***
Hari ini aku harus pulang telat karena ada latihan klub baseball. Langit telah gelap dan aku harus berjalan melewati lorong yang sepi untuk sampai ke rumah. Perjalananku awalnya biasa saja, hingga aku melihat seorang pria yang memakai jaket dan topi hitam berniat merampok keluarga kecil yang berjalan tidak jauh dari jaraknya.
Pria itu terus mengancam tapi mereka tetap bersikeras mempertahankan harta bendanya. Dan akhirnya pria itu menancapkan pisaunya ke tubuh sang ibu, membuat wanita itu terjatuh. Sang ayah pun melawan, tapi pada akhirnya menjadi korban yang kedua.
Aku ingin menolong mereka, akan tetapi apa yang bisa aku perbuat untuk menolongnya? Aku hanya anak 12 tahun yang tidak dapat berbuat apa-apa. Pria itu lebih besar dan lebih kuat dariku. Aku tidak dapat menolong mereka. Jika aku ke sana yang ada aku hanya menjadi korban selanjutnya.
Saat perampok itu hendak pergi membawa tas mereka, sang ayah segera bangkit dan menusuknya dari belakang menggunakan pisau yang menempel di tubuh si ayah tadi. Membuat mereka terjauh ke tanah tak berdaya. Sedangkan anak kecil dari kedua pasangan tersebut sejak tadi hanya bisa terus menangis melihat kedua orang tuanya tergeletak di tanah dengan tubuh berlumuran darah.
Aku mendekati mereka, melihat keadaan mereka. Mendekati anak tadi dan menyuruhnya untuk berhenti menangis. Aku memeriksa keadaan kedua korban yang sudah tak sadarkan diri.
Pria bertopi itu tidak dapat berdiri. Beberapa kali ia mencoba untuk bangkit tapi tidak bisa.
Pria itu melihatku, merintih kesakitan dan meminta pertolongan kepadaku. Aku mendekati perampok itu, mengambil pisau yang telah memakan tiga korban. Ingin aku menusuk pria itu mengingat apa yang telah ia lakukan tadi. Tanganku yang gemetaran tetap memegang pisau itu dengan kuat.
Ujung pisau kini telah menempel di tubuh pelaku. Pria itu hanya bisa menatapku tanpa berbuat apa-apa, bahkan untuk mengangkat tangan saja susah. Jadi dengan mudahnya aku bisa membunuhnya. Hanya dengan sekali tusukan di jantungnya dapat merenggut nyawa pria itu.
Tapi apakah aku sanggup?
Haruskah aku membunuhnya?
Haruskah aku menjadi sinighami yang akan mencabut nyawa manusia ini.
***
Keesokan harinya
"Arata-kun, cepatlah turun dan sarapan lalu berangkat sekolah," teriak ibu. Selesai berpakaian aku langsung turun menuju meja makan, menikmati sarapan yang telah disiapkan ibu.
"Oh iya, semalam waktu kamu pulang tidak terjadi hal yang berbahaya kan? Ibu sangat khawatir," kata ibu.
"Memang kenapa Bu?" tanyaku.
"Semalam terjadi perampokan di dekat rumah. Katanya ada anak yang melaporkan kejadian itu. Untungnya anak itu bertindak cepat sehingga korban dapat diselamatkan. Sekarang mereka dirawat di rumah sakit. Pelakunya juga sudah ditangani oleh pihak kepolisian," kata ibu.
"Untungnya semalam kamu tidak berada di sana saat kejadian itu berlangsung. Padahal perampokan itu terjadi tepat sebelum kamu sampai di rumah. Jadi banyak yang mengira kalau kamu juga berada di sana. Kalau pulang sekolah kamu harus hati-hati," sambungnya.
"Iya Bu, lain kali aku akan lebih berhati-hati."
Sign up here with your email

2 komentar
Write komentarKenapa g dikuarin j sharingannya?
ReplyMasih anak2...
ReplyBelum bisa pke sharingan... :D
Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon