Jakarta Love Story - Bagian 4

Project Cerbung
Genre: comedy, romance, adventure, friendship


Untuk Kelengkapan ceritanya bisa mampir DI SINI... 





Dito menepati janjinya mengajakku makan bakso. Kami makan bakso di warung pak Dahlan dekat tempat kos kami. Selama menunggu pesanan datang, kami teringat kejadian lucu yang baru saja kami alami tadi.

“Hufh, tadi itu lumayan juga,” kata Dito.

“Lumayan kepalamu, tadi bisa buat serangan jantung mendadak tahu. Untungnya aku ini kuat jadi tidak pingsan di tempat,” kataku sambil menunjuk ke arah Dito.

“Iya deh,” kata Dito, “Tapi tadi kuat apanya, pas buka pintu kamu langsung lari kencang,” celahnya.

“Itu karena aku kaget saja. Kamu juga, tadi yang langsung berteriak keras siapa ayo, kamu kan,” kataku tidak mau dikalah, “Lagian kamu juga sih terlalu sok tahu. Makanya lain kali selidiki dulu sebelum bertindak!” perintahku.

“Oke deh bro,” katanya sambil mengacungkan jempol ke depan wajahku.

Tak lama kami berbincang pesanan kamipun tiba, dan sesuai janji Dito aku boleh memesan dua mangkuk Bakso spesial, selagi gratis. Maklum saja, aku ini kan anak kos-kosan, harus memanfaatkan kesempatan yang ada walaupun harus memanfaatkan teman sendiri, “Sorry kawan, hidup ini memang keras,” ucapku dalam hati.

“Pelan-pelan saja bro makannya,” tegur Dito, “ Ini anak tidak tanggung-tanggung, langsung pesan yang spesial, dua mangkuk lagi. Huh, biarlah, sekali-sekali bikin senang sahabat sendiri tidak apa-apakan,” pikir Dito.

Kami berdua menikmati makan malam kami, atau mungkin cuma aku sendiri.  Aku memperhatikan Dito, dia makan bakso pesanannya tapi matanya mengarah ke bakso spesial yang ada di depanku. Melihat tingkahnya seperti itu, aku pun mulai menggodanya, “Hmmnnn, baksonya enak yah.”

Selesai makan kami meninggal warung pak Dahlan. Aku keluar dengan wajah berseri-seri sambil memegang perutkan yang sedikit maju, sedangkan Dito keluar dengan wajah yang datar, “Enaknya bakso special buatan pak Dahlan. Lain kali traktir lagi yah, ha..ha…” aku menggoda Dito sekali lagi. Dito hanya tersenyum kecut kepadaku, “Bakso spesial, harganya juga spesial tahu,” pikirnya.

Setelah beberapa menit berjalan akhirnya kami sampai di kos. Untungnya kami pulang tidak terlalu larut sehingga kami tidak perlu mendengar ocehan ibu kos. Aku mengajak Dito ke kamarku untuk menonton anime Naruto yang baru saja aku Download. Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena sudah ditraktir makan malam, he..he…

**********

Esok paginya kami berangkat ke kampus. Dikampus saya mulai menemui pelajaran baru. Kata orang sih dunia kampus berbeda dengan dunia anak sekolahan dan saya sudah merasakannya dari beberapa hari terakhir ini dikampus. Dari kata ayah dan kakak sih kalau kuliah itu katanya lebih santai.

Dan pengajarnya juga berbeda, kalau di sekolah guru-gurunya sudah berumur, tapi kalau kampus dosennya banyak yang masih muda bahkan ada dosen yang jarak umurnya tidak terlalu jauh dari saya, mukanya masih kinclong. Kalau beginikan kita sebagai mahasiswa lebih enak belajarnya.

Setelah selesai kuliah saya dan beberapa teman sekelas singgah di kantin kampus, memesan bakmi dan makanan lainnya untuk disantap bersama. Disana kami melihat seorang pria tua lewat, tubuhnya cukup tinggi dan rambutnya sedikit beruban. Ia berjalan sambil memegang buku di tangan kanannya.

Saat ia berjalan, beberapa anak akuntansi senior yang juga ada di kantin ini langsung berdiri dan memberi salam kepada bapak itu. Dan saat ia lewat di depan kami, temanku Arman juga langsung memberi salam kepadanya, sedangkan yang lain hanya duduk menikmati makanan mereka.

“Kalian tahu tidak siapa bapak yang lewat tadi?” tanya Arman.

“Tidak, “ jawa kami.

“Namanya pak Yanto. Dia itu salah satu dosen akuntanasi di kampus ini. Katanya dia terkenal sebagai dosen killer. Semua senior tidak ada yang berani sama dia. Pokoknya dia itu super duper galak kalau mengajar. Karena itu saya langsung mengucapkan salam kepada beliau,” kata Arman.

“Lah kenapa baru bilang sekarang,” seru Bayu.

“Iya, maaf. Saya tahu dosen itu juga dari senior akuntansi yang satu kos dengan saya. Kalau tidak salah dia yang akan mengajar besok pagi di kelas kita,” kata Arman kembali.

“Apa…!!! Kita kan masih maba, masa langsung diberi dosen killer, yang benar saja pak dekannya,” protesku.

“Oh iya, saya belum beritahu yah, kalau pak Yanto itu juga menjabat sebagai dekan fakultas Ekonomi di kampus ini,” jelas Arman,  membuat kami hanya bisa diam, “Makanya besok pagi jangan ada yang terlambat kalau tidak mau kena marah pak Yanto,” lanjutnya.

Aku dan Dito baru bisa pulang dari kampus sore hari, karena aku harus menunggu Dito mengerjakan tugas kuliahnya. Sampainya di kos Dito langsung beristirahat di ranjangnya sedangkan aku langsung menyiapkan keperluan untuk ngampus besok, seperti menyetrika baju dan lain-lain. Karena sesuai saran Arman aku tidak boleh terlambat besok pagi.

Plan untuk malam ini aku harus cepat tidur, jangan sampai telat besok. Sayangnya rencana itu hancur saat Dito masuk ke kamarku, “Bro temani aku maun game yah?” pintanya.

“Besok sajalah, aku mau tidur lebih awal agar besok tidak telat ke kampusnya,” ucapku menolak.

“Ayolah, tidak seru kalau harus main sendiri,” paksa Dito.

“Ajak anak kos yang lain bisa kan? Besok dosen killer akan mengajar di kelasku. Aku tidak boleh terlambat ke kampus,” kataku.

“Tapi aku maunya main sama kamu. Ayolah… aku janji tidak akan lama,” Dito membujuk.

“Haduh, ini anak manja banget. Baiklah, tapi janji cuma sebentaran yah,” kataku.

“Oke bos.”



Keesokan harinya…

“Dito cepat sedikit, kita sudah telat ini,” teriakku.

“Iya ini juga tinggal pakai sepatu,” jawab Dito.

Dengan kecepatan kilat kami berdua langsung berlari keluar dan menaiki angkot. Dalam angkot kakiku selalu bergerak naik turun karena gelisah.

“Santai saja,” tegur Dito.

“Bagaimana bisa santai, kita sudah terlambat,” protesku, “Kamu sih, ngajak main game sampai jan tiga pagi, begini deh jadinya,” protesku lagi.

“Yah maaf. Kan lagi seru-serunya main, eh tidak terasa sudah jam tiga,” ucap Dito.

Setelah sampai di kampus aku langsung berlari menuju ruang kelasku. Saat aku lihat pak Yanto telah berjalan menuju ruang kelas aku langsung berhenti dan mulai berjalan cepat agar pak dekan tersebut tidak berbalik karena suara lariku. Akhirya aku sampai tepat di belakang bapak itu, sayangnya dia selangkah lebih dulu masuk dalam kelas dan aku langsung masuk setelahnya.

“Kamu yang baru masuk,” tegur pak Yanto. Belum sampai dia di meja dosen tapi sudah langsung menegur, aku juga bahkan baru tiga kali melangkah.

“Saya pak?” aku bertanya.

“Sekarang kamu keluar!” perintahnya.

Ya ampun ini dosen, baru pertama kali mengajar sudah langsung galak seperti itu,” ucapku dalam hati. Teman sekelasku tidak ada yang berani bersuara, mereka semua duduk diam seperti patung tanpa bergerak seincipun. Begitupun juga denganku, aku hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Aura killer pak Yanto sudah tersebar dalam ruang kelas ini.

“Siapa namamu?” tanya pak Yanto.

“Jangan di jawab Ilo, jangan di jawab,” aku meyakinkan diriku, “Ilo pak,” dengan pasrah aku menjawab.

“Oke Ilo, pintu disana sudah terbuka. Sekarang keluar,” perintah pak Yanto “Kenapa hanya diam saja, ayo cepat keluar!” tegasnya. Dengan berat hati akhirnya aku berjalan menuju pintu yang terbuka lebar untukku.

“Katanya anak kuliahan itu lebih santai, santai apanya?” pikirku kesal. Aku hendak menghubungi Dito meminta pertanggung jawabannya, sayangnya saat ini dia juga kuliah. Tinggallah aku sendiri menunggu sampai pelajaran kedua dimulai.

**********

Kuliah hari ini telah selesai, aku mau cepat pulang ke kos-kosan, melupakan peristiwa memalukan tadi pagi, peristiwa pengusiran tepat didepan semua teman kelasku, hufh. Aku mengambil smartphone dari saku celanaku, menelpon Dito mengajaknya pulang.

“Dito kamu dimana? Aku sudah mau pulang sekarang?” tanyaku.

“Maaf bro, kayaknya kamu harus pulang sendiri kali ini,” jawab Dito.

“Kenapa?” tanyaku kembali.

“Aku ada tugas kuliah. Seperti aku akan dikampus sampai malam,” kata Dito.

“Jangan begitu dong, aku kan masih pendatang di Jakarta. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana. Kalau aku tersesat, kalau nanti ada pencuri di angkot, atau nanti aku ketemu begal, atau nanti aku diculik bagaimana. Kan kamu juga yang sedih kalau sahabatmu ini diculik,” kataku kepada Dito.

“Jangan berlebihan begitu, tinggal naik angkot pulang selesaikan kan,”

“Hufh, baiklah,” kataku kecewa.

Akhirnya aku naik angkot sendiri. Menunggu sendiri angkot datang menjemput, tak lama kemudian penjemputku pun datang. Aku duduk sendiri di angkot itu, rasanya sedikit aneh karena biasa aku bersama Dito tapi sekarang tidak ada teman seperjalanan ke kos-kosan.

Baru beberapa meter angkot jalan, sopir angkot langsung menghentikan mobilnya, hendak mengambil penumpang baru. Aku terkejut melihat penumpang yang baru saja menaiki angkot ini. Dia adalah bidadari kampus, kak Indah.

Kak Indah mengambil posisi duduk tepat disebelah kananku, akupun dibuat salah tingkah olehnya. Aku ingin menyapanya, entah dia mengenal atau tidak. Sayangnya aku tidak bisa berbicara langsung dengan cewek. Tapi ini adalah kesempatan besar buatku. Kapan lagi seorang kak Indah berada langsung di sampingku.

Biasa disaat seperti ini Dito lah yang langsung bertindak, akan tetapi Dito saat ini sedang sibuk di kampus. Jadi apakah aku harus diam saja ataukah aku akan memuali pergerakanku.

Apa yang harus aku lakukan. . . . . .




Bersambung…
Previous
Next Post »

15 komentar

Write komentar
lintas
AUTHOR
17 February 2016 at 02:51 delete

bentar, gue baca yang bag 1 dulu, biar nyambung :D

Reply
avatar
lintas
AUTHOR
17 February 2016 at 03:32 delete

ketemu si indahnya di angkot juga ya hahaha.
gue tunggu selanjutnya \m/

Reply
avatar
Didi
AUTHOR
17 February 2016 at 12:28 delete

Akhirnya, ketemu juga sama Indah. Hahaha.
Gue cukup menikmati, dari part 1 sampai sekarang. Alurnya cukup mengalir. Dan, tema yang di angkat juga selalu di masukkan dalam setiap partnya. Keren.

Di tunggu kelanjutannya, ya.

Reply
avatar
Galuh Maher
AUTHOR
17 February 2016 at 12:44 delete

Gampang, langsung aja bilang "halo kak Indaaah..."
Komentar gue pas baca cerita ini adalah awal cerita tadi gue kira cewek sama cowok. ternyata cowok sama cowok. Dan satu lagi, dialog antar tokoh kaku banget. Banyak kata yang kurang lengkap. yang seharusnya tertulis "sepertinya" tapi cuma tertulis "seperti".
Tapi kalo dari segi cerita, alur cerita maksudnya, bagus banget..

Reply
avatar
Rifqi Banyol
AUTHOR
17 February 2016 at 14:54 delete

Komentarnya makin cetar aja ceritanya. Makin bagus penulisannya.
Jadi gugup mau lanjutin ceritanya. takut malah bikin ancur ceritanya mbak..
Tugas gue makin berat nih,, hehe

Reply
avatar
rara evelin
AUTHOR
17 February 2016 at 18:51 delete

Aku masih bingung ini ceritanya tentang apa haha. Mungkin tentang Ilo dan Kak Indah ya, aku nangkepnya sih gitu. Ilo yang pendatang Jakarta akhirnya punya kisah cinta sama Kak Indah. Nebak-nebak aja sih :D

Ceritanya enak dibaca, cuma menurutku yang agak kurang srek dari cerita ini adalah... banyak dialog pendek yang kalo diganti narasi mungkin lebih cocok. Misal kayak pas mau berangkat. Kamu bisa langsung ceritain narasi lagi di angkot. Jantungku berdegup cepat. Kaki terus kuketuk-ketuk dengan cemas. Berkali-kali aku melirik jam tangan. Jadi nggak perlu berdialog Ilo minta Dito cepet-cepet, dan Dito bales bentar lagi naliin sepatu.

Tapi itu cuma sekedar saranku aja yaa.

Oh ya, perhatikan lagi "di" untuk kata tempat dan kata kerja pasif ya. Harus digabung apa dipisah. Juga partikel pun-nya yang harus dipisah kalau dari kata benda atau kerja.

Reply
avatar
Unknown
AUTHOR
18 February 2016 at 02:53 delete

Jujur ane bingung mau ngomen apa.. Tapi sepanjang ane baca cerita ini, ane ngerasa dialog antar tokoh 'agak' kaku.. Nggak natural aja rasanya.. Dan kalau dibayangin bener2.. Ane nggak dapat kondisinya gimana.. Hehehe..

Reply
avatar
Niki s
AUTHOR
20 February 2016 at 18:24 delete

Lah u ini bisa komen mr absurd?

Reply
avatar
Niki s
AUTHOR
20 February 2016 at 18:26 delete This comment has been removed by a blog administrator.
avatar
N.A.L
AUTHOR
21 February 2016 at 11:49 delete

Maaf yah komen yang dibawah saya hapus, soalnya ada kata yang kurang enak dibaca, he..he...

BTW makasih sudah manpir disini... :)

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
25 February 2016 at 11:39 delete

Iya, akhirnya bisa ketemu juga dengan senior idaman.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Ilo???

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
25 February 2016 at 11:49 delete

He..he..., terima kasih... :)

Wah sudah baca dari bagian satu. Oke, tunggu yah kelanjutan ceritanya. Karena ini cerbung bersama jadi yang selanjtnya ada di blog yang lain. Baru setelah beberapa part kembali di saya ini.

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
25 February 2016 at 11:57 delete

Oh begitu yah, oke terima kasih sarannya..

Iya, menurut saya juga bahasanya masih telalu kaku.
Alhamdulillah kalau alur ceritanya sudah bagus... :D

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
25 February 2016 at 12:03 delete

Wah, ini yang saya tunggu :-bd
Terima kasih kritik dan sarannya... ^_^

Masukannya sangat bermanfaat, bisa menjadi pembelajaran saya kedepan.

Reply
avatar
N.A.L
AUTHOR
25 February 2016 at 12:06 delete

Lanjutanya ceritanya bagus kok, sudah saya baca di blognya...

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon