Aku hanyalah pria biasa yang bekerja sebagai guru biasa,
kenapa aku harus terjebak ke dalam tempat ini. Sebenarnya tempat apa ini?,
kenapa kami diperintahkan untuk mengambil senjata yang telah mereka sediakan.
Dan senjata ini, senjata jenis apa ini?, aku belum pernah melihat senapan
sejenis ini, senapan ini memang terlihat berbeda dengan senapan yang biasa dan
bisa ditebak dari bentuknya kalau senjata ini sangat mematikan.
Mataku tiba-tiba ditutup dan mereka membawaku menaiki mobil tanpa memberitahukan tujuan kita. Aku yang merasa takut hanya bisa diam membiarkan mereka membawaku. Setelah lama berjalan akhirnya kita sampai di tempat tujuan, aku dan yang lain ditarik turun mobil. Penutup mata kami dibuka dan yang terlihat adalah sebuah pelabuhan tua tanpa penghuni, itulah tujuan kami sebenarnya. Aku masih bingung dengan kejadian ini, aku berjalan mendekati Ayame hendak bertanya tapi dia malah memberikanku sebuah gelang dan memakaikannya di tanganku sebelum sempat aku bertanya. Aku melihat yang lainnya, mereka juga memakai gelang yang sama. “Apa ini?” tanyaku kepada Ayame
“Ini adalah gelang, tadi sudah aku katakana sebelumnya
bahwa ini adalah sebuah permainan. Ini permainannya, gelang ini, gelang yang
kita pakai ini harus kamu jaga dengan sangat hati-hati jangan sampai hilang.
Aturan permainannya sangat sederhana, kita hanya perlu merebut gelang dari tim
lawan begitupun juga dengan mereka yang akan merebut merebut gelang kita. Jika
semua gelang dari salah satu tim telah direbut maka kelompok tersebut dinyatakan
kalah dan tim yang telah mendapatkan semua gelang gelang dinyatakan memenangkan
permainan, tapi..” jawab Ayame
“Tapi kamu harus menjaga gelang ini dengan nyawamu,” kata
Shouta memotong pembicaraan Ayame. “Konbanwa,
sensei” kata Shouta sambil tangannya
memberi hormat kepadaku, anak ini sejak tadi telah melihatku tapi baru sekarang
dia menyapaku, dasar anak ini.
“Apa maksud kata-katamu itu, 'dengan nyawa', jangan
menakutiku seperti itu,” kataku dengan nada sedikit keras, kata yang keluar dari
mulut Shouta membuatku takut dan kesal. Anak itu terlihat seperti
menahan ketawanya karena mendengar ucapanku, dasar anak ini, tambah membuatku
kesal saja. “Hei, memang apanya yang lucu?” kataku dengan nada kesal.
“Oke-oke, baiklah..” kata Shouta, dan seketika ekspresi muka
Shouta berubah, ia terlihat lebih serius. “Dengarkan baik-baik! Apapun yang
terjadi sensei jangan sampai kehilangan
gelang itu, senapan yang sensei pegang ini harus sensei gunakan dengan
sebaik-baiknya, jangan ragu-ragu untuk menggunakannya karena hal yang sama juga
yang akan dilakukan oleh tim lawan. Pokoknya apapun yang terjadi.., jangan
sampai kehilangan gelang itu.. Oh yah, dan satu hal lagi… Jangan sampai mati.” Shouta meninggalkan kami. “Hei, apa-apaan itu” aku hendak menghentikan Shouta
tapi dihentikan oleh Ayame
“Tachibana-san, selama permainan berlangsung, sebaiknya kamu berada
di dekat kami, aku atau Shouta! Apa yang dikatakan anak itu benar,” kata Ayame
sambil menatapku.
“Ayame-san, tolong jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya
terjadi di sini, tolong jangan membuatku bingung dan ketakutan seperti itu,” aku
memohon kepadanya.
“Sekarang tidak ada waktu untuk menjelaskannya, yang penting
sekarang kita harus focus ke permainan ini, sebentar lagi permainan akan segera
dimulai, kita sebaiknya bersiap, nanti aku akan menjelaskan semuanya kepadamu,”
jawab Ayame.
Tidak lama kemudian permainan dimulai. Mereka yang membawa
kami ke sini telah lama pergi meninggalkan kami berlima di tempat yang kosong
ini. Sebelum permainan dimulai kami diberi earphone, dengan alat ini kami
dapat berkomunikasi dengan satu sama lain. Begitupun juga dengan seseorang yang
sejak tadi hanya mengeluarkan suaranya melaui speaker tanpa berani memperlihatkan
wajahnya. Dia memberitahukan aturan permainan, hadiah yang akan kami dapatkan,
dan lainya. Dan orang itu, sepertinya dia sangat mempercayai Shouta, terbukti
dari ucapannya tadi, “Shouta, aku sangat mengandalkanmu, lakukanlah seperti
yang biasa yang kamu lakukan, menangkanlah permainan ini dan aku akan memberikan
hadiah yang banyak kepadamu.” Hadiah? Katanya hadiah itu berupa uang dalam
jumlah yang banyak, memangnya berapa jumlah uang yang akan ia berikan kepada
kami sehingga nyawa kami yang akan jadi taruhannya. Dan juga, orang itu
sepertinya sangat ingin memenagkan permainan ini, apa yang ia dapatkan dengan
permainan ini. Ada apa sebenarnya dengan permainan ini.
Permainan akhirnya di mulai. Tanpa ragu sedikitpun Shouta
langsung berlari, diikuti dengan Ayame dan Izuki, pria yang sejak tadi bersama
dengan kita. Mereka bertiga telah melalui ini sebelumnya sedangkan aku dan
Murata tidak mengetahui apa-apa hanya ikut berlari dengan mereka. Aku
mendengarkan saran Ayame untuk mengikutinya sedangkan Murata mengikuti Izuki.
Dan anak itu, Takaya Shouta, telah menghilang di hadapan kami.
‘Dorzt’ baru beberapa menit permainan dimulai sudah terdengar suara tembakan yang keras, dan tak lama
kemudian ‘dorzt’ suara tembakan itu terdengar lagi. “Tachibana-san, ayo cepat,” kata Ayame sambil
menarikku, mencari sumber suara tembakan itu. Kami berlari melewati kontainer-kontainer tua. Tak lama kami berlari kamipun
menemukannya. Aku terkejut dengan pemandangan yang ada di depanku. Seorang pria
telah terbaring di tanah dengan darah disekitarnya, dan di samping pria itu
Shouta berdiri, memainkan senjatanya kearah pria penuh darah itu.
“Apa yang kamu lakukan! kamu telah membunuhnya,” aku
berteriak kepada Shouta.
“Jangan terlalu dramatis begitu,” ujar Shouta dengan tenang.
“Aku hanya menggores kakiknya, orang ini baru pertama kali mengikuti permainan
ini sama seperti sensei. Justru orang ini yang duluan menembakku tapi aku
berhasil menghindar, dan dengan cepat aku melukai kakinya tapi dia malah
pingsan. He..he.., sepertinya dia sangat ketakutan, ekspresi mukanya tadi
sangat lucu,” Shouta tertawa sambil melihat pria yang terbaring di tanah ini.
Mendengar perkataannya membuatku menjadi tambah kesal. Aku menghampiri Shouta, menarik bajunya, "Apa kamu pikir ini lucu!" teriakku kepadanya. Aku menatap anak itu dengan dengan sangat marah, bagaimana bisa dia dengan santainya mengatakan hal itu, apa dia pikir ini hanya game biasa.
Shouta menatapku dengan wajah yang datar, melemparkan tanganku yang menempel di bajuya dan berbalik hendak meninggalkan kami. Tapi sebelum pergi dia mengatakan sesuatu, dia membuka earphone yang menempel di telinganya. Sepertinya dia hanya ingin agar kami bertiga saja yang mendengarkan. Dia kembali memakai earphone nya, "Satu gelang sudah aku dapatkan," kata Shouta dan berlari meninggalkan aku dan Ayame. Terdengar suara dari earphone kami, "Ha..ha.., bagus! dengan begini kita dapat menang dengan mudah." Suara orang itu lagi.
Aku menatap pria yang sejak tadi tergeletak di tanah. Apakah orang ini telah mati ataukah hanya pingsan seperti yang dikatakan Shouta. Mendengar perkataan Shouta tadi membuatku sadar akan apa yang telah kami hadapi sekarang.
"Tachibana-san, sebaiknya kita juga pergi dari sini," ujar Ayame.
Kami berlari melewati kontainer-kontainer tua di pelabuhan itu. Aku memperhatikan keadaan sekitar. Telah tepasang kamera di beberapa kontainer itu. Yah benar! kami telah diawasi.
"Aku mendapatkan gelang yang satu lagi," terdengar suara Shouta dari earphone yang kupakai. "Oke, bagus. Tetap teruskan apa yang kalian lakukan. Apapun yang terjadi kita harus memenagkan game ini," kata orang itu lagi. Suara orang itu, suara yang sejak tadi membayangi kami, yang selama ini hanya perberan di balik layar. Dialah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi sekarang ini. Orang yang telah menjebakku ke dalam perangkapnya.
"Dua gelang telah aku dapatkan," ujar Shouta. Dengan cepat Shouta hampir menyelesaikan pertandingan ini. "Oke, berarti sekarang hanya tinggal satu. Cepatlah bergerak dan kita akhiri permainan ini!" kata orang itu dengan semangat. Orang itu, tanpa berani memperlihatkan wajahnya hanya terus memerintah kami.
Aku sejak tadi hanya terus berlari tidak jelas. Yang sejak tadi hanya mendengar suara tembakan demi tembakan. Setiap suara letusan senjata itu menandakan telah jatuhnya korban. Beberapa aku dapati korban yang tergeletak di tanah dengan darah yang mengalir keluar dari tubuhnya. Aku sebenarnya ingin menolong mereka tapi bagaimana bisa, mereka mengawasi kami. Seperti kata Shouta tadi, kami tidak boleh gegabah.
Sepanjang jalan aku terus memikirkan kata yang keluar dari mulut Shouta, memikirkan mereka yang mengawasi kami, memikirkan mereka yang tergelatak di tanah dengan penuh darah hingga tanpa sadar aku telah terpisah dengan Ayame.
Aku mengelilingi pelabuhan yang luas itu tapi tidak satupun teman satu timku yang terlihat. Aku terus mencari mereka, tapi kemudian aku melihat seorang pria yang duduk lemah di tanah menyandarkan dirinya pada kontainer. Nafasnya terengah-engah, terlihat tangan dan kakinya terluka, tubuhnya penuh darah. Sepertinya tadi dia telah melalui pertarungan yang hebat.
Orang itu menatapku dan segera aku mengarahkan pistolku kepadanya. Aku melihat ekspresi wajahnya yang memperlihatkan rasa takut dan marah, "Doushite... doushite...," kata orang itu sambil menangis. "KENAPA KALIAN MELAKUKAN INI KEPADA KAMI," teriak orang itu yang berlari ke arahku.
Tubuhku terdiam kaku, tanganku memegang senapan hanya bisa gemetar. Aku tidak sanggup melawan pria itu tapi tiba-tiba terdengar suara letusan senjata dari belakang, pelurunya langsung menembus tubuh pria tadi. Darah segar dari orang itu terciprat di tubuh dan wajahku. Orang itu jatuh ke tanah, ia menghembuskn nafas terakhirnya.
Aku berbalik ke belakang. Terlihat Izuki yang sedang berdiri, dia yang telah menembak pria malang itu. "Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu hanya diam saja," ujarnya yang segera mengambil gelang di tangan sang mayat.
Akhirnya permainan yang berdarah ini selesai, Izuki telah mendapatkan gelang yang kelima yang mengakhiri permainan. Aku memperhatikan keadaan kami berlima. Tangan Murata terluka akibat tembakan dari tim lawan dan yang lainnya baik-baik saja, tapi sebagai gantinya nyawa orang lain yang jadi korban.
Kami berlima dibawa kembali ke rumah masing-masing dengan cara yang sama seperti mereka membawa kami ke sini, dengan keadaan mata tertutup.
Aku akhirnya kembali di apartemenku, mengunci rapat-rapat pintu dan masuk ke dalam kamar. Tanganku sampai sekarang masih gemetar. Rasa takut, shock bercampur di dalam kepalaku. Aku masih mengingat orang yang tadi hampir membunuhku, aku beruntung masih bisa selamat, terlambat sedikit saja aku pasti sudah kehilangan nyawa.
Aku teringat perkataan Shouta tadi, "Sadarlah! dengan apa kita berhadapan sekarang ini. Sensei sekarang tidak bisa lari ataupun sembunyi, mereka mengawasi kita. Sebaiknya sensei jangan bertindak gegabah, asal tahu saja, mereka itu tidak segan-segan untuk melakukan apapun agar bisa memenangkan pertandingan ini. Bagi mereka kemengan adalah segalanya, tidak peduli rasa sakit dan cedera yang kita alami. Jadi untuk sekarang lakukan saja apa yang mereka perintahkan, kalau sensei tidak ingin mati."
Mereka, siapa mereka sebenarnya?
Aku melihat tas yang diberkan kepada kami berlima, kata mereka ini adalah upah yang kami dapat atas jerih payah kami, atau dengan kata lain upah atas pembantaian yang telah kami lakukan. Apakah upah itu sepadan dengan apa yang mereka alami, luka mereka, nyawa mereka.
Aku harus melakukan sesuatu, aku harus keluar dari permainan ini.
Di sekolah Gokusen, Shouta hanya duduk diam di kelasnya menunggu pelajaran dimulai. Wakil kepala sekolah memasuki kelas, "Hari ini Tachibana sensei masih sakit jadi bapak yang gantikan dulu, kalau begitu mari kita mulai pelajarannya. Hari ini kalian akan mengerjakan tugas berkelompok, satu kelompok terdiri dari dua orang, silahkan kalian yang memilih kelompok sendiri, sepulang sekolah kalian kumpul tugas itu di meja bapak."
Anak-anak yang lain mulai mencari teman kelompoknya dan seperti biasa Shouta hanya diam di bangkunya meletakkan kepala di atas meja, berbaring santai sambil melihat pemandangan luar sekolah melalui jendela.
Tak lama kemudian seorang anak perempuan dengan rambut diikat menghampiri Shouta, dia adalah teman kelas Shouta, Rin Suzu. Shouta hanya menatap gadis itu dengan heran, "apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
"Ayo kita kerjakan tugas ini bersama," jawab perempuan itu.
"Hah?" dan dengan sangat terpaksa Shouta akhirnya bangkit dari mejanya, "Hufh, baiklah," ujar Shouta.
'Ding.. dong..' bel sekolah berbunyi. Shouta mengemas barang-barangnya meninggalkan ruang kelas.
Shouta berjalan di koridor sekolah. "Takaya-kun!" seseorang berteriak memangilnya dari belakang. Shouta berbalik dan melihat perempuan dengan rambut diikat berlari ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Shouta.
"Hmnh, itu, tugas kelompok kita, ayo kita selesaikan lalu kumpul di meja sensei."
"Oh, untuk apa? hufh, baiklah" jawab Shouta dengan santai.
"Aah.., he..he.." melihat tingkah temannya cuek akan tugas mereka Rin hanya tersenyum bodoh.
Mereka berdua menyelesaikan tugas di perpustakaan sekolah, "baiklah sudah selesai, ayo kita pulang," ujar Shouta.
"Eh, mau kemana? kita harus kumpul tugas ini di meja pak guru," kata Rin.
"Ah, oke... kamu sendiri saja yang kumpul bisakan? Sayonara.., " kata Shouta sambil melambaikan tangannya meninggalkan perempuan itu.
"Hei.. hei., tunggu dulu, hmph.. baiklah, biar aku saja sendiri."
Baru beberapa langkah Shouta berbalik kembali, "Hei kamu!" dia memanggil gadis itu.
"Ada apa?" ujarnya.
"Hmh, ano... kimi dare?" tanya Shouta.
Gadis itu hanya bisa terdiam mendengarnya. Bagaimana bisa dia tidak mengenal teman kelasnya sendiri. "Hah? Takaya-kun.., ini aku, Rin Suzu. Kita sudah sekelas hampir dua tahun. Kamu tidak mengenaliku?"
"Oh..., oke..., sayonara," Shouta meninggalkan Rin.
Rin hanya tersenyum melihat tingkahnya, "dasar dia ini."
Sudah lima hari aku tidak mengajar di sekolah. Kejadian malam itu masih membuatku shock. Aku harus memenangkan pikiranku hingga aku dapat kembali bekerja. Sekarang hari libur, besok aku harus masuk kerja.
'Ding..dong..' seseorang membunyikan bel. Aku mengintip melalui lubang pintu, terlihat Ayame sedang berdiri. Aku kembali ke dalam berharap wanita itu akan pergi, tapi dia tetap membunyikan bel dan mengetuk pintu, "Tachibana-san, keluarlah. Aku ingin membicarakan sesuatu," teriaknya. Akhirnya aku membukaan pintu dan menyuruhnya masuk.
Aku tahu topik apa yang hendak ia ceritakan, "Ada apa?" tanyaku.
"Tachibana-san, aku ingin menjelaskan sesuatu, sekarang ikutlah denganku" pintanya.
Wanita itu membawaku ke sebuah rumah yang besar dan megah. Kamipun masuk ke dalam rumah itu. Seorang pria tua menyambut kedatangan kami, dia adalah salah satu butler dalam rumah ini, "Tunggu sebentar, saya akan memanggilkan tuan muda," ujarnya.
Aku melihat rumah ini, rumah ini terlihat sangat besar, megah dan elegan. Rumah siapa yang kita datangin ini?.
Tak lama kemudian tuan rumahpun datang menghampiri kami, aku terkejut melihat. Seorang siswa di SMA Gokusen, Takaya Shouta, murid kelasku. Memakai piyama putih sambil menggendong kucing anggora dengan bulu yang putih bersih.
"Yo.., sensei" ujar Shouta sambil menunduk kepadaku. Dia menghampiri kami, duduk di samping Ayame. Dia hanya menatap kami sambil terus mengelus tubuh kucing anggora putih itu. Ayame memberikan isyarat kepadanya agar ia mengatakan sesuatu tetapi anak itu tetap saja diam.
"Ayolah ada sebenarnya ini? kenapa aku di bawa kemari" tanyaku penasaran.
"Ayame-san, apa kita bisa mempercayai orang ini?" ujar Shouta sambil menatapku dengan wajah datarnya, Ayame hanya menganggukan kepalanya. Anak ini, sama sekali tidak ada sopan santunya.
"Oke, baiklah," ujar Shouta.
"Sensei dengarkan baik-baik. Aku akan menjelaskan rahasia dibalik black pearl game ini. . . "
Bersambung...
Mendengar perkataannya membuatku menjadi tambah kesal. Aku menghampiri Shouta, menarik bajunya, "Apa kamu pikir ini lucu!" teriakku kepadanya. Aku menatap anak itu dengan dengan sangat marah, bagaimana bisa dia dengan santainya mengatakan hal itu, apa dia pikir ini hanya game biasa.
Shouta menatapku dengan wajah yang datar, melemparkan tanganku yang menempel di bajuya dan berbalik hendak meninggalkan kami. Tapi sebelum pergi dia mengatakan sesuatu, dia membuka earphone yang menempel di telinganya. Sepertinya dia hanya ingin agar kami bertiga saja yang mendengarkan. Dia kembali memakai earphone nya, "Satu gelang sudah aku dapatkan," kata Shouta dan berlari meninggalkan aku dan Ayame. Terdengar suara dari earphone kami, "Ha..ha.., bagus! dengan begini kita dapat menang dengan mudah." Suara orang itu lagi.
Aku menatap pria yang sejak tadi tergeletak di tanah. Apakah orang ini telah mati ataukah hanya pingsan seperti yang dikatakan Shouta. Mendengar perkataan Shouta tadi membuatku sadar akan apa yang telah kami hadapi sekarang.
"Tachibana-san, sebaiknya kita juga pergi dari sini," ujar Ayame.
Kami berlari melewati kontainer-kontainer tua di pelabuhan itu. Aku memperhatikan keadaan sekitar. Telah tepasang kamera di beberapa kontainer itu. Yah benar! kami telah diawasi.
"Aku mendapatkan gelang yang satu lagi," terdengar suara Shouta dari earphone yang kupakai. "Oke, bagus. Tetap teruskan apa yang kalian lakukan. Apapun yang terjadi kita harus memenagkan game ini," kata orang itu lagi. Suara orang itu, suara yang sejak tadi membayangi kami, yang selama ini hanya perberan di balik layar. Dialah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi sekarang ini. Orang yang telah menjebakku ke dalam perangkapnya.
"Dua gelang telah aku dapatkan," ujar Shouta. Dengan cepat Shouta hampir menyelesaikan pertandingan ini. "Oke, berarti sekarang hanya tinggal satu. Cepatlah bergerak dan kita akhiri permainan ini!" kata orang itu dengan semangat. Orang itu, tanpa berani memperlihatkan wajahnya hanya terus memerintah kami.
Aku sejak tadi hanya terus berlari tidak jelas. Yang sejak tadi hanya mendengar suara tembakan demi tembakan. Setiap suara letusan senjata itu menandakan telah jatuhnya korban. Beberapa aku dapati korban yang tergeletak di tanah dengan darah yang mengalir keluar dari tubuhnya. Aku sebenarnya ingin menolong mereka tapi bagaimana bisa, mereka mengawasi kami. Seperti kata Shouta tadi, kami tidak boleh gegabah.
Sepanjang jalan aku terus memikirkan kata yang keluar dari mulut Shouta, memikirkan mereka yang mengawasi kami, memikirkan mereka yang tergelatak di tanah dengan penuh darah hingga tanpa sadar aku telah terpisah dengan Ayame.
Aku mengelilingi pelabuhan yang luas itu tapi tidak satupun teman satu timku yang terlihat. Aku terus mencari mereka, tapi kemudian aku melihat seorang pria yang duduk lemah di tanah menyandarkan dirinya pada kontainer. Nafasnya terengah-engah, terlihat tangan dan kakinya terluka, tubuhnya penuh darah. Sepertinya tadi dia telah melalui pertarungan yang hebat.
Orang itu menatapku dan segera aku mengarahkan pistolku kepadanya. Aku melihat ekspresi wajahnya yang memperlihatkan rasa takut dan marah, "Doushite... doushite...," kata orang itu sambil menangis. "KENAPA KALIAN MELAKUKAN INI KEPADA KAMI," teriak orang itu yang berlari ke arahku.
Tubuhku terdiam kaku, tanganku memegang senapan hanya bisa gemetar. Aku tidak sanggup melawan pria itu tapi tiba-tiba terdengar suara letusan senjata dari belakang, pelurunya langsung menembus tubuh pria tadi. Darah segar dari orang itu terciprat di tubuh dan wajahku. Orang itu jatuh ke tanah, ia menghembuskn nafas terakhirnya.
Aku berbalik ke belakang. Terlihat Izuki yang sedang berdiri, dia yang telah menembak pria malang itu. "Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu hanya diam saja," ujarnya yang segera mengambil gelang di tangan sang mayat.
**********
Akhirnya permainan yang berdarah ini selesai, Izuki telah mendapatkan gelang yang kelima yang mengakhiri permainan. Aku memperhatikan keadaan kami berlima. Tangan Murata terluka akibat tembakan dari tim lawan dan yang lainnya baik-baik saja, tapi sebagai gantinya nyawa orang lain yang jadi korban.
Kami berlima dibawa kembali ke rumah masing-masing dengan cara yang sama seperti mereka membawa kami ke sini, dengan keadaan mata tertutup.
Aku akhirnya kembali di apartemenku, mengunci rapat-rapat pintu dan masuk ke dalam kamar. Tanganku sampai sekarang masih gemetar. Rasa takut, shock bercampur di dalam kepalaku. Aku masih mengingat orang yang tadi hampir membunuhku, aku beruntung masih bisa selamat, terlambat sedikit saja aku pasti sudah kehilangan nyawa.
Aku teringat perkataan Shouta tadi, "Sadarlah! dengan apa kita berhadapan sekarang ini. Sensei sekarang tidak bisa lari ataupun sembunyi, mereka mengawasi kita. Sebaiknya sensei jangan bertindak gegabah, asal tahu saja, mereka itu tidak segan-segan untuk melakukan apapun agar bisa memenangkan pertandingan ini. Bagi mereka kemengan adalah segalanya, tidak peduli rasa sakit dan cedera yang kita alami. Jadi untuk sekarang lakukan saja apa yang mereka perintahkan, kalau sensei tidak ingin mati."
Mereka, siapa mereka sebenarnya?
Aku melihat tas yang diberkan kepada kami berlima, kata mereka ini adalah upah yang kami dapat atas jerih payah kami, atau dengan kata lain upah atas pembantaian yang telah kami lakukan. Apakah upah itu sepadan dengan apa yang mereka alami, luka mereka, nyawa mereka.
Aku harus melakukan sesuatu, aku harus keluar dari permainan ini.
**********
Di sekolah Gokusen, Shouta hanya duduk diam di kelasnya menunggu pelajaran dimulai. Wakil kepala sekolah memasuki kelas, "Hari ini Tachibana sensei masih sakit jadi bapak yang gantikan dulu, kalau begitu mari kita mulai pelajarannya. Hari ini kalian akan mengerjakan tugas berkelompok, satu kelompok terdiri dari dua orang, silahkan kalian yang memilih kelompok sendiri, sepulang sekolah kalian kumpul tugas itu di meja bapak."
Anak-anak yang lain mulai mencari teman kelompoknya dan seperti biasa Shouta hanya diam di bangkunya meletakkan kepala di atas meja, berbaring santai sambil melihat pemandangan luar sekolah melalui jendela.
Tak lama kemudian seorang anak perempuan dengan rambut diikat menghampiri Shouta, dia adalah teman kelas Shouta, Rin Suzu. Shouta hanya menatap gadis itu dengan heran, "apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
"Ayo kita kerjakan tugas ini bersama," jawab perempuan itu.
"Hah?" dan dengan sangat terpaksa Shouta akhirnya bangkit dari mejanya, "Hufh, baiklah," ujar Shouta.
**********
'Ding.. dong..' bel sekolah berbunyi. Shouta mengemas barang-barangnya meninggalkan ruang kelas.
Shouta berjalan di koridor sekolah. "Takaya-kun!" seseorang berteriak memangilnya dari belakang. Shouta berbalik dan melihat perempuan dengan rambut diikat berlari ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Shouta.
"Hmnh, itu, tugas kelompok kita, ayo kita selesaikan lalu kumpul di meja sensei."
"Oh, untuk apa? hufh, baiklah" jawab Shouta dengan santai.
"Aah.., he..he.." melihat tingkah temannya cuek akan tugas mereka Rin hanya tersenyum bodoh.
Mereka berdua menyelesaikan tugas di perpustakaan sekolah, "baiklah sudah selesai, ayo kita pulang," ujar Shouta.
"Eh, mau kemana? kita harus kumpul tugas ini di meja pak guru," kata Rin.
"Ah, oke... kamu sendiri saja yang kumpul bisakan? Sayonara.., " kata Shouta sambil melambaikan tangannya meninggalkan perempuan itu.
"Hei.. hei., tunggu dulu, hmph.. baiklah, biar aku saja sendiri."
Baru beberapa langkah Shouta berbalik kembali, "Hei kamu!" dia memanggil gadis itu.
"Ada apa?" ujarnya.
"Hmh, ano... kimi dare?" tanya Shouta.
Gadis itu hanya bisa terdiam mendengarnya. Bagaimana bisa dia tidak mengenal teman kelasnya sendiri. "Hah? Takaya-kun.., ini aku, Rin Suzu. Kita sudah sekelas hampir dua tahun. Kamu tidak mengenaliku?"
"Oh..., oke..., sayonara," Shouta meninggalkan Rin.
Rin hanya tersenyum melihat tingkahnya, "dasar dia ini."
**********
Sudah lima hari aku tidak mengajar di sekolah. Kejadian malam itu masih membuatku shock. Aku harus memenangkan pikiranku hingga aku dapat kembali bekerja. Sekarang hari libur, besok aku harus masuk kerja.
'Ding..dong..' seseorang membunyikan bel. Aku mengintip melalui lubang pintu, terlihat Ayame sedang berdiri. Aku kembali ke dalam berharap wanita itu akan pergi, tapi dia tetap membunyikan bel dan mengetuk pintu, "Tachibana-san, keluarlah. Aku ingin membicarakan sesuatu," teriaknya. Akhirnya aku membukaan pintu dan menyuruhnya masuk.
Aku tahu topik apa yang hendak ia ceritakan, "Ada apa?" tanyaku.
"Tachibana-san, aku ingin menjelaskan sesuatu, sekarang ikutlah denganku" pintanya.
Wanita itu membawaku ke sebuah rumah yang besar dan megah. Kamipun masuk ke dalam rumah itu. Seorang pria tua menyambut kedatangan kami, dia adalah salah satu butler dalam rumah ini, "Tunggu sebentar, saya akan memanggilkan tuan muda," ujarnya.
Aku melihat rumah ini, rumah ini terlihat sangat besar, megah dan elegan. Rumah siapa yang kita datangin ini?.
Tak lama kemudian tuan rumahpun datang menghampiri kami, aku terkejut melihat. Seorang siswa di SMA Gokusen, Takaya Shouta, murid kelasku. Memakai piyama putih sambil menggendong kucing anggora dengan bulu yang putih bersih.
"Yo.., sensei" ujar Shouta sambil menunduk kepadaku. Dia menghampiri kami, duduk di samping Ayame. Dia hanya menatap kami sambil terus mengelus tubuh kucing anggora putih itu. Ayame memberikan isyarat kepadanya agar ia mengatakan sesuatu tetapi anak itu tetap saja diam.
"Ayolah ada sebenarnya ini? kenapa aku di bawa kemari" tanyaku penasaran.
"Ayame-san, apa kita bisa mempercayai orang ini?" ujar Shouta sambil menatapku dengan wajah datarnya, Ayame hanya menganggukan kepalanya. Anak ini, sama sekali tidak ada sopan santunya.
"Oke, baiklah," ujar Shouta.
"Sensei dengarkan baik-baik. Aku akan menjelaskan rahasia dibalik black pearl game ini. . . "
Bersambung...
Sign up here with your email

12 komentar
Write komentarwwih seru ceritanya, meskipun gak baca bagian pertama. Settingnya juga unik ya, di pelabuhan. Biasanya perang perang gitu kan di hutan kayak Hunger games
ReplyOia games ngambil gelang gini, jd inget acara mission x di trans tv haha
Asiiikk, setelah menunggu sekian lama, akhirnya di update jg yg ke 2 nya :D Ngmong2, ini bkinnya brp lama kak? Haha..
ReplyMantep bner, brasa lg nnton anime nih.. Alur ceritanya jg unik banget lagi.. Seru! Dan pastinya menegangkan! Apalagi yg hampir ketembak td tuh.. :o Jd game nya ini semacam bunuh2an gtu ya? Padahal cuma rebutan gelang doang, gelang mah beli aja gtu ya di toko accessoris, gausah sampe rebutan malah ampe bunuh2an gitu:( wkwk #garing
Masih gantung lg nih ceritanya, rahasia dibalik black pearl game nya belum terungkap.. Bisa ajadeh bikin pembaca jd penasarann.__.
Ohiya kak, itu yg bagian "apa yang ia dapatkan dengan permainan ini." "Ada apa sebenarnya dengan permainan ini." Sama "Bagaimana bisa dia dengan santainya mengatakan hal itu, apa dia pikir ini hanya game biasa." Kayaknya hrs pake tanda tanya deh? Kyaknya ya kak, aku jg soktau bangetsih._.v wkwk. Brasa kurang gtu soalnya klo gak pake tanda tanya.. Hehee
Ditunggu kelanjutannya kak! Semangat yaah!! Bikin efek yg lebih menegangkan lagi, dan beri kami kejutan di endingnya :3 Hueheee..
Apa rahasia di balik game ini? Aku kira ini seperti cerpen kalau nggak sadar ini tuh sebenarnya game.
Replyawalnya kukira bakalan membosankan karena memakai pembukaan mainstream yang seperti itu. Tapi ini keren.
Replyya walau pergantian POV nya kadang bikin bingung tapi good
dialognya juga gk ada masalah kayaknya
ah ya, diawal-awal terlalu bertele-tele pendeskripsiannya. apalagi ada bagian dimana dia jelasin permainan udah dimulai tapi pas kalimat selanjutnya malah jelasin lagi kalau gmenya dimulai.
masuk battle itu udah bagus menurutku
gue berasa kayak baca komik nih hehe
Replyseru juga nih ceritanya panjang gitu sampe bersambung..
di awal gue kira ini kayak Ansatsu gitu, eh pertengahn gue kira ini kaya Deadman Wonderlan -_- tapi gue salah besar, gamenya menegangkan nih ;))
Ha..ha.., mission x atau bisa juga running man.
ReplyIya tempatnya di pelabuhan, karena gamenya berlangsung satu malam saja dan langsung kembali ke rumah masing-masing jadi kayaknya lebih baik kalau dalam kota.
Oh begitu yah, kurang tanda tanya, ok terima kasih kritik dan sarannya.
ReplyWaduh Lulu, jangan ditanya berapa lama bikinnya. Pertamanya sudah ketik sedikit, besoknya lagi tambah sedikit tapi sayangnya harus berhenti dulu. Baru sekarang bisa diselesaikan. Kalau ceritanya saya terispirasi dari film Jepang.
Ha..ha..., iya. Untuk gelang saja sampai harus bunuh-bunuhan, lebih baik beli saja.
Mohon doanya yah, semoga part selanjutnya bisa cepat dipostingkan.
Nanti di part selanjutkan akan dijelaskan. Kenapa bisa black pearl game tercipta, siapa penciptanya, alasan Ayame dan Shouta menjadi peserta game ini, dll.
ReplyKayakanya ini tidak termasuk cerpen karena ceritanya terlalu panjang.
Oh begitu yah...
ReplyWah terima kasih kritik dan sarannya, sangat membantu... :)
Kelemahan saya kayaknya di situ, pada pendeskripsiannya.
He..he.., terima kasih. Ceritanya terisnpirasi dari Jepang.
ReplyWow, seperti baca komik? serasa jadi mangaka nih, asiikk... :)
Ansatsu dan Deadman Wonderland? wah belum pernah nonton..
Sebagai Pangeran yang sudah lama tidak membaca blog. Gue ngerasa agak terkagum2 gitu.
ReplySoalnya, cara membangun dan mendeskripsikannya gampang difahami. Gak telalu bertele-tele sampe pembaca juga nyaman buat faham maksud cerita.
Gue sendiri, agak kaget, main gelang Sampe bertaruh nyawa. Mending beli sendiri, bisa pake kapan aja.
Emang sih, gue ngerasa Lagi baca komik anime gitu. Kerenlah.
Wah terima kasih.... :)
ReplyMungkin karena suka nonton anime jadi ceritanya seperti anime.
Ha..ha.., iya. Lebih baik gelangnya beli sendiri, bisa pilih sendiri sesuai selera...
Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon