,Aah, Hideki-kun, sugoi ne,” ucapku dalam hati. Aku memperhatikan cara bermain Hideki, dia memang sangat jago bermain baseball. 

Aku menyaksikan pertandingan itu sampai selesai, tim Hideki memenangkan pertandingan. Hari pun sudah mulai gelap, aku sebaiknya pulang.

“Oi, Akio,” seseorang berteriak memanggilku. Aku berbalik kebelakang, Hideki melambaikan tangannya, aku hanya menunduk kepadanya dan kembali berjalan.

“Oi Akio, chotto matte kudasai,” Hideki berlari ke arahku.

Hideki menghampiriku dan menaruh lengannya dipundakku, dia memang seperti itu kalau bertemu temannya, “matte Aki-chan, kenapa kamu terburu-buru sekali.”

“Ada apa?” aku bertanya kepada Hideki.

“Apa kamu mau pulang, kalau begitu ayo jalan bersama, aku juga mau pulang,” jawab Hideki. Hideki tinggal tepat di samping rumahku.

Aku tidak menjawab ajakan temanku itu, aku sebenarnya tidak ingin berjalan bersamanya tapi aku juga tidak bisa menolak paksaannya, terpaksa kami jalan bersama.

"Apa kamu tadi liat pertandinganku, bagaimana menurutmu?" tanya Hideki kepadaku.

"Sangat bagus, kamu bahkan bisa memukul lemparan fastball orang itu, padahal bisa dikatakan lemparan itu sangat sulit untuk dipukul, tapi kamu bisa melakukannya," jawabku.

"Hebat bukan? keren bukan?" Hideki memamerkan kemampuannya sambil mengayunkan tongkat baseballnya.

"Hmmn" aku hanya mengangguk.

Kami berjalan berbincang-bincang tentang pertandingan Hideki, walaupun sebenarnya hanya Hideki yang terus berceloteh tanpa ada habisnya, aku hanya menjadi pendengar setia dan berkat celotehan itu tanpa terasa kita akhirnya sampai di apato. 

"Mata ashita," kata Hideki melambaikan tangannya. 

"Hmmn," aku hanya mengangguk menjawabnya. 

Aku masuk ke dalam dan beristirahat, mengirimkan pesan kepada orang tuaku, mengerjakan tugas rumah, memasak makanan untuk makan malam, belajar, dan membaca manga sampai kedua mataku memberikan isyarat untuk beristirahat, selamat tidur dan bersiap untuk sekolah besok.

**********

Keesokan harinya, kegiatanku bersekolah seperti biasa, mendengarkan sensei berbicara dan menyerapnya dalam-dalam ke otakku. Waktu terus berlalu dengan setiap perkataan yang keluar dari mulut sensei dan dengan batuan sang angin, setiap kata yang keluar darinya terbang menghampiriku, masuk melalui lubang telingaku, membuka salah satu pintu di otakku dan menetap disana. Setiap apa yang diajarkan oleh sensei pasti aku langsung mengerti. 

Aku bukannya sombong tapi aku memang gampang untuk menyerap pelajaran, aku bahkan mendapat peringkat pertama di kelas, mungkin karena itulah mengapa aku malas untuk bersekolah, disamping aku malas bergaul dengan teman, bisa dikatakan aku malas untuk berkontak langsung dengan dunia luar. Aku lebih memilih untuk hidup sendiri di duniaku sendiri, hidup dalam sebuah lingkaran kecil yang aku buat sendiri tanpa ada satupun yang dapat melewati lingkaran itu.

Waktu terus berlalu hingga bel sekolah berbunyi, aku bersiap untuk pulang. Saat aku akan keluar pintu kelas seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik kebelakang, dia ternyata Shinju sang manager di klub baseball, aku sekelas dengannya, dia duduk disampingku. 

'Pack' Shinju menepuk pundakku, "Yosh, Kenji-kun," Shinju menyapaku.

"Doushite?" aku bertanya. Belum sempat Shinju menjawab aku langsung melanjutkan perkataanku, "Aku tidak tertarik masuk tim baseball kalau itu tujuanmu".

"Eehh, demo..," kata Shinju “Kenapa, kenapa kamu tidak ingin masuk ke tim baseball, kamu itukan cukup atletis, akan sangat baik kalau kamu masuk di tim baseball kami, semua orang di tim pasti akan menerimamu dengan senang hati”

“Sudah berapa kali aku harus katakan, aku tidak tertarik untuk masuk di klub baseball, lagipula tim kalian sudah kuat untuk apa aku bergabung,” aku bersikeras menolak ajakan temanku itu.

Sang manager baseball tetap tidak menyerah, dia terus saja memaksaku, “Kami membutuhkan orang sepertimu di tim, ayolah, Kenji-kun?”

“Maaf, tapi aku memang tidak ingin masuk di tim kalian, sekali lagi aku minta maaf Shinju-san, mungkin sebaiknya kamu mencari orang lain saja,” Aku meninggalkan Shinju, keluar pintu kelas hendak pulang.

Matte kudasai, Oe Kenji-kun,” Shinju tetap bersi keras ingin memasukkanku ke tim baseball, ia hendak mengejarku tapi dihentikan oleh Hideki.

“Sudahlah, mau berapa kalipun kamu memaksanya dia tetap tidak akan bergabung dengan tim kita, dia memang orangnya seperti itu, selalu bersikap dingin dengan semua orang. Kami adalah tetangga tapi dia tidak pernah menegurku, aku selalu yang menyapanya duluan. Kalau aku mengajaknya untuk berangkat bersama dia selalu menolak jadi aku terpaksa menariknya dan memaksanya, dan selama perjalanan dia tidak pernah bekata apapun jadi aku yang selalu memulai pembicaraan, dan dia hanya menjawab ‘oke, ya, hmmn’. Sepertinya dia memang tidak pernah bergaul dengan orang lain. Aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan orang lain. Mungkin sebaiknya kita biarkan dia seperti itu, dia mungkin punya privasi sendiri. Yah sudahlah.”

“Tapikan yang kita bicarakan ini Akio Kenji, orang nomor satu di kelas kita. Apakah kamu tidak ingin dia ada di tim kita,” Shinju tetap memaksa.

“Yah, pastinya aku juga mau dia bergabung dengan tim kita, tapi ayolah, yang kita bicarakan ini Akio Kenji, orang yang paling cuek di kelas kita,” kata Hideki.

Demo….., pokoknya aku tidak akan menyerah, aku akan terus berusahan sampai dia akan bergabung,” ujar sang manager.

Mendengar perkataan managernya Hideki hanya bisa menghela napas, “Sigh, wakatta wakatta, nanti aku akan coba bicara dengannya. Sebaknya kita ke lapangan, yang lain sudah menunggu. Shinju-chan, iku yo.”

**********

Aku berjalan pulang menuju halte bis sambil menggerutu sendiri membicarakan sikap keras kepala sang manager, “Hah, dia memang keras kepala, sudah berkali kali aku bilang tidak, yah tetap tidak mau.” Itu bukan pertama kalinya dia memaksaku. Hampir setiap hari dia mengajakku bergabung dengan timnya. Dan bukan cuma klub baseball saja, tapi tim basket, soccer, judo bahkan klub sogi juga pernah menawarkan untuk bergabung begitupun dengan klub-klub lainnya, tapi aku menolak semua ajakan mereka. Tidak ada extrakurikuler yang aku masuki di SMA Fumio ini. Itu bukan karena aku membebenci mereka, tapi aku hanya tidak ingin berinteraksi dengan orang lain. Bahkan sejak sekolah menegah pertama aku sudah menyendiri.

Hal itu mungkin disebabkan karena masa kecilku, aku yang dulu masih sekolah dasar selalu di peralat oleh teman-temanku. Karena aku memiliki otak yang pandai jadi mereka semua mendekatiku, memperlakukan dengan sangat manis, menyuruhku mengerjakan semua tugas-tugas mereka, memaksaku untuk memberikan jawaban ketika ujian, dan dengan bodohnya aku selalu mengikuti  kemauan mereka. Tapi ketika aku mencoba untuk menolak keinginan mereka, mereka justru mengucilkanku, memperlakukanku dengan sangat berbeda dari sebelumnya.

Mereka semua mendekatiku karena ada niat terselubung, bersikap manis kepadaku karena menganggap aku dapat dimanfaatkan oleh mereka dan ketika aku sudah tidak beguna lagi mereka lalu membuangku. Apa itu bisa dikatakan sebagai teman? Atapun mugkin aku yang sangat bodoh ingin berteman dengan mereka.

Sejak lulus dari sekolah dasar aku lebih berhati-hati memilih teman, bahkan kalau perlu aku tidak memiliki seorang teman. Untuk apa memiliki banyak teman tapi hanya memperalatku. Lebih baik aku hanya memiliki satu teman yang bisa selalu aku andalkan, teman yang selalu ada untuk menenamiku, teman yang selalu disampingku baik dalam keadaan senang maupun susah.

Akhirnya bis yang kutunggu tiba, seperti biasa aku duduk di pojok kanan belakang. Aku melihat panorama diluar jendela tapi sesuatu telah mencuri perhatian, seorang gadis kecil yang sejak tadi duduk di pojok kiri belakang bis, dia terus saja menangis. Aku melihat-lihat dalam bis mencari keluarga gadis kecil itu tapi sepertinya tidak ada yang mengenali anak ini.

“Adek, kenapa menangis?” aku mencoba menyapanya

“Aku tidak tahu jalan pulang” jawab gadis kecil itu sambil mengusap matanya

“Memangnya kamu tinggal di mana? Mana ibumu?” aku bertanya kepadanya

”Aku tinggal di dekat kuil Katsushima, aku ke taman sendiri mencari bunga mawar putih ini tapi aku tersesat dan tidak tahu jalan pulang,” jawab gadis kecil itu, tangannya memegang dua mawar putih. Bajunya sedikit kotor, kelihatannya dia mencari bunga itu dengan susah payah, untuk apa gadis ini bersusah payah mencari mawar putih ini.

“Adek, onii-chan akan mengantarmu pulang, onii-chan tahu tempat kuil Katsushima, jadi berhentilah menangis,” aku mengusap air mata gadis kecil itu.

Kami turun di pemberhentian selanjutnya. Aku mengantar gadis itu ke kuil Katsushima. “Nah, sekarang kita sudah sampai,” aku berkata kepada gadis kecil itu. Dia terlihat sangat senang, dia menarikku mendekati kuil.

Gadis itu menatapku sambil tersenyum, “Kata nenek, kalau kita menanam mawar putih di kuil ini keinginan kita akan terkabulkan."

Oh, jadi sebab itu kenapa anak ini bersusah payah mencari mawar putih ini, “Memangnya apa keinginanmu?” aku bertanya kepadanya.

“Sebentar lagi ulang tahun ibu, aku ingin ibu datang dan bisa merayakannya bersama-sama, agar aku bisa memberikan hadiah yang telah kubuat untuknya. Kata nenek ibu pergi jauh dan tidak akan kembali, karena itu aku mencari bunga ini dan menanamnya di kuil ini agar ibu dapat kembali bersamaku,” kata gadis kecil itu sambil menanam mawar putihnya. Dia menundukkan kepalanya, berdoa didapan kuil memohon kedatangan ibunya,Onii-chan, kamu boleh mengambil bunga yang satu lagi, aku hanya membutuhkan satu,”sambil tersenyum dia memberikan mawar putih itu kepadaku.

Aku menatap gadis itu dengan rasa iba, mengetahui bahwa ibu yang dia sanyangi telah tiada. Wajahnya terlihat sangat riang, dia sepertinya percaya dengan mitos itu, bahwa dengan menanam bunga ini keiginan kita akan terkabulkan. Melihatnya seperti itu aku menjadi kasihan kepadanya. Inikan hanya mitos, mana mungkin hal yang mustahil dapat terjadi.

Setelah selesai berdoa aku membawa gadis itu pulang, “Sampai disini saja, aku bisa pulang sendiri dari sini,” kata anak itu.

“Oh benarkah, tapi kita masih dikuil, memangnya rumahmu di mana?” aku bertanya.

“Aku tinggal disamping kuil ini,” jawab anak itu.

“Baiklah, onii-chan mengantarmu sampai disini saja. Ngomong-ngomog adik kecil, namamu siapa?”

“Sakura,” jawab anak itu.

“Sakura-chan…..arigato,” aku mengelus kepala anak itu. Gadis itu berlari meninggalkan kuil, dia berhenti sejenak dan berbalik melambaikan tangannya, “Onii-chan arigato, sayonara,” teriaknya kepadaku. Aku melambaikan tanganku kepadanya, “Heh, kawai.”

Aku menatap mawar putih yang diberikan Sakura. Aku berpikir, mana bisa bunga ini dapat mengabulkan keinginanku. Aku berjalan menuju tempat sakura menanam bunganya. Sebaiknya aku tanam saja bunga ini, dia sudah memberikannya kepadaku. Aku menanamnya tepat disamping bunga Sakura, “Memangnya apa yang aku inginkan yah? aku tidak menginginkan apa-apa, yah sudahlah, inikan juga cuma mitos.”Setelah selesai aku kembali pulang.

Aku sampai di apartemenku, membuka pintu memasuki ruang kecil yang hanya diisi dengan perabot seadanya. Memasuki kamar berbaring sejenak dan melakukan aktivitas seperti yang biasa aku lakukan.

**********

Kriinng….krinngg, jam weker berbunyi. Hari ini libur, aku ingin tidur lebih lama, aku mematikan jam wekerku tapi tiba-tiba….

AKIO-KUN!!” seseorang berteriak di telingaku. Aku terbangun terkejut mendengar teriakan itu. Mataku masih samar-samar karena masih dikuasai dengan rasa kantuk, aku mencoba memperhatikan pandangan didepanku. Aku seperti melihat ada seseorang yang berdiri di sana dan setelah aku telah sadar sepenuhnya, memang benar. Sesorang wanita sedang berdiri dihadapanku, “Akio-kun,” kata wanita itu.

“AAGHHH, siapa kamu? bagaimana bisa kamu masuk ke kamarku?” aku terkejut melihat gadis itu. Seorang gadis memakai gaun putih, kulitnya putih seputih salju, rambutnya lurus panjang hitam dan lebat, matanya berwarna hitam seperti black pearl, wajahnya sangat cantik. Ah ah, itu tidak penting, yang penting dari mana dia bisa masuk ke dalam kamarku dan dia.., oh tunggu dulu, dia tadi memanggilku..., dari mana dia tahu namaku dan terlebih lagi, DARI MANA DIA BISA MASUK KE SINI.

“Siapa kamu, bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?” aku bertanya kepada gadis itu tapi gadis itu hanya tersenyum menatapku. Dia berjalan mengilingi kamarku mengotak atik barang-barangku. “Apa yang kau lakukan disini, cepat keluar dari kamarku!” Dan lagi, dia hanya tersenyum kepadaku, memangnya dia tidak bisa mendengar apa? Atau dia tidak mengerti apa yang aku katakan? Kenapa dia hanya tersenyum.

Aku menghampirinya hendak membawanya keluar, dia tiba-tiba memegang tanganku. “Akio-kun, benarkan?” kata gadis itu.

“Siapa kamu, dari mana kamu tahu namamu, bagaimana..bagaimana kamu bisa masuk kesini?” aku bertanya kepadanya, aku masih terkejut dengan apa yang aku lihat.

“Akio-kun cepatlah, ayo kita pergi,” kata gadis itu sambil menarik tanganku.

“Eehh? Apa yang kamu lakukan, chotto…chotto matte yo…,” Gadis itu menarikku, dia ingin membawaku kemana? Aku bahkan masih memakai piyama, “Hei hei, tunggu dulu…”

Dan tiba-tiba ‘whuussh’ kami langsung berada di tempat lain. Haahh, apa yang terjadi? Di mana ini?, tunggu dulu, tempat ini, pohon ini. Aku tahu tempat ini, inikan… tidak salah lagi, ini adalah tempat bermainku waktu kecil dulu, tapi inikan… DI OKINAWA?.

Aku melihat gadis itu, “Apa yang sebenarnya terjadi? inikan di Okinawa? Tapi, tapi, bagaimana bisa?” aku masih tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kakiku tiba-tiba terasa lemas, aku sangat terkejut dengan apa yang baru saja aku alami ini, masih tidak percaya kalau sekarang aku berada di Okinawa. Apa ini hanya khayalanku? Atau aku masih tidur dan bermimpi? Tapi ini terasa sangat nyata. Aku melihat gadis itu, dia berdiri tepat disampingku, memperlihat senyuman di wajahnya.

Aah, aku masih bingung, aku bertanya kepada gadis itu mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi. “Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kita ada di sini? Apa…. Apa kita baru saja melakukan teleportasi? Apa kamu yang melakukan ini?.... Siapa kamu sebenarnya..?”.


Seorang gadis bergaun putih tiba-tiba saja muncul dihadapanku dan membawaku ke Okinawa hanya dengan hitungan detik, apa yang sebarnya terjadi, darimana dia berasal, siapa gadis bergaun putih itu sebenarnya . . . . .

Bersambung


Cerita Selanjutnya Dapat Dilihat DI SINI
Previous
Next Post »

10 komentar

Write komentar
Zeipth
AUTHOR
26 May 2015 at 17:11 delete

Kalau ada dilog tag. kasih koma, sebelum kutip diakhir.
Kasih titik kalau nggak ada dialog tag.
ex, "Dialog."
"Dialog," dialog tag.

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
28 May 2015 at 04:37 delete

Oh begitu ya?

He..he..., harap maklum, saya masih kurang paham tentang tulis menulis, masih banyak yang mau dipelajari....

Terima kasih dengan infoya, ini akan jadi pembelajaran buat cerita saya kedepannya... ^^

Reply
avatar
rahul syarif
AUTHOR
18 December 2015 at 02:58 delete

Iya, bang Septa benar. Masih ada kalimat yang sebenarnya harus dipenggal pake koma, malah tidak dipenggal. Jadi, bacanya agak aneh.

Kalo ceritanya sih lumayan, hanya alur dan plotnya masih murah banget. Coba cari alur dan plot yang beda. :)

Reply
avatar
Vindy Putri
AUTHOR
18 December 2015 at 08:51 delete

Teknis bisa dipelajari lagi... :)
Ide bagus, sesuai ya sama tema Hari Ibu. :D aku suka! Untungnya jepang ya, bukan fictclfan drakor, aku bakal kesusahan memahami nama. Soalnya aku juga suka budaya jepang. Nah, kamu kan beberapa pakai bahasa jepang, harusnya sih diberi footnote. Supaya yg tidak tahu artinya bisa tau. Untungnya sih aku tahu kalimat-kalimat sehsri-hari di Jepang. Hehe..

Reply
avatar
18 December 2015 at 16:48 delete

Settingnya di Indonesia kek? Biar guenya gak gagal paham mulu. :D

Ngikut seperti komentar sebelumnya, soal dialog. Tapi ya gak masalah sih, namanya juga belajar. Saling mengingatkan. Intinya, yang selalu gue tanamkan dalam menulis adalah bagaiman apa yang lo mau sampaikan, pembaca merasakan hal yang sama. Itu aja, sih. Bahasa kerennya Feelnya dapet. Kalo udah dapet, udah deh nerbitin buku lagi. :)

Reply
avatar
Zia
AUTHOR
19 December 2015 at 22:22 delete

Kamu sering nonton anime, ya? Dulu aku jg sering, sekarang jarang tp ttp suka. Same w/ Vindy, beri footnote untuk bahasa asing. Tentang teknik penulisan, no problem, kamu bisa pelajari saat membaca buku sekolah atau novel. Yang penting keep writing!

Btw, aku bacanya berasa lompat-lompat. Tentang baseball, sakura, lalu perempuan misterius. Ini masih ada lanjutannya? klo iya, kasih catatan bersambung (tsuzuku). Kamu bisa bikin alurnya lebih rapi, jadi pembaca nggak bingung. Semangat menulis, ya! ^^ Ganbare!

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
29 December 2015 at 12:16 delete

Oh begitu yah...

Oke, terima kasih.... :D

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 00:58 delete

Oh begitu yah, ditambah footnote.
Ok, terima asih sarannya ^_^

He..he..., kayaknya saya memang harus banyak belajar teknik penulisan...

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 01:00 delete

Waduh, terbitkan buku, belum sanggup, he..he...

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
6 February 2016 at 01:05 delete

Arigatou gozaimasu... ^_^
Iya ini masih ada lanjutannya...

Suka sekali dengan anime, karena itu semua cerita di blog ini berlatar Jepang, cerita dan nama tokohnya juga beberapa terisnpirasi dari anime...

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon