“Shuji-kun,
omedeto[1].”
“Shuji
gambatte[2].”
“Sampai
ketemu sepulang sekolah. Semangat.”
Anak-anak
di sekolah memberiku ucapan selamat karena berita itu telah tersebar satu
sekolah. Berita bahwa hari ini, untuk pertama
kalinya, aku akan memakan buah DURIAN.
Mungkin
sebagian orang menganggap itu adalah hal yang biasa, tapi tidak bagi kami orang
Jepang yang asing terhadap sosok buah yang satu ini.
Hari
ini dikarenakan kebodohanku, karena kesombonganku yang terlalu bangga dengan
diri sendiri, dan karena taruhan bodoh itu, akhirnya aku mendapat hukuman memakan
buah durian. Tapi kenapa harus buah durian?
***
Pertama
kali aku berkenalan dengan buah ini yaitu saat aku masih duduk di bangku
sekolah dasar. Saat itu pamanku mulai bekerja di Indonesia menjadi guru sastra
Jepang di salah satu sekolah di sana. Pada waktu itu libur sekolah jadi Paman
juga libur kerja dan dia pun kembali ke Jepang. Dan pastinya Paman membawakan
kami hadiah berupa barang dan makanan khas Indonesia, dan salah satunya buah
durian ini.
Sang
Paman menantang kami sekeluarga untuk mencoba buah durian. Awalnya kami menolak
dikarenakan aroma buah durian yang sangat menusuk itu. Tapi karena rayuan Paman
akhirnya satu per satu anggota keluarga mulai mencicipinya. Dan anehnya mereka
malah menyukai buah itu, tapi tidak denganku. Dari baunya saja sudah membuatku
trauma apalagi harus memakan buahnya, tentu saja aku tidak mau. Tapi sayangnya
keluargaku sudah terpikat dengan godaan buah ini jadi mau tidak mau aku harus
selalu melihat buah durian di rumahku.
Dan
begitu seterusnya, setiap paman kembali dari Indonesia, dia selalu membawakan
buah durian yang telah menjadi di idola di keluargaku. Jadi saat keluargaku
menikmati durian, aku akan mengurung diri di kamar, menutup pintu rapat-rapat
agar aromanya tidak masuk ke kamarku.
Buah
durian merupakan buah yang cukup disukai di beberapa Negara di Asia Tenggara
seperti Indonesia ataupun Malaysia. Aromanya yang khas dan rasanya yang manis
menjadi daya tarik tumbuhan tropis ini. Bagi orang yang pertama kali mencium
aroma durian pasti akan tidak suka, tapi rasanya cukup enak, setidaknya begitu
yang Paman katakan. Tapi karena terlanjur trauma dengan baunya jadi tetap aku tidak
menyukai buah ini.
***
Jam
istirahat sekolah, anak-anak yang dengan bahagianya menyantap bekal makan siang
mereka sedangkan aku pusing dengan taruhan durian ini. Atsushi dan beberapa
anak lain datang menghampiriku, “Kamu masih ingat taruhan kita kan? jangan lupa
sebentar pulang sekolah kamu harus datang ke belakang sekolah,” titah Atsushi. Aku
hanya bisa mengangguk menerima nasib yang akan aku hadapi.
“Bagaimana
ini Masao, Apa yang harus aku lakukan?” ucapku panik kepada Masao yang duduk
disampingku.
“Yah…
mau bagaimana lagi. Kamu kan kalah taruhan, jadi terima saja nasibmu,” jawabnya
santai.
“Kamu
memang gampang bicara karena bukan kamu yang akan mengalaminya, tapi aku,”
keluhku.
“Lagian
siapa yang salah, kamu kan?” timpalnya, “Makanya jadi orang jangan terlalu
sombong. Mentang-mentang kamu selalu berada di peringkat teratas jadi memandang
rendah Atsushi. Malah pakai taruhan segala, inikan akibatnya?” sambung Masao.
“Aku
mengatakan ini karena aku adalah sahabatmu. Aku hanya tidak ingin kamu
mengulangi hal yang sama,” tuturnya.
“Iya,
aku mengaku salah. Sekarang aku pusing, apa yang harus aku lakukan? apa aku
langsung kabur saja? atau aku pura-pura sakit. Ah… bagaimana ini?” cerocosku[3].
“Aku
juga tidak tahu.”
***
Akhirnya,
waktu yang ditunggu pun tiba. Aku, Atsushi, Masao, teman kelas dan anak-anak
lainnya telah berkumpung di belakang sekolah. Di depanku telah terpampang buah
durian yang duduk manis di atas meja. Aku melirik mereka yang berada di sekitarku,
beberapa dari mereka menutup hidung karena aroma yang dikeluarkan buah durian
ini.
Atsushi
mulai memakai masker dan handscoon[4],
dengan pelan dia mulai membuka kulit durian dengan pisau kecil di tangannya bak
seorang dokter yang melakukan operasi bedah. Dan saat kulit durian telah
terpisah, aromanya mulai menyebar di seluruh sekolah. “Eughhh,” suara itu
terdengar dari segala arah. Semua orang menutup hidung, memperlihatkan ekspresi
wajah yang jijik. Bahkan ada yang ingin muntah, membuatku jadi tambah gugup.
“Oke,
sudah selesai. Kamu bisa memakannya sekarang,” ucap Atsushi tenang.
“Hmph…
Bagimana yah. Apa aku harus memkannya?” jawabku mengelak.
“Loh,
memang ini kesepakatran kita kan. Ayo cepat makan!” desaknya.
Sepertinya
sudah tidak ada jalan keluar lagi, aku harus menerima takdirku. Dengan sangat
terpaksa aku harus memakan buah ini. Tanganku memulai mengangkat buah durian
dan perlahan memasukkannya ke rongga mulutku. Dengan gerakan peristaltik[5] melalui
kerongkongan makanan berjalan menuju lambung. Dengan cepat lambungku
mengevakuasi benda asing tersebut dan saat itu sistem pencernaanku telah
mengeluarkan sinyal-sinyal atau rangsangan dan membawanya menuju pusat muntah
di otakku.
Seketika
mulutku langsung mengeluarkan cairan kental berwarna putih kekuning-kuningan, sontak
anak-anak mulai berteriak jijik. Mereka menertawaiku, ada juga yang merekam
kejadian itu melalui handphone-nya.
Saat
itu aku tidak bisa berpikir apapun, yang ada hanya rasa malu dan penyesalan
akan perbuatanku. Kenapa dulu aku harus bersikap angkuh, membuat Atsushi marah
yang akhirnya membuat taruhan ini, dan dengan bodohnya aku mengikutinya.
Atsushi memang tidak terlalu pintar dibanding diriku, tapi bukan berarti aku
bisa menghinanya. Kini aku menyesali semua kelakuanku terhadapnya.
***
Pertunjukan
buah durian telah selesai. Semua anak-anak telah pergi meninggalkan aku dan
Masao. Kini kami berdua harus membersihkan sisa durian dan sisa muntahan yang
berserakan di tanah.
“Inilah
akibatnya kalau orang terlalu angkuh dan sombong,” hardik[6]
Masao, ”Jangan kamu ulangi lagi,” lanjutnya menasehatiku.
“Iya-iya.
Sekarang aku sadar,” jawabku.
Tak
lama berselang Atsushi kembali ke belakang sekolah dan membantu kami
membersihkan. Mungkia dia juga merasa bersalah karena kejadian ini juga terjadi
karena ulahnya.
“Gomennasai[7],”
gumamku kepada Atsushi.
“Apa
yang kamu katakan? aku tidak dengar,” jawabnya.
“Go-gomennasai,”
ucapku dengan nada yang lebih keras, “Aku menyesal sudah memperlakukanku tidak
adil selama ini. Aku selalu mengataimu bodoh, mengejekmu, menghinamu di depan
teman-teman lain. Maafkan aku,” lanjutku.
“Iya
tidak apa-apa. Setidaknya kamu sudah sadar kalau apa yang kamu lakukan selama
ini salah. Aku juga minta maaf sudah membuatmu seperti ini,” ucap Atsushi yang
tersenyum menatapku.
***
Semua
karena taruhan itu, gara-gara taruhan bodoh itu hingga aku harus bernasib sial
seperti ini. Dibanding murid yang lain aku memang yang lebih pintar, selalu
peringkat pertama di kelas. Sedangkan Atsushi selalu mendapat peringkat
terbawah, karena itu aku selalu mencemoohnya. Karena tidak tahan dengan
perbuatanku akhirnya Atsushi menantangku, barang siapa yang mendapat peringkat
yang lebih tinggi makan ia harus mengikuti perintah orang tersebut. Dan dengan
santainya aku menerima taruhan itu karena aku yakin pasti aku yang akan menang.
Tapi ternyaka tidak, Atsushi yang telah berusaha keras kini telah selangkah
berada di atasku. Karena kebanggaan dan kesombongan membuatku harus menerima
kekalahan.
Hari
ini aku telah diberi teguran, diberi pelajaran besar. Setidaknya dengan kejadian
ini aku sadar bahwa kepintaran, kekayaan atau apapun yang kamu miliki tidak
lantas membuatmu harus membanggakan diri dan menghina orang di bawahmu. Apa
yang kamu miliki itu tidak kekal, bahkan suatu saat orang yang berada di bawah justru
bisa melampauimu. Aku akan selalu mengingat itu.
Mulai
sekarang aku tidak akan sombong lagi. Aku tidak akan taruhan lagi. Dan yang pasti,
aku tidak akan makan DURIAN lagi.
[1] Omedeto = selamat
[2] Gambatte = semoga sukses
[3] Cerocos = berbicara
terus-menerus
[4] Handscoon = sarung tangan
kesehatan, biasa dipakai oleh tenaga medis.
[5] Gerak peristaltik = gerakan
meremas, mendorong, menelan makanan menuju lambung.
[6] Hardik = perkataan yang keras
(untuk memarahi, dsb)
[7] Gomennasai= Maaf
Sign up here with your email
2 komentar
Write komentarAda pesan moral dibaliknya trnyata.. Hehe.
ReplyKukira yg ditantang itu bakalan suka sama durian stlah nyobain, eh trnyata malah eneg trs kluar lg. Huuuh, pdhal durian itu mkanan paling enaaak. Sayang skali yah? Hahaa. Yaudah, kan slera org beda2, lg pula ini kan fiksi, kok saya jd repot sndiri si?
Ehtp apa bner org jepang blm pernah mkan duren yah? Pnsaran, nyari tau ahh. Hihi.
Durian di beberapa negara menjadi buang asing, salah satunya di negara Jepang. Kebanyakan orang yang pertama kali mencoba buah ini tidak suka dengan rasanya apalagi baunya. Tapi ada juga yang menolak karena baunya, tapi pas sudah coba ternyaka suka dengan rasanya...
ReplyTerima kasih sudah mampir dan membaca cerpen ini, hehe.. ^_^
Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon