Jakarta Love Story - Bagian 7

Yang penasaran dengan cerita sebelumnya bisa mampir DISINI





Kejadian tadi benar-benar tidak disangkah. Akibat hukuman dari Pak Yanto membuatksu bisa akrab dengan Indah. Ternyata selain cantik dia juga ramah, benar-benar bidadari kampus.

Hari-hariku di kampus mulai berwarna. Setiap kali aku dan Indah berpapasan, kami hanya berjalan melewati satu sama lain tidak bertegus sapa. Tapi kali ini berbeda, setiap kali berpapasan kami saling bertukan senyuman. Hampir setiap hari aku melihat senyumannya yang manis, dan pastinya itu ditujukan untukku. Aahai…. senangnya.

Aku menceritakan kejadian itu kepada Dito dan dia mendukung hubungan kami. 

**********

Hari ini aku kuliah seperti biasa. Bangun pagi, rebutan kamar mandi dengan anak kos yang lain, sarapan di angkot. Yahh…, begitulah kehidupan anak kos yang merantau mencari pendidikan di kota orang.

Aku sampai di ruang kelas, duduk manis sambil menunggu dosen, si dosen killer ‘Pak Yanto’. Sebenarnya aku malas ikut kuliah ini, harus berpapasan dengan dosen itu membuatku merinding. Apalagi pak Yanto sudah mem blacklist namaku karena dulu aku pernah terlambat dan tidak mengerjakan tugas. Aku tidak boleh membuat masalah kali ini
.
Tidak lama kemudian dosen yang ditunggu-tunggupun datang. Baru satu langkah dia memasuki kelas kami, tapi auranya sudah menyebar ke seluruh ruang kelas. Dia mengabsen kami satu persatu, dan saat namaku disebut dia berhenti sejenak sambil menatap kearahku, “Kenapa dia melihat kesini? Haduh, dia pasti tahu namaku. Sekarang aku benar-benar ada dalam daftar mahasiswa yang bermasalah,” ucapku dalam hati.

Pak Yanto menjelaskan di depan selama dua jam dan selama itu pula ketegangan yang kami rasakan. Saat beliau telah keluar dari ruangan ini, kami akhirnya bissa bernapas lega. Ya ampun, sebegitu menyeramkannya kah bapak dekan kami yang satu ini?

**********

Karena tuntutan tugas kuliah yang dikejar waktu membuatku harus tinggal di kampus sampai malam. Dan bukan cuma aku, Dito juga harus tinggal sampai malam di kampus. Akhirnya klami pulang bersama malam ini. Tapi bagi kami mahasiswa teladan di kampus ini, pulang malam sudah menjadi hal yang biasa. Cie… mahasiswa teladan nih, Telat Datang Puluang Duluan maksudnya.

Kami berjalan bersama keluar kampus. Tapi langkahku terhenti saat melihat bidadari kampus yang berdiri di seberang jalan, kelihatannya dia menunggu angkot.

“Dito lihat kesana, ada Indah tuh,” kataku sambil menunjuk ke arah Indah.

“Mana, tidak kelihatan?” Tanya Dito.

“Yang itu, yang pakai kemeja coklat,” kataku sambil membalikkan wajah Dito ke arah Indah

“Oh…,” Dito langsung tersenyum sambil melirik ke arahku. Mulai lagi, godaan Dito akhirnya muncul.

“Kamu kenapa?” tanyaku keheranan

“Ini kesempatanmu,” ucap Dito bersemangat

“Kesempatan apa maksudnya?” tanyaku lagi

“Yah.., kesempatan untuk mendekati Indah. Lihat disana, dia menunggu sendirian. Ini kesempatan buat kamu. Bilang saja kamu mau mengantarnya pulang,” jelas Dito

“Mengantarnya pulang, tapi dengan apa? Kita kan tidak punya kendaraan,” kataku. Sekedar ingin menolak

“Tidak usah pakai kendarann, dengan angkot juga bisa kan? Jadi nanti kalian naik angkot berdua, cie yang nanti berduaan di angkot,” Dito menggodaku lagi.

Sebenarnya aku malu untuk mengajak Indah pulang, tapi karena paksaan Dito akhirnya aku setuju tapi dengan syarat Dito harsus mengikuti kami dari belakang dan dia menyetujuinya.

Aku pun mulai mendekati Indah, menyapanya dengan senyuman dan dia membalas dengan senyuman. Aku berbalik kea rah Dito yang berdiri tidak jauh dari tempat kami. Dia memberikan isyarat agar aku memulai percakapan.

Dengan seluruh keberanian yang ada, aku pun memulai percakapan kami, “Kak Indah, eh maksudnya Indah, mau pulang yah?” tanyaku sekedar basa-basi.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Sendirian saja?” tanyaku lagi.

“Iya, sekarang saya lagi tunggu angkot lewat,” jawab Indah

“Memang tidak apa-apa malam begini pulang sendirian” tanyaku untuk kesekian kalinya

“Ya.., tidak apa-apa kan. Lagipula rumahku juga dekat dari sini,” jawab Indah suntuk kesekian kalinya pula

“Memang rumahnya dimana? eh…, maaf kalau banyak tanya," ucapku sambil menggaruk kepala 

“Dekat kok, Cuma di jalan Adi Darma depan” jawabnya

“Oh, itukan searah dengan tempat kos ku. Kalau saya antar bagaimana?” aku pun memulai aksiku.

Indah diam sejenak, dia terlihat sedikit bingung dengang perkataanku tadi, “Memang mau antar dengan apa?” tanyanya dengan nada pelan. Dan dengan lantangnya aku menjawab, “Dengan angkot lah.”

Dia tertawa mendengar ucapanku tadi. Akhir dia menyetujui ajakanku untuk mengantarnya pulang. Ide Dito ternyata berhasil juga. Aku berbalik lagi ke arah Dito memberikan isyarat kalau semuanya sudah oke. Kami melanjutkan percakapan kami sambil menunggu angkot.

Yang kami tunggupun akhirnya tiba. Kami berdua menaiki angkot dan yang pastinya disusul Dito yang sejak tadi telah sabar menunggu sendiri. Aku dan Indah duduk di belakang sopir angkot, sedangkan Dito mengambil posisi di pojok belakang.

Dalam angkot kami tetap melanjutkan percakapan kami. Indah menanyakan asalku darimana dan aku menjawab kota Makasaar. Aku menceritakan keadaan kota asalku, seluk beluk makasaar, tentang kulinernya, tempat wisatanya, dan sebagainya. Indah terlihat  tertarik dengan ceritaku ini. Kami mulai menikmati percakapan kami. Aku pun berpikir kalau rencana Dito ini berjalan dengan lancar. Hingga saat seseorang meminta untuk turun dari angkot.

Aku terkejut mendengar suara itu karena suara itu berasal dari mulut Dito. Pak sopir menghentikan mobilnya, dan Dito langsung turun dari angkot itu. Aku melihatnya melirik ke arahku sambil tersenyum dan langsung pergi meninggalkan kami. Angkot kembali berjalan tapi mataku tidak bisa berpaling dari Dito yang semakin lama banyangannya semakin menghilang, “Ilo ada apa?” Tanya Indah, “Ah, tidak,” jawabku.

“Ada apa dengan anak itu? Padahal kan dia sudah janji. Awas nanti kalau ketemu di tempat kos,” ucapku dalam hati dengan kesal. Tapi rasa kesal itu mulai menghilang saat Dito mengirimkan pesan mengatakan kalau dia tidak mau mengganggu kami. Aku menghargai pendapatnya, hanya saja aku kurang percaya diri kalau tidak ada Dito karena selama ini dia yang selalu membantuku kalau menyangkut masalah cewek. Sepertinya sekarang aku harus berjuang sendiri.

**********

Jarak dari kampus dengan rumah Indah memang tidak jauh, kurang lebih sepuluh menit perjalan dengan angkot lalu berjalan sekitar 150 meter agar di rumah Indah. Aku berhasil mengantarnya sampais tempat tujuan dengan selamat. Aku menunggu Indah sampai masuk ke rumah. Dan saat dia buka pintu, aku terkejut melihat sosok yang telah berdiri menunggu dibalik pintu. Dia adalah bapak dekan kami, pak Yanto.

“Indah baru pulang,” tegur pak Yanto

“Iya Om, ada kegiatan tadi di kampus,” Jawab Indah, “Tadi dia bilang om, berarti Indah adalah keponakannya pak Yanto,” pikirku.

Indah berbalik hendak berpamitan tapi dihentikan oleh pak Yanto, “Cepat masusk, makan malam sudah siap,” perintah pak Yanto. Indah akhirnya masuk ke dalam dan meninggalkan kami berdua. Saat itu aku menjadi patung, tubuhku seperti tidak bergerak, aku tidak bsisa berkata apapun. Sedangkan pak Yanto, tarsus saja smenatapku dengan tatapan yang tajam. Ingin rasanya aku segera  menghilang dari tempat ini.

“Kamu Ilo kan?” Tanya pak Yanto

“ I..Iya pak,” Jawabku

“Kenapa kamu bisa jalan sama Indah?” Tanya pak Yanto lagi, tapi kali ini dengan nada tegas.

“Ng.., kebetulan tadi kami bertemu, karena sudah malam dan tujuan kami searah jadi aku mengantarnya pulang,” jawabku sedikit takut.

“Lain kali kamu tidak usah mengantar Indah pulang,” tegasnya.

“I..Iya om, eh pak, eh maksudnya…iya pak,” jawabku dengan gugup.

“Nah karena sudah malam sebaiknya kamu pulang, SEKARANG!”

Mendengar ucapan Pak Yanto aku segera berlari meninggalkan rumah itu. Tadi itu rasanya seperti jantungku mauh pecah, berdegup sangat kencang. Ini semua karena Dito, coba saja dia tidak memaksaku untuk mengantar Indah pulang tidak benini jadinya. Dia juga meninggalkanku di angkot tadi, jadi yang kena marah cuma aku seorang.

Aku terus memikirkan kejadian di rumah tadi hingga tidak melihat lubang kecil di depan dan  membuatku terjatuh. Dan tiba-tiba saja aku terbangun. Aku melihat posisiku telash berada di bawah ranjang, sepertinya aku terjatuh saat tidur. Aku kembali melanjutkan tidurku.

Untungnya semua itu cuma mimpi.

Bersambung


Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Niki s
AUTHOR
16 April 2016 at 19:19 delete

Nah loh hayoloh ponakannya pak yanto loh
Itu pas turun dari angkot bayar engga? Berapa ongkosnya?

Reply
avatar
Nur
AUTHOR
20 April 2016 at 07:30 delete

wahh... kek nya follower kakak nambah nih malam ini. (Aku kak)
semangat ya kak. ceritanya aku yakin bagus.
izin copas ke MW ya , biar lebih bebas bacanya.
o'ya kunjungi blog baru aku donk .. hehe modus ya .
http://ownstorikun.blogspot.com/
thanks , semangat terus penulis indonesia.

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
23 April 2016 at 06:34 delete

Yah... kayaknya dia lupa bayar, he..he... :D

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
23 April 2016 at 07:12 delete

Wah, makasih sudah jadi follower. Iya, tetap semangat... ^_^

Pasti saya kunjung balik ke blog kamu...

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon