Yang penasaran dengan cerita sebelumnya bisa mampir DISINI
Kejadian
tadi benar-benar tidak disangkah. Akibat hukuman dari Pak Yanto membuatksu bisa
akrab dengan Indah. Ternyata selain cantik dia juga ramah, benar-benar bidadari
kampus.
Hari-hariku
di kampus mulai berwarna. Setiap kali aku dan Indah berpapasan, kami hanya
berjalan melewati satu sama lain tidak bertegus sapa. Tapi kali ini berbeda,
setiap kali berpapasan kami saling bertukan senyuman. Hampir setiap hari aku
melihat senyumannya yang manis, dan pastinya itu ditujukan untukku. Aahai….
senangnya.
Aku menceritakan kejadian itu kepada Dito dan dia mendukung hubungan kami.
**********
Hari ini aku
kuliah seperti biasa. Bangun pagi, rebutan kamar mandi dengan anak kos yang
lain, sarapan di angkot. Yahh…, begitulah kehidupan anak kos yang merantau
mencari pendidikan di kota orang.
Aku sampai
di ruang kelas, duduk manis sambil menunggu dosen, si dosen killer ‘Pak Yanto’.
Sebenarnya aku malas ikut kuliah ini, harus berpapasan dengan dosen itu
membuatku merinding. Apalagi pak Yanto sudah mem blacklist namaku karena dulu
aku pernah terlambat dan tidak mengerjakan tugas. Aku tidak boleh membuat
masalah kali ini
.
Tidak lama
kemudian dosen yang ditunggu-tunggupun datang. Baru satu langkah dia memasuki
kelas kami, tapi auranya sudah menyebar ke seluruh ruang kelas. Dia mengabsen
kami satu persatu, dan saat namaku disebut dia berhenti sejenak sambil menatap
kearahku, “Kenapa dia melihat kesini? Haduh, dia pasti tahu namaku. Sekarang
aku benar-benar ada dalam daftar mahasiswa yang bermasalah,” ucapku dalam hati.
Pak Yanto
menjelaskan di depan selama dua jam dan selama itu pula ketegangan yang kami
rasakan. Saat beliau telah keluar dari ruangan ini, kami akhirnya bissa bernapas
lega. Ya ampun, sebegitu menyeramkannya kah bapak dekan kami yang satu ini?
**********
Karena tuntutan
tugas kuliah yang dikejar waktu membuatku harus tinggal di kampus sampai malam.
Dan bukan cuma aku, Dito juga harus tinggal sampai malam di kampus. Akhirnya
klami pulang bersama malam ini. Tapi bagi kami mahasiswa teladan di kampus ini,
pulang malam sudah menjadi hal yang biasa. Cie… mahasiswa teladan nih, Telat
Datang Puluang Duluan maksudnya.
Kami berjalan
bersama keluar kampus. Tapi langkahku terhenti saat melihat bidadari kampus yang
berdiri di seberang jalan, kelihatannya dia menunggu angkot.
“Dito lihat
kesana, ada Indah tuh,” kataku sambil menunjuk ke arah Indah.
“Mana, tidak
kelihatan?” Tanya Dito.
“Yang itu,
yang pakai kemeja coklat,” kataku sambil membalikkan wajah Dito ke arah Indah
“Oh…,” Dito
langsung tersenyum sambil melirik ke arahku. Mulai lagi, godaan Dito akhirnya
muncul.
“Kamu
kenapa?” tanyaku keheranan
“Ini
kesempatanmu,” ucap Dito bersemangat
“Kesempatan
apa maksudnya?” tanyaku lagi
“Yah..,
kesempatan untuk mendekati Indah. Lihat disana, dia menunggu sendirian. Ini
kesempatan buat kamu. Bilang saja kamu mau mengantarnya pulang,” jelas Dito
“Mengantarnya
pulang, tapi dengan apa? Kita kan tidak punya kendaraan,” kataku. Sekedar ingin
menolak
“Tidak usah pakai
kendarann, dengan angkot juga bisa kan? Jadi nanti kalian naik angkot berdua,
cie yang nanti berduaan di angkot,” Dito menggodaku lagi.
Sebenarnya aku
malu untuk mengajak Indah pulang, tapi karena paksaan Dito akhirnya aku setuju tapi
dengan syarat Dito harsus mengikuti kami dari belakang dan dia menyetujuinya.
Aku pun mulai
mendekati Indah, menyapanya dengan senyuman dan dia membalas dengan senyuman. Aku
berbalik kea rah Dito yang berdiri tidak jauh dari tempat kami. Dia memberikan
isyarat agar aku memulai percakapan.
Dengan seluruh
keberanian yang ada, aku pun memulai percakapan kami, “Kak Indah, eh maksudnya
Indah, mau pulang yah?” tanyaku sekedar basa-basi.
“Iya,”
jawabnya singkat.
“Sendirian
saja?” tanyaku lagi.
“Iya,
sekarang saya lagi tunggu angkot lewat,” jawab Indah
“Memang
tidak apa-apa malam begini pulang sendirian” tanyaku untuk kesekian kalinya
“Ya.., tidak
apa-apa kan. Lagipula rumahku juga dekat dari sini,” jawab Indah suntuk kesekian kalinya pula
“Memang
rumahnya dimana? eh…, maaf kalau banyak tanya," ucapku sambil menggaruk kepala
“Dekat kok, Cuma
di jalan Adi Darma depan” jawabnya
“Oh, itukan
searah dengan tempat kos ku. Kalau saya antar bagaimana?” aku pun memulai
aksiku.
Indah diam sejenak, dia terlihat sedikit bingung dengang perkataanku tadi, “Memang mau antar dengan apa?” tanyanya dengan nada pelan. Dan dengan lantangnya aku menjawab, “Dengan angkot lah.”
Dia tertawa
mendengar ucapanku tadi. Akhir dia menyetujui ajakanku untuk mengantarnya
pulang. Ide Dito ternyata berhasil juga. Aku berbalik lagi ke arah Dito memberikan
isyarat kalau semuanya sudah oke. Kami melanjutkan percakapan kami sambil
menunggu angkot.
Yang kami
tunggupun akhirnya tiba. Kami berdua menaiki angkot dan yang pastinya disusul
Dito yang sejak tadi telah sabar menunggu sendiri. Aku dan Indah duduk di
belakang sopir angkot, sedangkan Dito mengambil posisi di pojok belakang.
Dalam angkot
kami tetap melanjutkan percakapan kami. Indah menanyakan asalku darimana dan
aku menjawab kota Makasaar. Aku menceritakan keadaan kota asalku, seluk beluk makasaar, tentang kulinernya,
tempat wisatanya, dan sebagainya. Indah terlihat tertarik dengan
ceritaku ini. Kami mulai menikmati percakapan kami. Aku pun berpikir kalau
rencana Dito ini berjalan dengan lancar. Hingga saat seseorang meminta untuk
turun dari angkot.
Aku terkejut
mendengar suara itu karena suara itu berasal dari mulut Dito. Pak sopir menghentikan
mobilnya, dan Dito langsung turun dari angkot itu. Aku melihatnya melirik ke
arahku sambil tersenyum dan langsung pergi meninggalkan kami. Angkot kembali
berjalan tapi mataku tidak bisa berpaling dari Dito yang semakin lama banyangannya
semakin menghilang, “Ilo ada apa?” Tanya Indah, “Ah, tidak,” jawabku.
“Ada apa
dengan anak itu? Padahal kan dia sudah janji. Awas nanti kalau ketemu di tempat
kos,” ucapku dalam hati dengan kesal. Tapi rasa kesal itu mulai menghilang saat
Dito mengirimkan pesan mengatakan kalau dia tidak mau mengganggu kami. Aku menghargai
pendapatnya, hanya saja aku kurang percaya diri kalau tidak ada Dito karena
selama ini dia yang selalu membantuku kalau menyangkut masalah cewek. Sepertinya
sekarang aku harus berjuang sendiri.
**********
Jarak dari
kampus dengan rumah Indah memang tidak jauh, kurang lebih sepuluh menit perjalan
dengan angkot lalu berjalan sekitar 150 meter agar di rumah Indah. Aku berhasil
mengantarnya sampais tempat tujuan dengan selamat. Aku menunggu Indah sampai
masuk ke rumah. Dan saat dia buka pintu, aku terkejut melihat sosok yang telah
berdiri menunggu dibalik pintu. Dia adalah bapak dekan kami, pak Yanto.
“Indah baru
pulang,” tegur pak Yanto
“Iya Om, ada
kegiatan tadi di kampus,” Jawab Indah, “Tadi dia bilang om, berarti Indah
adalah keponakannya pak Yanto,” pikirku.
Indah
berbalik hendak berpamitan tapi dihentikan oleh pak Yanto, “Cepat masusk, makan
malam sudah siap,” perintah pak Yanto. Indah akhirnya masuk ke dalam dan
meninggalkan kami berdua. Saat itu aku menjadi patung, tubuhku seperti tidak
bergerak, aku tidak bsisa berkata apapun. Sedangkan pak Yanto, tarsus saja
smenatapku dengan tatapan yang tajam. Ingin rasanya aku segera menghilang dari tempat ini.
“Kamu Ilo
kan?” Tanya pak Yanto
“ I..Iya
pak,” Jawabku
“Kenapa kamu
bisa jalan sama Indah?” Tanya pak Yanto lagi, tapi kali ini dengan nada tegas.
“Ng..,
kebetulan tadi kami bertemu, karena sudah malam dan tujuan kami searah jadi aku
mengantarnya pulang,” jawabku sedikit takut.
“Lain kali
kamu tidak usah mengantar Indah pulang,” tegasnya.
“I..Iya om,
eh pak, eh maksudnya…iya pak,” jawabku dengan gugup.
“Nah karena
sudah malam sebaiknya kamu pulang, SEKARANG!”
Mendengar ucapan
Pak Yanto aku segera berlari meninggalkan rumah itu. Tadi itu rasanya seperti
jantungku mauh pecah, berdegup sangat kencang. Ini semua karena Dito, coba saja
dia tidak memaksaku untuk mengantar Indah pulang tidak benini jadinya. Dia juga
meninggalkanku di angkot tadi, jadi yang kena marah cuma aku seorang.
Aku terus memikirkan
kejadian di rumah tadi hingga tidak melihat lubang kecil di depan dan membuatku terjatuh. Dan tiba-tiba saja aku
terbangun. Aku melihat posisiku telash berada di bawah ranjang, sepertinya aku
terjatuh saat tidur. Aku kembali melanjutkan tidurku.
Untungnya semua
itu cuma mimpi.
Bersambung
Sign up here with your email

4 komentar
Write komentarNah loh hayoloh ponakannya pak yanto loh
ReplyItu pas turun dari angkot bayar engga? Berapa ongkosnya?
wahh... kek nya follower kakak nambah nih malam ini. (Aku kak)
Replysemangat ya kak. ceritanya aku yakin bagus.
izin copas ke MW ya , biar lebih bebas bacanya.
o'ya kunjungi blog baru aku donk .. hehe modus ya .
http://ownstorikun.blogspot.com/
thanks , semangat terus penulis indonesia.
Yah... kayaknya dia lupa bayar, he..he... :D
ReplyWah, makasih sudah jadi follower. Iya, tetap semangat... ^_^
ReplyPasti saya kunjung balik ke blog kamu...
Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon