Project
Cerbung
Genre: comedy, romance, adventure, friendship
Untuk Kelengkapan ceritanya bisa mampir DI SINI...
Dito
menepati janjinya mengajakku makan bakso. Kami makan bakso di warung pak Dahlan
dekat tempat kos kami. Selama menunggu pesanan datang, kami teringat kejadian
lucu yang baru saja kami alami tadi.
“Hufh, tadi
itu lumayan juga,” kata Dito.
“Lumayan
kepalamu, tadi bisa buat serangan jantung mendadak tahu. Untungnya aku ini kuat
jadi tidak pingsan di tempat,” kataku sambil menunjuk ke arah Dito.
“Iya deh,”
kata Dito, “Tapi tadi kuat apanya, pas buka pintu kamu langsung lari kencang,” celahnya.
“Itu karena
aku kaget saja. Kamu juga, tadi yang langsung berteriak keras siapa ayo, kamu
kan,” kataku tidak mau dikalah, “Lagian kamu juga sih terlalu sok tahu. Makanya
lain kali selidiki dulu sebelum bertindak!” perintahku.
“Oke deh
bro,” katanya sambil mengacungkan jempol ke depan wajahku.
Tak lama
kami berbincang pesanan kamipun tiba, dan sesuai janji Dito aku boleh memesan
dua mangkuk Bakso spesial, selagi gratis. Maklum saja, aku ini kan anak
kos-kosan, harus memanfaatkan kesempatan yang ada walaupun harus memanfaatkan
teman sendiri, “Sorry kawan, hidup ini memang keras,” ucapku dalam hati.
“Pelan-pelan
saja bro makannya,” tegur Dito, “ Ini anak tidak tanggung-tanggung, langsung
pesan yang spesial, dua mangkuk lagi. Huh, biarlah, sekali-sekali bikin senang
sahabat sendiri tidak apa-apakan,” pikir Dito.
Kami berdua
menikmati makan malam kami, atau mungkin cuma aku sendiri. Aku memperhatikan Dito, dia makan bakso
pesanannya tapi matanya mengarah ke bakso spesial yang ada di depanku. Melihat tingkahnya
seperti itu, aku pun mulai menggodanya, “Hmmnnn, baksonya enak yah.”
Selesai makan
kami meninggal warung pak Dahlan. Aku keluar dengan wajah berseri-seri sambil
memegang perutkan yang sedikit maju, sedangkan Dito keluar dengan wajah yang
datar, “Enaknya bakso special buatan pak Dahlan. Lain kali traktir lagi yah,
ha..ha…” aku menggoda Dito sekali lagi. Dito hanya tersenyum kecut kepadaku, “Bakso
spesial, harganya juga spesial tahu,” pikirnya.
Setelah
beberapa menit berjalan akhirnya kami sampai di kos. Untungnya kami pulang tidak
terlalu larut sehingga kami tidak perlu
mendengar ocehan ibu kos. Aku mengajak Dito ke kamarku untuk menonton anime
Naruto yang baru saja aku Download. Anggap saja ini ucapan terima kasihku
karena sudah ditraktir makan malam, he..he…
**********
Esok paginya kami berangkat ke kampus. Dikampus
saya mulai menemui pelajaran baru. Kata orang sih dunia kampus berbeda dengan
dunia anak sekolahan dan saya sudah merasakannya dari beberapa hari terakhir
ini dikampus. Dari kata ayah dan kakak sih kalau kuliah itu katanya lebih
santai.
Dan pengajarnya
juga berbeda, kalau di sekolah guru-gurunya sudah berumur, tapi kalau kampus
dosennya banyak yang masih muda bahkan ada dosen yang jarak umurnya tidak
terlalu jauh dari saya, mukanya masih kinclong. Kalau beginikan kita sebagai
mahasiswa lebih enak belajarnya.
Setelah selesai
kuliah saya dan beberapa teman sekelas singgah di kantin kampus, memesan bakmi
dan makanan lainnya untuk disantap bersama. Disana kami melihat seorang pria
tua lewat, tubuhnya cukup tinggi dan rambutnya sedikit beruban. Ia berjalan
sambil memegang buku di tangan kanannya.
Saat ia
berjalan, beberapa anak akuntansi senior yang juga ada di kantin ini langsung
berdiri dan memberi salam kepada bapak itu. Dan saat ia lewat di depan kami,
temanku Arman juga langsung memberi salam kepadanya, sedangkan yang lain hanya
duduk menikmati makanan mereka.
“Kalian tahu
tidak siapa bapak yang lewat tadi?” tanya Arman.
“Tidak, “
jawa kami.
“Namanya pak
Yanto. Dia itu salah satu dosen akuntanasi di kampus ini. Katanya dia terkenal sebagai
dosen killer. Semua senior tidak ada yang berani sama dia. Pokoknya dia itu
super duper galak kalau mengajar. Karena itu saya langsung mengucapkan salam
kepada beliau,” kata Arman.
“Lah kenapa
baru bilang sekarang,” seru Bayu.
“Iya, maaf. Saya
tahu dosen itu juga dari senior akuntansi yang satu kos dengan saya. Kalau tidak
salah dia yang akan mengajar besok pagi di kelas kita,” kata Arman kembali.
“Apa…!!! Kita
kan masih maba, masa langsung diberi dosen killer, yang benar saja pak
dekannya,” protesku.
“Oh iya,
saya belum beritahu yah, kalau pak Yanto itu juga menjabat sebagai dekan fakultas Ekonomi di kampus ini,” jelas Arman, membuat
kami hanya bisa diam, “Makanya besok pagi jangan ada yang terlambat kalau tidak
mau kena marah pak Yanto,” lanjutnya.
Aku dan Dito
baru bisa pulang dari kampus sore hari, karena aku harus menunggu Dito
mengerjakan tugas kuliahnya. Sampainya di kos Dito langsung beristirahat di
ranjangnya sedangkan aku langsung menyiapkan keperluan untuk ngampus besok, seperti
menyetrika baju dan lain-lain. Karena sesuai saran Arman aku tidak boleh
terlambat besok pagi.
Plan untuk malam ini aku harus cepat
tidur, jangan sampai telat besok. Sayangnya rencana itu hancur saat Dito masuk
ke kamarku, “Bro temani aku maun game yah?” pintanya.
“Besok
sajalah, aku mau tidur lebih awal agar besok tidak telat ke kampusnya,” ucapku
menolak.
“Ayolah,
tidak seru kalau harus main sendiri,” paksa Dito.
“Ajak anak
kos yang lain bisa kan? Besok dosen killer akan mengajar di kelasku. Aku tidak
boleh terlambat ke kampus,” kataku.
“Tapi aku
maunya main sama kamu. Ayolah… aku janji tidak akan lama,” Dito membujuk.
“Haduh, ini
anak manja banget. Baiklah, tapi janji cuma sebentaran yah,” kataku.
“Oke bos.”
Keesokan harinya…
“Dito cepat
sedikit, kita sudah telat ini,” teriakku.
“Iya ini
juga tinggal pakai sepatu,” jawab Dito.
Dengan kecepatan
kilat kami berdua langsung berlari keluar dan menaiki angkot. Dalam angkot
kakiku selalu bergerak naik turun karena gelisah.
“Santai
saja,” tegur Dito.
“Bagaimana
bisa santai, kita sudah terlambat,” protesku, “Kamu sih, ngajak main game sampai
jan tiga pagi, begini deh jadinya,” protesku lagi.
“Yah maaf. Kan
lagi seru-serunya main, eh tidak terasa sudah jam tiga,” ucap Dito.
Setelah sampai
di kampus aku langsung berlari menuju ruang kelasku. Saat aku lihat pak Yanto
telah berjalan menuju ruang kelas aku langsung berhenti dan mulai berjalan
cepat agar pak dekan tersebut tidak berbalik karena suara lariku. Akhirya aku
sampai tepat di belakang bapak itu, sayangnya dia selangkah lebih dulu masuk dalam
kelas dan aku langsung masuk setelahnya.
“Kamu yang
baru masuk,” tegur pak Yanto. Belum sampai dia di meja dosen tapi sudah
langsung menegur, aku juga bahkan baru tiga kali melangkah.
“Saya pak?” aku bertanya.
“Sekarang
kamu keluar!” perintahnya.
“Ya ampun ini dosen, baru pertama kali
mengajar sudah langsung galak seperti itu,” ucapku dalam hati. Teman sekelasku
tidak ada yang berani bersuara, mereka semua duduk diam seperti patung tanpa
bergerak seincipun. Begitupun juga denganku, aku hanya diam tidak tahu harus
berbuat apa. Aura killer pak Yanto sudah tersebar dalam ruang kelas ini.
“Siapa
namamu?” tanya pak Yanto.
“Jangan di
jawab Ilo, jangan di jawab,” aku meyakinkan diriku, “Ilo pak,” dengan pasrah
aku menjawab.
“Oke Ilo,
pintu disana sudah terbuka. Sekarang keluar,” perintah pak Yanto “Kenapa hanya
diam saja, ayo cepat keluar!” tegasnya. Dengan berat hati akhirnya aku berjalan
menuju pintu yang terbuka lebar untukku.
“Katanya anak kuliahan itu lebih
santai, santai apanya?” pikirku kesal. Aku hendak menghubungi Dito meminta pertanggung
jawabannya, sayangnya saat ini dia juga kuliah. Tinggallah aku sendiri menunggu
sampai pelajaran kedua dimulai.
**********
Kuliah hari
ini telah selesai, aku mau cepat pulang ke kos-kosan, melupakan peristiwa
memalukan tadi pagi, peristiwa pengusiran tepat didepan semua teman kelasku,
hufh. Aku mengambil smartphone dari
saku celanaku, menelpon Dito mengajaknya pulang.
“Dito kamu
dimana? Aku sudah mau pulang sekarang?” tanyaku.
“Maaf bro, kayaknya
kamu harus pulang sendiri kali ini,” jawab Dito.
“Kenapa?”
tanyaku kembali.
“Aku ada
tugas kuliah. Seperti aku akan dikampus sampai malam,” kata Dito.
“Jangan
begitu dong, aku kan masih pendatang di Jakarta. Kalau ada apa-apa di jalan
bagaimana. Kalau aku tersesat, kalau nanti ada pencuri di angkot, atau nanti
aku ketemu begal, atau nanti aku diculik bagaimana. Kan kamu juga yang sedih kalau
sahabatmu ini diculik,” kataku kepada Dito.
“Jangan
berlebihan begitu, tinggal naik angkot pulang selesaikan kan,”
“Hufh, baiklah,”
kataku kecewa.
Akhirnya aku
naik angkot sendiri. Menunggu sendiri angkot datang menjemput, tak lama
kemudian penjemputku pun datang. Aku duduk sendiri di angkot itu, rasanya
sedikit aneh karena biasa aku bersama Dito tapi sekarang tidak ada teman
seperjalanan ke kos-kosan.
Baru beberapa
meter angkot jalan, sopir angkot langsung menghentikan mobilnya, hendak
mengambil penumpang baru. Aku terkejut melihat penumpang yang baru saja menaiki
angkot ini. Dia adalah bidadari kampus, kak Indah.
Kak Indah
mengambil posisi duduk tepat disebelah kananku, akupun dibuat salah tingkah
olehnya. Aku ingin menyapanya, entah dia mengenal atau tidak. Sayangnya aku
tidak bisa berbicara langsung dengan cewek. Tapi ini adalah kesempatan besar
buatku. Kapan lagi seorang kak Indah berada langsung di sampingku.
Biasa disaat
seperti ini Dito lah yang langsung bertindak, akan tetapi Dito saat ini sedang
sibuk di kampus. Jadi apakah aku harus diam saja ataukah aku akan memuali
pergerakanku.
Apa yang
harus aku lakukan. . . . . .
Bersambung…
Sign up here with your email

15 komentar
Write komentarbentar, gue baca yang bag 1 dulu, biar nyambung :D
Replyketemu si indahnya di angkot juga ya hahaha.
Replygue tunggu selanjutnya \m/
Akhirnya, ketemu juga sama Indah. Hahaha.
ReplyGue cukup menikmati, dari part 1 sampai sekarang. Alurnya cukup mengalir. Dan, tema yang di angkat juga selalu di masukkan dalam setiap partnya. Keren.
Di tunggu kelanjutannya, ya.
Gampang, langsung aja bilang "halo kak Indaaah..."
ReplyKomentar gue pas baca cerita ini adalah awal cerita tadi gue kira cewek sama cowok. ternyata cowok sama cowok. Dan satu lagi, dialog antar tokoh kaku banget. Banyak kata yang kurang lengkap. yang seharusnya tertulis "sepertinya" tapi cuma tertulis "seperti".
Tapi kalo dari segi cerita, alur cerita maksudnya, bagus banget..
Komentarnya makin cetar aja ceritanya. Makin bagus penulisannya.
ReplyJadi gugup mau lanjutin ceritanya. takut malah bikin ancur ceritanya mbak..
Tugas gue makin berat nih,, hehe
Aku masih bingung ini ceritanya tentang apa haha. Mungkin tentang Ilo dan Kak Indah ya, aku nangkepnya sih gitu. Ilo yang pendatang Jakarta akhirnya punya kisah cinta sama Kak Indah. Nebak-nebak aja sih :D
ReplyCeritanya enak dibaca, cuma menurutku yang agak kurang srek dari cerita ini adalah... banyak dialog pendek yang kalo diganti narasi mungkin lebih cocok. Misal kayak pas mau berangkat. Kamu bisa langsung ceritain narasi lagi di angkot. Jantungku berdegup cepat. Kaki terus kuketuk-ketuk dengan cemas. Berkali-kali aku melirik jam tangan. Jadi nggak perlu berdialog Ilo minta Dito cepet-cepet, dan Dito bales bentar lagi naliin sepatu.
Tapi itu cuma sekedar saranku aja yaa.
Oh ya, perhatikan lagi "di" untuk kata tempat dan kata kerja pasif ya. Harus digabung apa dipisah. Juga partikel pun-nya yang harus dipisah kalau dari kata benda atau kerja.
Jujur ane bingung mau ngomen apa.. Tapi sepanjang ane baca cerita ini, ane ngerasa dialog antar tokoh 'agak' kaku.. Nggak natural aja rasanya.. Dan kalau dibayangin bener2.. Ane nggak dapat kondisinya gimana.. Hehehe..
ReplyLah u ini bisa komen mr absurd?
ReplyMaaf yah komen yang dibawah saya hapus, soalnya ada kata yang kurang enak dibaca, he..he...
ReplyBTW makasih sudah manpir disini... :)
Iya, akhirnya bisa ketemu juga dengan senior idaman.
ReplyKira-kira apa yang akan dilakukan Ilo???
He..he..., terima kasih... :)
ReplyWah sudah baca dari bagian satu. Oke, tunggu yah kelanjutan ceritanya. Karena ini cerbung bersama jadi yang selanjtnya ada di blog yang lain. Baru setelah beberapa part kembali di saya ini.
Oh begitu yah, oke terima kasih sarannya..
ReplyIya, menurut saya juga bahasanya masih telalu kaku.
Alhamdulillah kalau alur ceritanya sudah bagus... :D
Wah, ini yang saya tunggu :-bd
ReplyTerima kasih kritik dan sarannya... ^_^
Masukannya sangat bermanfaat, bisa menjadi pembelajaran saya kedepan.
Lanjutanya ceritanya bagus kok, sudah saya baca di blognya...
ReplyTerima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon