Unexpected Friend-Part 2

Cerita Selengkapnya Dapat Dilihat DI SINI






Dalam suatu pagi, seorang gadis bergaun putih tiba-tiba muncul di hadapanku. Membawaku ke suatu tempat, tempat kelahiranku di Okinawa hanya dengan hitungan detik. Entah dari mana asal gadis itu, berbagai pertanyaan muncul di kepalaku untuk menghilangkan rasa penasaranku terhadap gadis itu.

“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kita ada di sini? ap, apa kita baru saja melakukan teleportasi? apa kamu yang melakukan ini? si, siapa kamu sebenarnya?” tanyaku terbata-tebata.

“Akio-kun, kamu pasti ingat tempat inikan? iyakan?” tanya gadis itu dengan semangat.

“Tentu saja aku ingat, ini adalah tempat rahasiaku waktu kecil, dimana aku menghabiskan waktuku, duduk sendiri, berbicara sendiri, melamun sendiri, hehe,” kataku sambil mengenang masa laluku.

“Selain itu tempat ini… tapi, darimana kamu tahu tempat ini? dan hei, tunggu dulu, kamu itu sebenarnya siapa? kamu bahkan belum menjawab semua pertanyaan yang aku keluarkan,” ucapku.

“Apa kamu tidak ingat denganku? aku kan teman masa kecilmu? masa kamu lupa denganku?” jawab gadis bergaun putih itu.

Aku memperhatikan wajahnya, berusaha mengingat siapa dia tapi tetap saja aku tidak tahu siapa dia, “Teman masa kecilku? benarkah?” aku tidak yakin dengannya, aku bisa mengingat semua temanku bahkan waktu masih kecil tapi aku tidak mengetahui siapa dia.

“Aku masih tidak percaya denganmu, kalau kamu memang teman masa kecilku aku pasti bisa mengenalmu, selain itu kamu harus menjelaskan apa yang telah terjadi, kenapa dalam sekejap kita bisa ada di tempat ini. Apa kamu yang membawaku, tapi bagaimana bisa?” tanyaku sekali lagi.

“Hmmn” gadis itu menganggukkan kepalanya, “Tentu saja aku yang membawamu ke sini, memang siapa lagi.”

“Ehh? Jadi, jadi benar kamu yang membawa kita ke sini, bagaimana caranya?” tanyaku. Dan dengan ragu-ragu dan sedikit rasa malu aku melanjutkan pertanyaanku “Apa.., kita baru saja, apa kamu bisa melakukan teleportasi?”

“Yups” jawab gadis itu tanpa ragu-ragu.

“Jadi.., jadi memang benar kita telah berteleportasi, wow.  Tapi bagaimana bisa?” Aku terus saja bertanya kepadanya, belum sempat dia menjawab aku langsung melanjutkan perkataanku, “Tunggu dulu, ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa? Ini bukan tipuan kan? Atau jangan-jangan…” aku pun mulai berfikir yang aneh-aneh, “Jangan-jangan kamu telah menghipnotisku, atau mungkin sekarang ini ada perampok yang datang dan menghipnotisku, membuatkan berhalusinasi dan tidak sadar sehingga mereka dengan leluasa dapat mengambil semua barang-barangku. Ahh tidak, aku harus bangun, Akio bangunlah, sadarlah sebelum semua barang-barangmu telah habis.”

Aku menepuk pipiku berharap aku terbangun dari halusinasiku tapi tetap saja aku tidak beranjak dari tempatku, “Ternyata ini bukan sekedar halusinasi, ini benar-benar nyata, aku benar-benar telah berpindah tempat dengan sangat cepat.”

“Tentu saja,” jawab perempuan itu sambil berjalan menuju pohon sakura yang ada di depan kami, “Aku membawamu ke sini karena tempat ini adalah tempat pertama kali kita bertemu, apa kamu masih ingat? Saat itu kamu masih sangat kecil, kamu baru belajar naik sepeda tapi kamu terjatuh dan menangis tapi karena kamu malu menangis di depan orang lain jadi kamu berlari mencari tempat yang sunyi mengangis seindirian, tepat dibawah pohon sakura ini”

“Kamu menangis menahan rasa sakit karena terjatuh dan terus meniup luka di kakimu. Dan keesokan harinya kamu datang ke tempat ini lagi, disinilah kamu belajar naik sepeda sendiri, kamu beberapa kali terjatuh dari sepeda tapi kamu langsung bangkit dan terus berlatih hingga akhirnya kamu lancar memainkannya, sejak saat itu kamu terus datang ke tempat ini, kamu ingatkan? Selain itu kamu juga sering menceritakan semua masalahmu di bawah pohon ini, aku masih ingat kamu bercerita tentang temanmu yang menjahilimu di sekolah, hmmn kalau tidak salah namanya Abe, anak yang paling besar di kelasmu, kamu mengeluh karena dia mengambil bekalmu.” Sakura bercerita panjang lebar tentang masa laluku.

“Kamu sering menangis di tempat ini sendiri, menceritakan masalahmu di sekolah, tentang teman-temanmu, bagaimana mereka memperlakukanmu, aku tahu semua. Di tempat ini kamu mencurahkan semua isi hatimu, mengeluarkan semua emosimu, sedih, senang, marah,” wanita itu terus saja menceritakan semua tentangku.

“Benarkan, Akio-kun?” wanita itu berbalik, melihatku sambil tersenyum.

Aku yang sejak tadi mendengarkan semua perkataannya hanya bisa diam, kagum bercampur dengan bingung, darimana dia mengetahui semua masa laluku di tempat ini, “Tapi bagaimana bisa, bagaimana bisa kamu tahu semua tentangku, tentang teman-temanku, tentang semua masalahku?”

“Karena kamu yang menceritakan semuanya kepadaku,” jawab gadis itu.

“Hehe.” Aku tertawa mendengar perkataannya, “Sejak kapan aku menceritakan semuanya kepadamu. Aku tidak pernah menceritakan masalahku kepada orang lain, bahkan kepada orang tuaku sendiri, kecuali dengan… oh?” Aku terkejut, tiba-tiba saja hal itu muncul di kepalaku.

Melihat ekspresiku sepertinya wanita itu mengetahui sesuatu, “Sepertinya kamu sudah mulai ingat.”

Perasaanku bercampur aduk, dari perasaan bingung, takut dan penasaran diakibatkan oleh tingkah wanita yang berdiri di hadapanku sekarang ini. Kenapa hal itu tiba-tiba saja muncul di kepalaku, membuatku merinding dan tidak mempercayainya.

“Kimi dare?” Aku memberanikan diriku bertanya, memastikan bahwa apa yang baru saja kupikirkan itu tidak benar. Dan seketika gadis itu langsung menjawab, “SAKURA!”

Mendengar perkatannya membuatku terdiam sejenak, “Ahh, ahh.., tidak mungkin.., ini sangat tidak masuk akal, kamu kan…” sekarang semua sudah mulai terlihat dengan jelas di kepalaku, setiap scenario yang aku alami telah mencapai klimaks, semua hipotesa-hipotesa aneh yang muncul di dalam kepalaku telah tersusun satu per satu menjadi sebongkah cerita yang sempurna.

Dalam sekejap isi kepalaku hanya memutar satu cerita, sebuah cerita dongeng yang belum pernah aku dengar sama sekali. Aku berjalan menuju pohon sakura yang berdiri tegak di depanku, “Hah, jadi begitu rupanya, sekarang aku mengetahui siapa kamu sebenarnya, jika dugaanku benar, kamu adalah teman lamaku, pohon sakura ini,” kataku sambil meraba goresan yang kubuat di pohon ini.

Mendengar perkataanku gadis itu tersenyum, “Jadi kamu masih ingat rupanya”

“Semua yang kualami baik itu susah ataupun senang pasti selalu kuceritakan pada pohon ini, pohon ini telah menjadi pendengar sekaligus teman setiaku selama bertahun-tahun, aku tidak akan pernah lupa,” ucapku sambil tersenyum menatap pohon sakura yang ada di depanku.

“Memang benar aku adalah pohon sakura ini,” kata Sakura, “Entah kenapa tiba-tiba aku langsung keluar dari pohon ini dan menjadi wujub manusia. Setelah aku keluar dari pohon ini, hal pertama yang ada dalam pikiranku ada Akio-kun, aku ingin menemuimu dan tiba-tiba saja aku langsung berada dalam kamarmu.”

“Aku tahu kenapa kamu bisa berubah jadi manusia dan kenapa kamu langsung berada di kamarku.” Aku menjelaskan kepadanya sebuah alur cerita yang muncul di kepalaku tadi, “Satu-satunya alasan yang bisa aku keluarkan untuk semua kejadian aneh ini adalah akibat kejadian kemarin, saat itu aku bertemu dengan seorang gadis kecil yang memegang dua mawar putih, aku mengantarnya ke kuil Matsushima dan dia menanam satu mawar putihnya di kuil itu dengan alasan dengan menanam mawar putih tersebut di kuil Katsushima maka keinginan kita akan terkabulkan. Dia menanam satu mawar dan mawar yang satunya lagi diberikan kepadaku agar aku dapat menanamnya juga di kuil tersebut jadi menanam bunga itu tepat di samping bunga gadis kecil tadi. Mungkin karena hal itulah kamu bisa sampai berada disini bersamaku. Tapi seingatku, aku tidak meminta kamu keluar dari pohon ini dan menemuiku, bahkan aku tidak meminta sama sekali. Aku menanam mawar itu hanya karena gadis itu memberikannya kepadaku yang telah dia ambil dengan susah payah, daripada bunga itu aku telantarkan lebih baik aku menanamnya saja.”

Dengan tenang dan pelan Sakura berkata kepadaku, “Benarkah? Mungkin Akio-kun memang tidak meminta sesuatu, tapi jauh dalam lubuk hatimu kau membutuhkan seorang teman yang selalu berada di sampingmu. Kamu mungkin tidak pernah berkata pada seseorang kalau kamu menginginkan mereka untuk jadi temanmu tapi itulah keinginanmu yang sebenarnya, membutuhkan seorang teman yang dapat mengisi dunia kecilmu yang kau buat sendiri tanpa ada seorangpun yang dapat membukanya, yang kamu kunci rapat-rapat dan tidak memberikan kunci itu pada siapapun.”

Mendengar perkataan Sakura membuatku terdiam, aku tidak menyangkal apa yang ia ucapkan karena memang benar kalau aku sebenarnya membutuhkan seorang teman di sampingku, seorang teman yang dapat mengeluarkanku dari duniaku yang sunyi dan gelap ini. Dan jawaban itu mungkin adalah gadis itu, Sakura…

***

Aku meminta Sakura unuk membawaku pulang dan gadis itu pun langsung membawaku kembali ke kamarku. Dan pastinya dengan kecepatan kilat, dia membawaku dengan selamat. Suasana kamar tidak berubah, masih berantakan akibat kejadian tadi.

Aku melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Kami pulang pergi dari pulau Okinawa ke Nagoya hanya dalam waktu kurang dari satu jam, benar-benar ajaib. 

Aku membereskan kamarku, mandi dan menyiapkan sarapan pagi. Sambil menonton TV aku menyantap sarapan pagiku dengan santai. Tapi tiba-tiba, “Akio-kun!” Terdengar suara teriakan Sakura dari luar rumah. Segera aku lari menuju pintu, terlihat Sakura yang mondar-mandir di depan pintu rumah.

“Kenapa kamu masih di sini?” tanyaku.

“Aku memang masih di sini,” jawabnya santai.

 “Apa yang kamu lalukan di luar rumahku? Kalau ada yang lihat nanti mereka bilang apa?” aku segera menariknya masuk ke dalam rumahku.

“Sekarang kamu harus kembali ke tempat asalmu,” perintahku.

“Tapi…Aku tidak bisa kembali,” jawab Sakura.

“Apa maksudmu tidak bisa kembali?” tanyaku.

Dan gadis itu, Sakura. Dia hanya bisa tersenyum menatapku…


Bersambung


Foot note
Kimi dare? : Siapa kamu?
Previous
Next Post »

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon