Please, Just Give Me That - Precious Time

"Yuki ayo cepat, pertandingannya akan segera dimulai," kata Hikaru menunggu Yuki. "Iya ini tinggal sedikit lagi, kitakan harus memberikan semangat untuk Abe,"  jawab Yuki yang sibuk membuat spanduk untuk pertandingan. Setelah selesai bersiap mereka menuju lapangan untuk menyaksikan pertandingan bola Abe. Hari pertandingan final bola kampus dan tim Abe berhasil masuk final.

Hikaru dan Yuki sampai di lapangan dan mengambil posisi di baris ketiga dari depan. Pertandingan telah dimulai beberapa menit lalu, belum ada gol yang dicetak dari kedua tim. Terdengar suara teriakan dari masing-masing pendukung. Yuki mengangkat spanduk yang telah ia buat selama berjam-jam, berteriak kencang hingga orang disekitarnya kaget karena teriakan Yuki, "ABE GAMBATTE!!"

Pertandingan telah berlangsung tiga puluh menit tapi belum juga ada bola yang masuk dikedua gawang. Suasana tegang dapat dirasakan diseluruh lapangan hingga akhirnya bola mendarat di kaki sang hero di lapangan ini 'Abe' yang membuat suasana berubah. Abe berlari menggiring bola mendekati gawang lawan, melemparkan satu tendangan dan berhasil memberikan satu angka untuk timnya. Tak lama kemudian pertandingan akhirnya selesai dengan kemenangan tim Abe.

Mereka bertiga pulang bersama, sebelum kembali ke asrama mereka sepakat untuk membeli hadiah untuk adik Abe, Ayumi. Mereka memasuki toko boneka, mencari boneka yang mungkin akan disukai Ayumi. Yuki yang paling semangat dalam berbelanja kali ini, "Aku akan beli boneka yang paling cantik di toko ini, agar Ayumi bisa memperlihatkan ke teman-temannya. Oh.., aku juga akan membelikannya gaun. Lihat gaun ini, sangat cocok dengan Ayumi. Aahh..., kalau dia pakai gaun ini pasti terlihat sangat cantik, Kalau kalian bagaimana?" tanya Yuki.

"Aku membelikan boneka beruang dan kelinci kesukaan Ayumi," jawab Hikaru, "Aku juga," sambung Abe.

"Hah, apa-apaan kalian cuma membeli itu. Untung Ayumi mempunyai aku, aku akan membelikan hadiah yang banyak untuknya," Sambung Yuki.

Mereka bertiga keluar dari toko dengan hadiah di tangan mereka, Abe dan Hikaru hanya membawa satu tas kecil sedangkan Yuki membawa setumpuk tas berisi hadiah untuk Ayumi. Mereka menaiki mobil putih milik Yuki dan menuju asrama.

 "Tunggu dulu, aku lupa membeli buku, Yuki bisa kita pergi ke toko buku dulu sebentar? aku ingin membeli beberapa buku sebelum pulang ke rumah. Abe, tidak apa-apakan kalau kita singgah dulu?" pinta Hikaru yang lupa membeli buku, Abe hanya menganggukkan kepalanya, Yuki yang menyetir mobil segera memutar arah menuju toko buku terdekat. Sampainya di toko Hikaru segera berkeliling mencari buku yang ia butuhkan dibantu oleh Yuki, sedangkan Abe hanya terdiam, matanya tertuju pada satu buku, "Abe ada apa?" tanya Yuki yang tadi memperhatikan Abe, "Tidak, tidak ada apa-apa. Ayo cepat kita cari buku Hikaru dan segera pulang," jawab Abe.

Hari telah sore saat mereka tiba di asrama. Sampainya di kamar Abe dengan tergesa-gesa mengepak barang-barangnya, "Apa kamu jadi pulang malam ini?" tanya Hikaru, "Iya, aku harus cepat pulang, keluargaku sudah menunggu. Gomen, tapi aku tidak bisa menunggu sampai besok" jawab Abe sambil memasukkan baju ke dalam koper. "Ah, tidak apa-apa, kami mengerti. Sini biar kami bantu," ujar Yuki yang berjalan mendekati Abe membantu mengepak barang, begitupun dengan Hikaru.

Mereka berdua mengantar Abe ke stasiun, "Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa ikut dengan kalian kalau harus menunggu besok pagi," ujar Abe, terlihat wajah Abe yang kecewa tidak bisa berangkat bersama dengan sahabatnya. "Ah sudahlah, cepat pergi sana, Ayumi dan yang lainnnya pasti sudah menunggumu. Besok kami akan menyususl" kata Yuki sambil menepuk lengan Abe. Selepas kepergian Abe mereka kembali ke asrama, beristirahat sejenak. Suasana di kamar hening, tidak banyak yang bisa mereka perbincangkan,  dalam kepala mereka hanya memikirkan keadaan sahabatnya itu, mereka tahu bagaimana perasaan Abe.

*********

Fajar telah terlihat, Hikaru yang terbangun lebih dulu mulai membersihkan kamar, "Yuki bangunlah, sekarang sudah pagi, kita harus cepat berangkat," Hikaru mencoba membangunkan Yuki. Setelah sarapan mereka mengepak barang masing-masing, memasukkan koper ke bagasi mobil dan berangkat meninggalkan asrama. Setelah melalui perjalanan panjang mereka akhirnya sampai di tempat tujuan.

"Apa benar disini tempatnya?" tanya Hikaru.

"Kalau dari petunjuk Abe memang disini, " Jawab Yuki.

"Oh lihat! itu Abe," kata Hikaru semangat sambil menunjuk ke arah Abe yang berdiri di depan rumah sakit menunggu kedatangan mereka.

"Oh iya, dia pasti sudah menunggu kita," ujar Yuki

Abe yang melihat mobil Yuki pergi menghampirinya. Abe membantu kedua sahabatnya itu mebawa barang dan memimpin jalan ke depan diikuti Hikaru dan Yuki. Mereka berjalan melewati banyak kamar yang ada di rumah sakit dan akhirnya sampai di tempat tujuan, "Ayo masuk, semua sudah menunggu kalian."

Abe membuka pintu kamar, dapat terlihat dalam kamar seorang gadis kecil terbaring di atas ranjang dengan jarum infus yang tertempel di tangannya. Hikaru dan Yuki memasuki kamar dan disambut dengan hangat oleh keluarga Abe.

"Okaa-san, sekarang kalian bisa pulang, beristirahatlah dirumah, kalian pasti lelah menjaga Ayumi setiap hari, sekarang kan kami sudah datang jadi biar kami dan Abe yang akan menjanganya disini," kata Hikaru

"Ah tidak apa-apa, kalian baru datang pasti capek," kata ibu Abe.

"Hikaru benar Bu, ibu dan yang lain sebaiknya pulang dan beristirahat, sekarang giliranku untuk menjaga Ayumi," ujar Abe, "Iya, bagaimanapun Ayumi itukan adik kami juga, sudah kewajiban kami untuk menjaganya," sambung Yuki dengan semangat.

Tak lama kemudian keluarga Abe pun berpamitan pulang, meninggalkan mereka bertiga bersama Ayumi di rumah sakit. Saat itu suasana dalam kamar cukup hening. Abe hanya duduk diam di samping Ayumi, melihat adiknya yang terbaring lemah di ranjang. Yuki menghampiri Abe, menepuk pundak Abe mencoba menghiburnya.

Tak lama kemudian Ayumi terbangun, ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya dibantu dengan Abe , "Yuki ni-chan, Hikaru ni-chan, kalian sudah datang," kata gadis kecil itu.

"Iya, kami sudah kangen mau melihat putri kecil kami yang cantik ini," kata Yuki sambil mencubit pipi Ayumi

"Ayumi sudah menunggu kalian sejak pagi, dia selalu menanyakan apa kalian sudah sampai," kata Abe.

 "Oh... Honto," kata Yuki semangat hingga mencubit keras pipi Ayumi membuat pipi Ayumi memerah. Ayumi hanya tersenyum gembira melihat mereka. Hikaru yang pendiam bisa hanya mengusap kepala Ayumi.

"Ayumi-chan, lihat! kami bawakan hadiah untukmu. Kamu pasti suka," kata Hikaru membawakan hadiah ke Ayumi.

"Wah...," teriak gadis kecil itu. Ia sangat senang dan langsung memeluk boneka beruang yang ia lihat. Melihat Ayumi yang bersemangat membuat mereka bertiga senang, dapat melihat senyum bahagia yang keluar dari wajah gadis polos itu.

**********

Waktu menunjukkan jam 12 malam, Ayumi telah terlelap di alam mimpinya sedangkan mereka bertiga masih terjaga, mereka tidak bisa tidur. Abe keluar dari kamar, duduk di bangku yang ada di depan kamar, berdiam disana sendiri. Yuki ingin mengikuti Abe tapi dihentikan oleh Hikaru, "Biarkan dia di luar dulu, biar dia menenangkan pikirannya," kata Hikaru berbisik ke Yuki.

Lama Abe duduk di luar, Yuki yang lama menunggunya akhirnya keluar dan duduk di samping sahabatnya itu. Ia melihat wajah Abe yang sangat sedih, "Ada apa?" tanya Yuki. Abe hanya diam menanggapinya, "Ada masalah apa? ceritakanlah kepadaku," tanya Yuki kembali, tapi Abe tetap saja diam.

Saat itu Hikaru keluar kamar menghampiri kedua sahabatnya. Sejak sampai di rumah sakit hingga sekarang Hikaru tidak banyak bicara. Hikaru merupakan mahasiswa jurusan kedokteran di Universitas Tokyo, dan dia juga salah satu pelajar yang pintar dan berprestasi di kampus, dia pasti mengetahui bagaimana keadaan Ayumi yang telah menderita penyakit parah sejak lama.

Hikaru mengambil posisi duduk disamping Abe, menaruh tangannya di pundak Abe mencoba menenangkannya. Dan saat itu Abe pun mulai berbicara, "Sudah terlalu lama dia berada di rumah sakit tapi tidak ada perubahan sama sekali. Kata dokter penyakitnya sudah sangat parah, dan..., dan..," Abe terdiam, dia tidak bisa melanjutkan pembicaraannya.

"Ada apa? apa yang sebenarnya terjadi, Ayumi akan baik-baik saja kan? Abe, ayo katakan sesuatu!" tanya Yuki yang mulai panik,

"Kata dokter, penyakit Ayumi sudah sangat parah dan tidak dapat disembuhkan lagi, waktunya sudah tidak lama lagi," kata Abe sambil menangis. Abe adalah orang yang jarang memperlihatkan emosinya, tapi malam itu Abe menangis dengan sangat keras. Abe menangis mengeluarkan semua kesedihan dan emosinya. Kesedihan akan takut kehilangan adik yang ia sayangi.

Hikaru yang duduk disampingnya menepuk pundaknya, menyuruh Abe agar lebih tegar menghadapinya. Akan tetapi Abe terus saja mengangis yang membuat Hikaru tidak tega melihatnya dan akhirnya ikut mengangis bersama Abe.

Disaat seperti ini Yuki lah yang biasa bertugas untuk menghibur, akan tetapi Yuki juga hanya bisa diam menahan air matanya, tidak tahu harus berbuat apa.

**********

Keesokan harinya Yuki akan mengantar Hikaru ke terminal sedangkan Abe masih menjaga di rumah sakit. Hikaru hanya sehari menemani Abe di rumah sakit.

 "Maaf, aku tidak bisa tinggal lebih lama," kata Hikaru.

"Tidak apa-apa Keluargamu pasti sudah menunggumu. Kan sudah lama kamu tidak pulang ke rumah," ujar Yuki.

Yuki sudah siap akan berangkat tapi Hikaru masih duduk diam. Hikaru sebenarnya tidak ingin meninggalkan mereka berduatapi dia juga tidak bisa tinggal lebih lama karena sudah beberapa tahun Hikaru tidak melihat keluarganya.

"Hikaru pulanglah, mereka pasti menunggumu," kata Abe sambil memperlihatkan senyumnya kepada Hikaru. Abe tidak ingin, hanya karena dirinya lantas membuat Hikaru tidak pulang ke rumah sudah dia tinggalkan sangat lama. "Iya, lagipula masih ada aku di sini," sambung Yuki mencoba menghibur.

Setelah mengucapkan salam perpisahan akhirnya Yuki dan Hikaru meninggalkan Abe dan adiknya di rumah sakit. Yuki hanya mengantar iHkaru ke Bandara dan setelah itu ia kembali ke rumah sakit menemani Abe dan Ayumi. Dan tak lama kemudian Yuki sampai di rumah sakit, bergegas memarkir mobilnya dan berlari menuju kamar Ayumi. Di dalam kamar ia melihat Abe yang masih saja duduk diam memandangi adiknya yang tertidur lelap.

"Apa Ayumi masih tidur?" tanya Yuki.

"Hmnn," Abe hanya mengangguk.

Yuki mengambil posisi duduk di samping Abe, diam memandangi wajahnya, melihat matanya yang bengkak karena menangis semalaman. Yuki telah mengenal Abe sejak kecil, dan ini untuk pertama kalinya dia melihat Abe menangis seperti itu.

"Abe beristirahatlah, semalaman kamu belum tidur. Aku tidak mau kalau kamu nanti jatuh sakit," pinta Yuki.

"Aku tidak apa-apa. Kamu juga, semalam kurang tidur," kata Abe.

"Bagaimana aku bisa tidur kalau keadaanmu seperti ini," kata Yuki. Yuki bangkit dari tempat duduknya,berjalan ke sudut ruang kamar dan mengambil sebuah bingkisan dari dalam tasnya.

"Ini untukmu," Yuki memberikan bingkisan kotak kepada Abe.

"Apa ini?" tanya Abe penasaran.

"Sudah buka saja!" perintah Yuki.

Abe membuka bingkisan itu. Ia terkejut melihat isi bingkisan tersebut adalah sebuah buku Buku itu yang Abe lihat di toko buku waktu menemani Hikaru membeli buku keperluannya kemarin, "Inikan? sejak kapan kamu membelinya?" tanya Abe.

"Aku membelinya saat menuju ke rumah sakit bersama Hikaru. Soalnya kamu memperhatikan buku itu terus saat kita di toko buku, jadi aku membelikannya untukmu," ujar Yuki.

Abe melihat buku itu, sebuah buku dengan cover berwarna hitam dihiasi dengan gambar jam pasir, sebuah buku yang berjudul 'Please, Just Give Me That - Precious Time'. Abe berbalik menatap Yuki sambil tersenyum, "ARIGATOU," ucapnya,  Abe berterima kasih kepada sahabatnya yang telah dikenalnya sejak dulu.

Yuki terdiam sejenak, sejak pertama dia datang ke rumah sakit hingga sekarang baru pertama kali ini dia melihat senyum seperti itu di wajah Abe. Hal itu membuat Yuki sedikit lega, setidaknya dia masih bisa membuat Abe tersenyum, "Sudahlah, itu gunanya teman," Kata Yuki sambil menepuk pundak Abe.

**********

Abe duduk di samping Ayumi, membaca buku dengan pelan. Membuka lembaran demi lembaran. Abe terlelap dalam novel yang dia baca. 

Jika kamu hanya diberi waktu 24 jam, apa yang akan kamu lakukan?
Jika waktumu bersama dengan orang yang kamu sayangi hanya tersisa 24 jam, apa yang akan kamu lakukan?



Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
TUKANGCOLONG
AUTHOR
3 May 2016 at 03:00 delete

untuk kalimat terakhir: jalan - jalan, ke tempat yang gak pernah kita kunjungi, ngelakuin hal2 yang belum sempet kita lakuin

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon