“Berita hari ini, telah ditemukan
sebuah mayat lelaki di dekat Sungai Thames, diperkirakan korban berusia 28
tahun, diduga kematiannya karena kekurangan banyak darah. Dibagian leher mayat
terdapat dua lubang kecil seperti bekas gigitan……. bla..bla...” aku
menonton berita yang disiarkan di TV pagi ini, berita tentang penemuan mayat
dengan ciri-ciri kematian yang tak lazim menurutku, dan untuk kesekian kalinya
kejadian yang seperti itu terjadi, membuat gempar seluruh masyarakat di kota
London ini.
Pagi
hari setelah sarapan aku bersiap berangkat kerja, aku bekerja dibidang
jurnalistik di salah satu kantor Media di kota London. Karena profesiku ini
membuatku selalu mencari sesuatu yang menarik untuk kujadikan sebagai bahan
tulisanku nantinya. Jarak dari rumahku ke kantor cukup jauh, harus berjalan
sekitar sepuluh menit lalu menaiki bus agar sampai ke tempat kerja.
Setelah
berjalan beberapa menit aku sampai di halte bus, menunggu bus yang akan
menampungku ke tempat tujuan, dan tak lama menunggu akhirnya bis tiba. Selama
perjalanan di dalam bus, orang-orang yang berada di dalam sibuk menceritakan
berita yang disiarkan tadi pagi di TV, tentang penemuan mayat itu.
“Eh,
kamu lihat berita di TV tadi? Sudah ada korban lagi. Iih seram yah.”
“Apa
menurut kalian itu betul ulah vampire?”
“Tidak
salah lagi, itu pasti ulah vampire.”
“Iih,
semoga saja kita tidak menjadi korban selanjutnya.”
Aku
dapat mendengar beberapa pelajar yang duduk di belakangku menceritakan kasus
pembunuhan itu. “Itu pasti ulah vampire”
kata itu sudah sering terdengar di telingaku. Kami yang tinggal di kota ini
telah digemparkan dengan kasus kematian yang katanya akibat gigitan vampire.
Di
kota London ini memang sering terjadi kasus pembunuhan dan beberapa dari kasus
itu juga masuk dalam daftar tulisanku. Tapi untuk kasus yang sekarang ini cukup
aneh. Seseorang mati diduga karena kehabisan darah dan ditemukan bekas gigitan
dibagian leher korban. Polisi sampai sekarang belum juga bisa memecahkan kasus
ini sehingga masyarakat menyimpulkan kalau kematian yang terjadi itu karena
adanya vampire yang menghantui kota ini.
Lama
aku duduk di dalam bus memikirkan kasus vampire ini, tak terasa aku sampai di
tempat kerjaku. Ternyata bukan cuma dalam bus saja kasus penemuan mayat itu
dibeberkan, di kantorku juga heboh membicarakan mayat lelaki yang katanya telah
dibunuh vampire. Saat aku baru duduk di meja kerjaku, rekan kerjaku Kevin langsung
menghampiriku.
“Irina,
kamu tadi lihat berita kan?” tanya Kevin.
“Iya,”
jawabku singkat.
“Ini
juga masuk dalam tulisan kamukan. Jadi bagaimana menurutmu, apakah itu benar
akibat gigitan vampire?” tanya Kevin kembali.
“Entahlah,
aku juga tidak tahu pasti. Sudah lama aku mempelajari kasus ini tapi tetap
tidak ada hasilnya. Bahkan polisi juga tidak bisa berbuat apa-apa,” kataku.
“Iya,
bikin penasaran saja…,” Kevin diam sejenak, “Tapi kamu percaya kalau vampire
memang ada di kota kita?” tanya Kevin sambil melotot kepadaku. Dari caranya
bertanya sepertinya dia ingin menakutiku.
“Aku
tidak percaya dengan hal seperti itu!” tegasku. Setelah mendengar itu Kevin
kembali ke meja kerjanya, aku pun melanjutkan kerjaku.
***
Beberapa
hari telah berlalu semenjak kejadian ‘gigitan vampire’ itu. Belum ada korban
yang jatuh hingga saat ini, tapi tetap saja kasus itu masih heboh
diperbincangkan. Begitu juga di kantorku, apalagi kami yang bekerja dibidang
jurnalistik, kasus itu akan menjadi berita besar bagi kami. Banyak diantara
kami yang penasaran dan menyelidiki kasus tersebut.
Sekarang
waktunya istirahat dan makan siang. Aku dan beberapa rekan kerjaku pergi ke
kafe dekat kantor. Selama disana yang kami bicarakan hanyalah masalah vampire.
“Kalian Tahu? Katanya vampire sudah ada sejak
zaman kuno dulu di kota London. Dulu juga banyak korban jatuh akibat gigitan
vampire. Karena takut akan bertambahnya korban sehingga warga setempat bertekat
untuk membunuh vampire tersebut. Dan menurut kabar yang ada, masih ada vampire
yang tinggal di kota London yang belum mereka temukan. Tapi seiring berjalannya
waktu, vampire tidak pernah terlihat lagi dan hanya menjadi mitos.”
“Konon,
vampire bisa hidup sampai ratusan tahun. Mungkin saja vampire itu tidur
bertahun-tahun dan telah terbangun sekarang ini. Itulah sebabnya vampire itu
baru muncul sekarang.”
“Dan
satu lagi, kalian tahu Mansion Black Rose?
Mansion tua yang ada di kota ini?
katanya itu adalah rumah sang vampire. Mansion
itu kan sudah ada sejak dulu dan tidak berpenghuni, selalu kosong sepanjang
tahun. Katanya setiap orang yang masuk ke Mansion
itu tidak dapat keluar kembali, ih...seram kan?"
“Bla bla bla…“
Sejak tadi aku hanya duduk diam menikmati
makan siangku, hanya menjadi pendengar setia mereka. Aku tidak ikut
mendiskusikan tentang ‘vampire’ itu. Aku yang realistik selalu berpikir dengan
logika tidak percaya dengan mitos semacam itu.
Setelah
selesai makan siang kami kembali ke kantor. Di perjalanan mereka masih terus
saja mendiskusikan masalah tadi. Sarah yang menyukai segala sesuatu berbau
horor mengajak kami untuk mendatangi Mansion
Black Rose untuk membuktikan kebenaran berita tersebut, kalau Mansion itu adalah tempat tinggal si
vampire.
Awalnya
aku menolak karena menurutku itu hanya membuang waktuku saja, tapi karena
bujukan Sarah dan Kevin akhirnya aku menyutujui untuk ikut serta. Mungkin saja
aku bisa mendapatkan sesuatu untuk menjadi materi tulisanku.
Kota
London mempunyai banyak peninggalan kuno, seperti menara jam Big Ben, Istana Hampton Court, dan Mansion Black
Rose. Mansion tua yang sudah ada sejak dulu dan masih berdiri kokoh di tempatnya.
Dan telah menjadi misteri bagi masayarat setempat, siapakah gerangan sang
pemilik Mansion.
***
Banyaknya
pekerjaan hari ini membuatku harus lembur di kantor. Aku baru pulang ke rumah
jam satu dini hari. Saat aku berjalan menuju rumah, terlihat sesosok bayangan
hitam yang melintas dengan cepat menuju lorong kecil yang gelap. Aku mencoba
mengikuti banyangan tersebut tapi aku tidak dapat menemukan sesuatu karena
suasana di lorong tersebut sangat gelap. Karena penasaran aku terus mencari sosok
bayangan tadi dan aku dapati seorang pria jangkung sedang berdiri di lorong
itu. Aku pun mengambil kesimpulan kalau pria tersebut adalah bayangan yang tadi
aku lihat
Pria
jangkung itu berdiri menyandarkan kepalanya di dinding lorong, tapi anehnya dia
terus saja menatap ke arahku yang berada tidak jauh dari tempatnya, entah
kenapa suasana saat itu tiba-tiba menjadi sangat dingin, membuatku merinding. Saat
itu sangat gelap jadi aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi aku dapat
melihat jelas matanya, matanya yang berwarna merah menyalanya, matanya yang
menatap tajam ke arahku seperti ingin memakanku. Dan saat aku hendak
meninggalkan lorong itu, seketika pria itu langsung terbang dengan sangat cepat
dan menghilang di hadapanku.
Aku
sangat terkejut dengan apa yang baru saja aku lihat. Aku segera berlari menuju
rumah. Sampainya di rumah aku langsung mengunci pintu dan masuk ke kamarku, aku
tidak ingin mengingat kejadian tadi. Aku pun langsung tidur.
Keesokan
harinya saat terbangun aku langsung teringat kejadian semalam yang aku alami,
tapi menurutku itu mungkin hanya halusinasi karena semalam aku terlalu lelah. Aku
pun berangkat kerja seperti biasa. Sampainya di kantor orang-orang mulai
mengerumuniku, menanyaiku tentang kejadian pembunuhan yang terjadi semalam di
dekat rumahku, tentang pembunuhan wanita tua dengan leher mayat terdapat bekas
gigitan.
Setelah
mendengar kejadian itu, aku pun mulai berpikir apakah kejadian semalam benar
nyata? apakah pria yang aku lihat semalam adalah sang vampire? “Ah, tidak. Ini
tidak ada kaitanya sama sekali, apa yang kulihat semalam tidaklah nyata,” aku
terus saja meyakinkan diriku.
***
Beberapa
hari kemudian aku dan beberap rekan kerjaku mendatangi Mansion Black Rose yang pernah kami bicarakan, ada saya, Kevin,
Sarah, Lucy dan Charlie. Selepas kerja sekitar jam sebelas malam kami berlima sama-sama
menuju ke tempat tujuan kami. Sampainya di sana kami langsung masuk karena gerbang
tidak terkunci. Kami berjalan melewati pekarangan yang lua. Akhirnya kami
sampai di depan pintu, saat Sarah mencoba membuka pintu, ternyata pintunya juga
tidak terkunci, seakan Mansion Black Rose
ini telah menyambut kedatangan kami.
Kami
akhirnya masuk ke dalam rumah besar itu. Keadaan di dalam sangat gelap,
lampunya juga tidak berfungsi hingga kami harus menggunakan senter agar bisa
berjalan. Terlihat Mansion ini
dipenuhi perabotan tua yang sudah kotor dan usang, sangat tidak terawat. Kami
mulai menjelajahi ruangan demi ruangan tapi tidak ada sesuatu yang aneh dan
mencurigakan yang kami temukan. Ini hanyalah sebuah Mansion tua biasa tanpa penghuni, “Tidak ada apa-apa di dalam
sini,” ucap Sarah sedikit kecewa.
Setelah
lama mengelilingi rumah besar terseut tanpa ada hasil, kami memutuskan untuk
pulang. Akan tetapi, tiba-tiba saja lampu di setiap ruangan menyala satu per
satu. Seluruh perabot yang ada mulai berguncang dengan keras, bahkan ada yang
terjatuh hingga pecah. Kami langsung berlari dan berteriak ketakutan. Saat
menuruni tangga kakiku tersandung dan terjatuh, kepalaku terbentur sangat keras
dan membuatku tak sadarkan diri.
Beberapa
saat kemudian aku terbangun. Aku dapati tubuhku telah terbaring di atas ranjang
dalam sebuah kamar yang cukup luas, “Anda sudah bangun?” terdengar suara wanita.
Seorang wanita telah berdiri di sampingku, dari pakaiannya terlihat seperti
seorang pelayan. “Tuan, dia sudah bangun,” kata wanita itu.
Aku
bangkit dari ranjang, melihat keadaan sekitar mencari sosok tuan yang dia
ucapkan tadi. Terlihat seorang pria sedang duduk di sofa dekat tempat tidur sambil
membaca buku. Postur tubuhnya sangat tinggi, kulitnya putih pucat, matanya
berwarna biru. “
Si-Siapa
kamu?” tanyaku kepada pria tersebut
“Seharusnya
aku yang bertanya, siapa kamu beraninya masuk ke dalam rumahku. Aku adalah
pemilik rumah ini,” jawab si pria.
Aku
diam tidak menjawab, bingung dengan apa yang terjadi. Seingatku tadi aku berada
di Mansion tua bersama rekanku dan
pingsan, tapi saat terbangun aku sudah berada di sini, “Apa jangan-jangan ini Mansion tadi” pikirku.
Pria
itu mengajakku keluar kamar, membuatku sangat terkejut melihat rumah ini. Rumah
ini adalah Mansion Black Rose aku dan
rekanku datangi tadi. Seluruh ruangan dan perabot yang ada sama persis dengan
apa yang aku lihat tadi. Akan tetapi suasananya sangat berbeda. Mansion ini telah dipenuhi orang yang
berlalu lalang, memakai pakaian layaknya seorang pelayan sama seperti wanita
tadi. Seluruh ruangan menjadi sangat terang dan bersih, perabotnya juga menjadi
sangat bersih, bahkan perabot yang tadi pecah kembali menjadi utuh. Sangat
berbeda dengan yang tadi.
Aku
sempat berpikir kalau semua ini hanyalah mimpi. Semua kejadian ini benar-benar
diluar nalar manusia. Tapi apakah mungkin ini hanyalah mimpi, karena apa ku
alami ini terasa sangat nyata, benar terjadi dan aku melihatnya sendiri. Aku
sangat heran dan sedikit ketakutan.
Aku
meminta untuk pulang tetapi sang pemilik rumah melarangku, dia ingin mengajakku
mengelilingi Mansion miliknya, “Kamu
sudah berani masuk ke dalam sini, aku tidak akan membiarkanmu keluar dengan
mudah. Setidaknya biarkan aku mengajakmu melihat-lihat rumahku ini,” kata pria
itu. Dengan sangat terpaksa aku mengikuti permintaannya. Aku sudah lancang
masuk kerumahnya tanpa izin, tinggal sebentar tidak masalah buatku.
Pria
itu mulai mengajakku berkeliling melihat rumahnya, memamerkan seluruh perabot
yang ada. Kami memasuki ruangan demi ruangan yang telah aku lihat tadi, tapi
sekarang telah terlihat dengan jelas. Perabot yang ada disini memang sudah
kuno, tapi terlihat elegan dan mewah. Mereka pasti telah merawatnya dengan
sangat baik.
“Kamu
pasti menyukai barang-barang antik karena semua yang ada di dalam sini adalah
barang antik, seperti peninggalan zaman kuno?” tanyaku sekedar basa basi. “Semua
yang ada di sini telah ada sejak aku lahir. Mansion
ini adalah peninggalan orang tuaku, sayangnya mereka telah terbunuh,” jawab
pria itu.
“Sejak
kapan kamu tinggal di sini, setahuku tempat ini sudah kosong dari dulu,” aku
bertanya kembali, “Aku dilahirkan di sini, aku telah tinggal di Mansion ini sejak masih bayi sampai
sekarang,” jawabnya. Kedengarannya itu sangat tidak masuk akal karena rumah ini
memang kosong dari dulu.
Orang
ini sangat aneh. Bukan cuma dia, para pelayan yang ada di sini juga, mereka hanya
diam, memperlihatkan mukanya sangat dingin terhadapku. Semuanya yang ada dalam
rumah ini sangat aneh. Bahkan udaranya juga tidak biasa, udara dalam sini
sangat dingin, membuatku selalu merinding.
Sekarang
tepat jam dua malam, sang pemilik rumah mengajakku untuk makan malam,
“Bagaimana kalau kita makan malam dulu,” ajaknya,
“Tapi
sekarang sudah jam dua malam?” jawabku sekedar menolak
“Jadwal
makanku memang jam segini, biasa aku keluar berkeliling mencari santapan lezat,”
kata pria tersebut. Kami duduk di meja makan yang cukup besar, tak lama
kemudian makanan tiba. Aku mengabiskan makananku dengan cepat, aku ingin segera
keluar dari tempat ini.
Selepas
makan dia kembali mengajakku berkeliling. Setelah sekian lama berjalan dan
seluruh ruangan di tempat ini telah kami masuki akhirnya dia membiarkanku untuk
pulang. Dia mengantarku sampai di pintu. Akupun berpamitan dan meminta maaf
karena sudah lancang masuk tanpa izin. Aku hendak membuka pintu akan tetapi pintunya
terkunci. Aku berbalik ingin memintanya untuk membukakan pintu. Dan saat aku
berbalik, terlihat pria itu seketika telah berubah. Matanya yang tadi berwarna
biru kini berubah menjadi merah seperti darah, dia menatapku dengan sangat
tajam seakan ingin memakanku.
Aku
sangat terkejut melihatnya. Tidak salah lagi, pria itu adalah pria yang aku
lihat malam itu di lorong dekat rumahku. Kakiku menjadi mati rasa yang
membuatku terjatuh di tempat. Aku tidak dapat berdiri atau berkata apapun
karena ketakutan. Pria itu tertawa melihat keadaanku, terlihat dari dalam
mulutnya dua gigi taring yang menjulur ke bawah. “Arghhh” aku berteriak sekuat
tenaga, meminta tolong kepada siapapun yang ada disana tapi tak ada satupun
yang memperdulikanku
Ternyata
Mansion ini adalah Mansion vampire,
semua yang tinggal dalam sini adalah vampire dan sekarang aku telah terjebak di
dalamnya. Pria itu tersenyum memamerkan taringnya yang putih, dengan cepat dia
menerkamku. Aku terus saja beteriak meminta tolong tapi aku sadar tak ada
seorangpun yang dapat menolongku sekarang
Sign up here with your email

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon