"Yoo, Hikaru," Yuki memukul pundak Hikaru, "Apa kamu akan langsung ke asrama? Ayo kita jalan bersama."
Ditengah perjalanan menuju asrama mereka bertemu dengan Abe yang baru saja selesai latihan bola. "Abe!" Yuki berterteriak memanggil Abe. Mereka bertiga akhirnya menuju asrama bersama. Yuki, Abe dan Hikaru berbagi satu kamar di asrama.
Mereka bertiga berasal dari kota berbeda yang sekarang telah berstatus sebagai Mahasiswa di Universitas Tokyo.
Setelah di asrama mereka langsung berganti pakaian, makan malam bersama dan istirahat sejenak sambil bercerita tentang apa yang telah mereka alami di kampus.
"Abe, bagaimana dengan latihanmu hari ini? pertandingannya tinggal beberapa hari lagikan?" tanya Yuki
"Yah, seperti biasa," jawab Abe dengan santai sambil memainkan laptop di atas ranjangnya. Abe sangat atletik dibanding dengan Yuki dan Hikaru. Orangnya pendiam dan sedikit misterius, tidak memperdulikan kejadian yang terjadi di sekitarnya selama itu tidak merugikannya. Tapi walaupun begitu, jika hal itu menyangkut tentang temannya 'Yuki dan Hikaru' maka hal itu menjadi yang utama bagi Abe, ia sangat mementingkan temannya. Bagi Abe, persahabatan adalah yang nomor satu.
"Kalau kamu Hikaru, bagaimana dengan penelitianmu. Apakah ada perkembangan?" tanya Yuki kembali kepada Hikaru. Diantara mereka bertiga Yuki memang orang yang tidak bisa diam, dia yang selalu membuat kamar mereka menjadi ramai. Cerewet dan suka menggoda Abe dan Hikaru adalah ciri khas Yuki. Tapi Yuki sangat tidak suka apabila ada yang mengganggu kedua sahabatnya itu. Jika ia tahu ada yang menganggu mereka ia akan sangat marah dan Hikarulah yang selalu menenangkannya.
"Iya, teoriku ternyata benar dan setelah aku perlihatkan kepada pak Kagami akhirnya beliau setuju untuk membantuku," jawab Hikaru dengan nada pelan yang sedang membaca di meja belajarnya.
"Wah benarkah? hebat dong," kata Yuki bersemangat yang langsung bangun dari ranjangnya yang sejak tadi santai berbaring. "Teman kita yang satu ini memang hebat, selalu menjadi yang nomor satu, emmmn Hikaru sang jenius, benarkan Abe?" lanjut Yuki. Abe hanya tersenyum menanggapi Yuki.
"Ah tidak kok," jawab Hikaru pelan yang malu karena pujian dari temannya, wajahnya menjadi merah. Hikaru orangnya sedikit pemalu, pendiam dan suka menyendiri. Kalau dia ada masalah selalu menyimpannya sendiri, dia tidak pernah ingin menceritakan masalahnya kepada Yuki dan Abe dan hal ini yang biasa membuat Yuki dan Abe marah terhadap Hikaru. Tapi Hikaru sangat peduli terhadap temannya, jika temannya ada masalah dia yang pertama akan membatu mereka. Sabar, baik hati, sedikit sensitif, dan jenius, itulah Hikaru dimata Yuki dan Abe.
"Eh heh..., tidak usah mengelak begitu, lihat mukamu memerah tahu," Yuki mulai menggoda Hikaru. Mendengar hal itu Hikaru bertambah malu dan dia menutup mukanya dengan buku yang sementara ia baca.
Melihat tingkah Hikaru seperti itu membuat Yuki tertawa, ia menghampiri Hikaru mencoba menghiburnya "Kamu tidak usah malu seperti itu, akukan cuma bercanda. Lagipula sejak tadi kamu sangat serius membaca memangnya apasih yang kamu baca itu?"
"Hmn apa ini? Ini Adalah Rumahku? inikan novel, apa ceritanya bagus?" tanya Yuki yang mengambil buku dari tangan Hikaru.
"Iya ceritanya sangat bagus, ini yang ketiga kalinya aku membaca ini. Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang sederhana. Jika dilihat dari luar rumah keluarga ini terlihat tidak harmonis. Tapi jika dilihat dari dalam rumah keluarga ini adalah keluarga yang sangat hangat. Tokoh ayah dari novel ini adalah pengangguran, selalu mencari pekerjaan kesana kemari tapi tetap tidak mendapatkan pekerjaan, sedangkan sang ibu bekerja banting tulang sebagai buru di pabrik makanan, jarang ada waktu di rumah. Kakak pertama yang berkerja menggantikan tugas ibu mengatur rumah sehingga ia berhenti dari kuliahnya dan anak kedua adalah troublemaker dalam keluarga sedangkan si bungsu selalu mendapat peingkat terakhir di sekolahnya. Ayah yang pengangguran, ibu yang jarang di rumah, kakak yang berhenti kuliah, kakak kedua yang selalu menyebabkan masalah dan adik bungsu yang mendapat peringkat terakhir di sekolah. Keluarga ini memang terlihat berantakan dari luar."
"Tapi jika ditelusuri lebih dalam tentang keluarga ini tidak seperti itu. Walaupun si ayah pengangguran tapi dia tidak menyerah untuk mencari pekerjaan demi keluarganya dan diakhir cerita sang ayah akhirnya mendapat pekerjaan. Ibu yang sibuk untuk menghidupi seluruh keluarga selalu menyempatkan waktunya untuk keluarga walaupun ia capek sepulang kerja. Kakak yang rela berhenti kuliah demi mengganti peran ibu di rumahnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dan kakak kedua, ia memang si troublemaker di rumah ini tapi itu karena ada alasannya, itu karena ia melindungi keluarganya dari ejekan dan tindakan yang tidak adil dari tetangga mereka. Sedangkan si bungsu, walaupun ia selalu di peringkat terakhir tapi dia tidak menyerah dan selalu belajar dengan bantuan dari kakak pertama dan seluruh anggota keluarga tidak ada yang memarahinya justru mereka selalu mendukungnya untuk terus belajar yang membuat si bungsu rajin belajar dan pada akhirnya ia mendapat peringkat di sekolahnya."
"Mereka tidak peduli tanggapan orang lain terhadap keluarga mereka, yang penting mereka bahagia di dalam rumah kecil mereka. Selama mereka di dalam rumah mereka saling memiliki dan saling menyayangi satu sama lain," Hikaru menceritakan novel itu.
"Ah.., begitu yah," kata Yuki mulai membuka buku itu, "Rumah, apa yang kamu pikirkan jika mendengar kata itu," Yuki membaca buku itu dan terhenti, ia langsung memikirkan rumah yang telah lama dia tinggalkan demi pendidikannya.
Abe yang sejak tadi asik memainkan laptop juga terhenti setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yuki.
"Rumah, menurutku rumah itu tempat kita berbagi kebahagiaan. Rasa jenuh yang kita dapat dari aktivitas yang kita lakukan di luar rumah akan hilang begitu kita berada di dalam rumah, melihat keluarga yang kita cintai tersenyum menyambut kepulangan kita," Abe yang pendiam menuangkan pendapatnya paling pertama.
"Hmmnn, rumah yah. Rumah menurut saya itu seperti peti harta karun yang di dalamnya terdapat harta yang berharga, keluarga adalah harta yang berharga yang tersimpan rapi dalam peti harta karun yang disebut rumah," ujar Yuki sambil membuka halaman demi halaman novel itu. "Kalau menurut Hikaru bagaimana? apa arti rumah bagi Hikaru?"
"Hmmn rumah?" Hikaru terdiam, dalam kepala Hikaru sekarang terlihat wajah keluarga yang ia rindukan. Beda dengan Yuki dan Abe yang sesekali pulang ke rumahnya, Hikaru sudah hampir tiga tahun tidak pulang ke rumah karena sibuk dengan akademiknya. Mata Hikaru mulai berkaca-kaca menahan air mata yang akan keluar.
Suasana dalam kamar menjadi hening. Yuki dan Abe hanya diam melihat Hikaru, mereka mengerti apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Abe bangun dari ranjangnya menghampiri Hikaru, mengusap kepala Hikaru beberapa kali lalu kembali ke ranjangnya.
"Ah hah.., kenapa suasana menjadi canggung seperti ini sih," kata Yuki mencoba meramaikan suasana.
"Memangnya gara-gara siapa jadi suasana dalam kamar ini canggung," kata Abe sambil menatap tajam ke arah Yuki.
"Hei..hei..., apa maksud tatapanmu itu"
"Memang gara-gara kamukan. Kalau kamu diam saja tidak banyak bicara seperti tadi suasanya tidak akan menjadi seperti ini
"Apa kamu bilang!" Kata Yuki sambil mendekati Abe. "Mulut ini, mulut ini, hah..., " Yuki mencoba mencubit kedua pipi Abe dan dengan cepat kedua tangan Abe telah berada di atas kepala Yuki, dengan satu gerakan Abe menarik rambut Yuki. Yuki yang merasakan kesakitan akibat ulah Abe tidak mau dikalah, tangannyapun dengan cepat menarik hidung Abe.
Melihat tingkah konyol temannya membuat Hikaru tertawa, suasana dalam kamar kembali menjadi ramai. Dan mereka kembali menceritakan hal konyol sampai larut malam hingga mereka tertidur.
Yuki tertidur pulas dengan suara dengkuran yang besar dari mulutnya. Abe juga telah tertidur lelap dengan headset tertempel di telinganya. Sementara itu Hikaru masih belum tidur tapi bukan karena suara dengkuran Yuki melainkan Hikaru memikirkan percakapan mereka tadi.
"Rumah..., rumah... Rumah bagiku adalah.... KELUARGAKU."
Hikaru mengambil handphonenya, melihat gambar keluarganya. Ayah, ibu, Kakek dan kedua adiknya. Setelah puas menatap foto keluarganya Hikaru pun tertidur...
Sign up here with your email

30 komentar
Write komentarceritanya bagus, narasinya juga ringan jadi enak dibaca.
Replytapi ada dialog panjang yang jelasin buku, agak membosankan ya.
ini juga ada typonya, coba cek lagi dan edit.
dan, ditengah sama disekitar itu menunjukan tempat. jadi setahuku harusnya di pisah , di tengah, di sekitar.
wizz dalem bacanya... gambarannya dideskripsikan amat jelas
Replywizz dalem bacanya... gambarannya dideskripsikan amat jelas
ReplyHehee, aku bingung mau komen apa, maaf ya gak bisa ngoreksi kesalahannya dimana, karna aku juga belom paham dalam hal menulis cerpen gini, cerpennya bagus kok, tapi sayang terlalu sebentar *ya cerpen mah emg sebentar, emg maunya gimana?-__- wkwk*
ReplyCoba novel "Ini adalah rumahku" dijadiin novel beneran ya? Pasti seru tuh, tapi sayang udah diceritain semua. Haha
Oh iya aku mau ngasih saran, gambarnya bagus2 banget yg ada di blog ini, aku suka, itu juga penggambaran rumahnya juga keren banget! Aku sih gak bakal bisa gambar begitu. Wkwk. Tapi sebaiknya gambar di buku gambar aja atau di kertas polos tanpa garis-garis, sayang soalnya gambarnya keren tapi bergaris-garis buku:(
Ditunggu cerita selanjutnya ya! Disertai gambar kayak gini jg gakpapa, bagus malah! Makin seru bacanya. Hehe
Oh begitu yah, okk nanti akan saya perbaiki. Makasih infonya...
ReplyPenjelasan tentang bukunya memang terlalu panjang, saya juga sedikit bingung untuk penggambaran novelnya jadi dibuat seperti di atas dan sepertinya penjelasannya sedikit membosankan, he..he....
He..he.., kebetulan mau membuat cerita bertemakan rumah untuk menyesuaikan dengan gambarnya..
ReplyWah terimakasih... ^_^
ReplySebenarnya juga mau gambar pada kertas polos, tapi semua gambar saya kumpulkan menjadi satu dalam buku catatan saya. Kalau pakai buku gambar kayaknya terlalu besar, buku yang saya pakai juga buku yang kecil...
banyakin nulis aja, pasti hasilnya jadi lebih bAIK nanti
ReplyBeli aja bku gambar yg A4, kalo misalnya kegedean, lipat aja jd dua bagian.. jd kecil deh.. Huhehehe
ReplyIya betul sekali...!!!
ReplySaya masih kurang pengalaman dalam menulis jadi harus perbanyak menulisnya supaya hasilnya jadi lebih baik..^_^
He..he.., tapi karena sekarang lagi bulan Ramadhan jadi menulisnya harus ditunda dulu...
Ha..ha..., memang lebih baik kalau menggambar di buku gambar yah...
ReplyOkk, nanti saya akan cari buku gambar yang kecil. Tapi sudah banyak gambar yang saya buat di buku catatan...
bukannya enak ya nulis pas ramadhan gini.
Replybisa ngehabisin waktu sambil nunggu buka
Wah, kalau Ramadhan banyak yang harus dikerjakan..
ReplyKalau saya mau menulis postingan biasa makan waktu lama, saya susah untuk merangkai kata2 menjadi satu cerita, he..he... maklum masih penulis amatir. Jadi kayaknya nulisnya selesai Ramadhan saja,
oh gitu ya
Replylama dong kalau nunggu sampe selesai ramadhan
ReplyHa..ha.. iya, tapi tidak apa2...
ReplySekarang juga belum ada tulisan yang mau di postingkan...
benern nggak update tulisan lagi ya pas ramadhan ini
ReplyHe..he.., sebenarnya karena memang belum menulis sesuatu. Tapi mungkin nanti akan posting gambar2 krn sudah ada beberapa yang telah digambar jauh2 hari.
ReplyHm.. anak kos. Begitu ya rasanya rindu keluarga? Aku jadi inget temenku, orang medan kalau gak salah, kuliah di malang. Setahun sekali pulang. Katanya rindunya udah memuncak. :')
Replyowh
Replysippp
Iya. Memang sedih rasanya kalau harus jauh dari keluarga apalagi tidak pulang-pulang dalam jangka waktu yang lama.
ReplyWah, temannya setahun sekali pulang yah? pastinya sangat rindu dengan keluarga. Kalau saya cuma beberapa bulan jauh dari keluarga mungkin sudah tidak tahan...
Siippp.... :)
ReplyDi awal, alurnya terkesan membosankan, tapi sampi di tengah sampai akhir, hei!! persahabatan memang menyenyumkan :) SUKAKK!!
ReplyRumah Bagiku adalah KELUARGA. Waw, kata sederhana yang dalem banget. Bener banget kata beberpa temen yang udah komentar. Ceritanya ringan sekali, gampang dicerna, tapi gak gampang ditebak. :)
ReplyOw, ya. Usahakan kalo buat Dialog gitu, berikan deskripsi yang tegas. Biar pembaca mau lanjut ke dialog selanjutnya. Jelas bukan artinya kepanjangan, singkat saja. Tapi seru. :)
Semangat!!!
ah tulisan lama ya. kirain tulisan baru
Reply@Jia Yuuki
ReplyDi awal agak membosankan yah. He..he.., maklum masih penulis amatir :)
Persahabatan memang yang terbaik, saya suka cerita bergenre persahabatan...
@Heru Arya
ReplyHe..he.., makasih... :)
Kalau mendengar kata rumah yang pertama diingat pasti keluarga.
Oh begitu yah, oke. Trimakasih sarannya...
@Ara AnggARA
ReplyHa..ha...
Iya ini tulisan lama, yang baru belum ada :(
Rumahku itulah surgaku :)
ReplySeneng baca cerita 3 sahabat yg kuliah di Tokyo ini, masing-masing orang punya karakter yang berbeda.
Sedih juga ya Hikaru sudah 3 tahun tak pulang, pantas saja dia merindukan keluarga lewat bacaan novel tersebut. Baguslah kalau novelnya bercerita tentang keluarga yang sebenarnya harmonis meskipun aya pengangguran.
Good job, kembangkan terus ide ceritanya
He..he..., terima kasih... :)
ReplyIya, tiga sahabat ini memiliki karakter yang berbeda-beda jadi dapat saling mengisi satu sama lain
Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon