“Apa
hari ini kamu sibuk lagi?” tanya Ibu.
“Iya Bu. Beberapa hari ini aku sangat sibuk, ada produk baru dari perusahaan kami
dan akan segera dipasarkan. Aku yang memiliki ide akan produk kami ini. Kalau
produk kami nantinya laku dipasaran makan saya akan naik jabatan. Pokoknya kali
ini semua harus sempurna,” jawabku…
Namaku
adalah Arata, seorang pria berusia 26 tahun yang terobsesi dengan pekerjaannya.
Seorang anak desa yang merantau ke kota demi mencari arti sebuah kesuksesan. Aku
anak tunggal yang dibesarkan oleh Ibuku seorang dikarenakan Ayah telah meninggal
sejak aku masih bayi. Ibuku tinggal di desa, pergi ke kota untuk mengunjungiku
dan tinggal bersamaku beberapa hari.
“Kamu
tidak sarapan? Makanlah sedikit, Ibu sudah buatkan makanan kesukaanmu,” pinta Ibu.
“Tidak
Bu, aku harus segera ke kantor. Sebentar lagi ada rapat kerja, aku harus
cepat,” ucapku sambil memasang dasi.
“Tapi
setidaknya makanlah dulu walau cuma sedikit,” pinta Ibuku lagi.
“Hufh,
baiklah.”
Aku
menuju meja makan memakan masakan Ibu dan menaruh laptopku di meja makan. Ibu
mengambilkan air minum untukku. Akan tetapi karena terburu-buru ibu tidak
sengaja menjatuhkan laptopku, “Apa yang Ibu lakukan!” Karena panik aku langsung
teriak kepada Ibu. Segera aku mengecek laptop tadi, mengotak-atik laptop yang sayangnya
sudah tidak bisa menyala.
“Huh,
ini semua gara-gara ibu, laptopku jadi rusak. Lihat! tidak bisa menyalakan. Padahal
aku sudah begadang semalaman. Aku harus mempresentasikan hasil kerjaku sebentar
dalam rapat dan materinya ada di laptop ini. Tapi karena kecerobohan Ibu aku
tidak bisa presentasi,” ucapku kesal. Ibu hanya bisa terdiam melihat tingkahku.
Karena
kesal aku langsung berangkat kerja tanpa berpamitan kepada Ibu, menjalankan
mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam mobil aku terus menyalahkan Ibu karena
perbuatannya tadi, membuatku tidak fokus membawa mobil. Aku tidak menyadari
sebuah truk lewat di depanku. Segera aku memutar mobilku, dan ‘BRUKK’ kecelakaan pun terjadi.
***
Aku
mulai membuka mataku sedikit, melihat keadaan sekitar. Orang-orang berseragam
perawat berjalan di sekitarku, aku sekarang berada di rumah sakit. Tapi aku
merasa aneh, entah kenapa aku merasa seperti melayang. Dan saat aku telah sadar
serpenuhnya, aku menyadari kalau tubuhku benar-benar melayang. Dan aku lebih
terkejut lagi saat melihat diriku sendiri di bawah yang terbaring tak sadarkan
diri. Ada apa ini, apakah aku telah mati?
Tubuhku
terus saja melayang, tak seorangpun yang menyadari keberadaanku. Aku berteriak
meminta tolong kepada dokter, perawat, kepada siapapun yang berada di dekatku
tapi tidak ada yang melihat ataupun memperdulikanku. Sepertinya aku benar-benar
telah mati. Aku pun pasrah dengan keadaanku.
Aku
melihat diriku yang terbaring penuh luka akibat kecelakaan yang aku alami. Padahal
aku masih muda tapi harus pergi seperti ini. Aku bahkan belum mencapai
tujuanku. Kenapa hal ini harus terjadi padaku.
Tiba-tiba
saja angin membawa tubuhku terbang menembus atap rumah sakit hingga ke atas
langit. Dari atas langit aku dapat melihat kesibukan kota. Mobil-mobil melaju
dengan kencangnya. Orang-orang berseragam hitam putih berjalan kesana-kemari memenuhi
setiap jalan di kota Tokyo.
Entah
kemana angin akan membawaku tapi ia terus saja menerbangkan tubuhku selama
berjam-jam. Selama itu pula aku terus memikirkan kehidupanku. Sambil menatap
langit biru aku terus memutar perjalan demi perjalan yang aku alami semasa
hidup. Dan aku pun langsung teringat kejadian tadi pagi, dan saat itu pula
tubuhku terhenti.
Aku
melihat suasana yang tak asing buatku. Aku terhenti tepat di atas rumah yang telah
tergambar dengan jelas di otakku. Angin telah membawaku ke desa tempat
kelahiranku, ke rumahku yang dulu. Dari atas aku dapat melihat seorang wanita
dengan perutnya yang buncit. Dan betapa mengejutkannya aku saat mengetahui
siapa wanita tersebut, dia adalah Ibuku.
Wanita
itu sedang duduk lemas dan di sebelahnya ada seorang pria yang mengelus perut
besar Ibu. Dia adalah ayahku, ayah yang telah meninggalkan kami sejak aku kecil.
Ayah yang selama ini hanya bisa aku lihat lewat foto dari ibu, sekarang aku
dapat melihatnya dengan jelas. Ibuku terlihat sangat cantik saat itu, begitu
juga dengan ayahku yang terlihat sangat tampan. Mereka berdua terlihat sangat
bahagia.
Ini
adalah kejadian saat aku belum dilahirkan. Wajah Ibu yang tampak muda dan perut
buncitnya membuktikan kalau aku masih di dalam perut Ibu. Dan peristiwa ini terus
berlanjut. Aku terus menyaksikan perjuangan seorang Ibu yang mengandung anaknya
hingga melahirkannya ke Dunia.
Waktu
terus bergulir hingga tiba saat-saat dimana kami kehilangan sosok pemimpin.
Saat dimana ayah harus meniggalkan kami. Malam itu hanya ada aku yang masih bayi
dan Ibu yang menggendongku. “Nak, sekarang Ayahmu telah tiada. Tapi tenang saja
karena Ibu akan selalu berada disampingmu, merawat dan menjagamu, memberimu
kebahagiaan dan kasih sayang,” Ibu menangis berbisik ketelingaku. Aku dapat
mendengar bisikan Ibu dari atas sini. Kalimat Ibu membuatku menitihkan air
mata, betapa sayangnya Ibu terhadapku.
Hari
demi hari kami lalui bersama. Aku melihat diriku tumbuh besar dipangkuan Ibu.
Saat aku mulai berjalan, saat aku mulai berbicara, saat aku mulai bersekolah.
Ibu selalu ada bersamaku. Ibu senantiasa berjuang merawat dan menafkahiku, dan
dia melakukan semua itu dengan senang hati. Betapa hebatnya sosok Ibuku ini.
Aku
tidak menyadari kalau kami pernah melalui masa-masa seperti itu. Mungkin hal itu
terlihat sederhana, hanya ada kami berdua, makan dengan lauk seadanya sambil bersenda
gurau. Terlihat sangat menyenangkan, kami sangat bahagia saat masa-masa itu.
Dan
kehidupanku terus berputar hingga aku menginjak masa remaja, masa dimana aku
akan mennduduki bangku perguruan tinggi. Aku terus menyaksikan diriku tumbuh
dewasa.
Gubuk
kayu yang tua kini tiba-tiba berubah menjadi rumah modern, rumah yang aku
tempati sekarang di kota. Kini aku melihat kejadian tadi pagi di rumah sebelum
kecelakaan itu terjadi. Aku melihat Ibuku terbangun dari tidurnya padahal fajar
belum tiba semata-mata hanya untuk membuatkan makanan kesukaanku. Tapi bukannya
berterima kasih, aku justru marah kepada Ibu karena masalah kecil.
Mataku
terus menitihkan air mata menyesali apa yang telah aku perbuat. Ingin rasanya
aku turun ke bawah menemui Ibu, memeluknya dan mengatakan kalau aku sangat menyayanginya.
Tapi sayangnya aku tidak dapat berbuat apa-apa, hanya terus memandang wajah Ibu
sambil menangis.
“Arata-kun… Arata-kun…
Arata-kun…”
Aku
dapat mendengar suara Ibu memanggilku, terus dan terus memanggil namaku. Aku
mencari sumber suara itu, tubuhku terus melayang mencari kesana kemari. Saat
sumber suara itu mulai dekat, tubuhku tiba-tiba saja terjatuh. Dan saat aku
membuka mataku, aku dapati diriku terbaring di ranjang rumah sakit tadi. Aku
melihat ibu dan perawat telah berada di sampingku. Ternyata semua itu hanyalah
mimpi.
“Arata-kun,
syukurlah kamu sudah bangun. Tadi kamu mengalami kecelakaan, kepalamu terbentar
dengan sangat keras dan tak sadarkan diri dalam waktu yang lama.” Aku mendengar Ibu menceritakan apa yang terjadi. Aku belum dapat berbicara akibat kecelakaan yang
menimpaku. Aku hanya bisa menangis melihat Ibu yang berdiri tepat didepanku. Aku
ingin bangun tapi Ibu menyuruhku beristirahat. Akupun tertidup lelap.
Keesokan
harinya keadaanku mulai membaik. Ibu terus merawatku. Kami menghabiskan waktu
kami berdua dengan bercerita masa lalu kami saat masih di desa.
“Apa Ibu masih ingat? Saat aku masih kecil, aku menangsis minta dibelikan sepeda.
Ibu bilang kalau Ibu belum bisa membelikannya tapi saat Ibu pulang kerja, Ibu
datang dengan membawa sepeda,” ucapku.
“Iya,
itu adalah sepeda pertamamu dan kamu sangat menyukainya. Saat sepeda itu rusak
kamu menangis seharian. Haha,” goda Ibu.
“Aku
juga ingat. Waktu aku terjatuh dari tangga, kepalaku terbentur hingga berdarah.
Karena panik ibu langsung segera berlari membawaku ke klinik terdekat,” lanjutku.
“Benarkah?
Tapi saat itu kamu masih dua tahun, bagaimana bisa kamu bisa mengingat semua
itu,” kata ibu keheranan.
“Tidak Bu, aku mengingat semuanya."
***
Waktu
itu dapat diibarakatkan sebagai pohon. Setiap detik waktu yang kita lalui akan
berjatuhan layaknya daun yang berguguran setiap hari. Daun yang telah jatuh
tidak akan kembali lagi begitu pula dengan waktu yang telah berlalu tidak dapat
kembali. Akan tetapi, walau daun berguguran setiap hari akan ada daun yang
tumbuh setiap hari pula. Mungkin kita tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi
kita masih memiliki masa sekarang yang dapat kita pergunakan sebaik-baiknya.
Entah
kenapa aku diperlihatkan semua ini. Tapi kejadian ini membuatku menyadari satu
hal, yang terpenting dalam hidupku adalah ibuku, bukan jabatan yang selama ini
aku idam-idamkan. Dan aku yakin, yang terpenping bagi ibu juga adalah aku, anaknya.
Aku
akan pergunakan waktu ini untuk bersama ibuku dengan sebaik-baiknya.
Sign up here with your email

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon