Cerita Selengkapnya Dapat Dilihat DI SINI
Dalam suatu
pagi, seorang gadis bergaun putih tiba-tiba muncul di hadapanku. Membawaku ke
suatu tempat, tempat kelahiranku di Okinawa hanya dengan hitungan detik. Entah
dari mana asal gadis itu, berbagai pertanyaan muncul di kepalaku untuk menghilangkan
rasa penasaranku terhadap gadis itu.
“Apa yang
terjadi? Bagaimana bisa kita ada di sini? ap, apa kita baru saja melakukan
teleportasi? apa kamu yang melakukan ini? si, siapa kamu sebenarnya?” tanyaku
terbata-tebata.
“Akio-kun,
kamu pasti ingat tempat inikan? iyakan?” tanya gadis itu dengan semangat.
“Tentu saja
aku ingat, ini adalah tempat rahasiaku waktu kecil, dimana aku menghabiskan
waktuku, duduk sendiri, berbicara sendiri, melamun sendiri, hehe,” kataku
sambil mengenang masa laluku.
“Selain itu
tempat ini… tapi, darimana kamu tahu tempat ini? dan hei, tunggu dulu, kamu itu
sebenarnya siapa? kamu bahkan belum menjawab semua pertanyaan yang aku
keluarkan,” ucapku.
“Apa kamu
tidak ingat denganku? aku kan teman masa kecilmu? masa kamu lupa denganku?”
jawab gadis bergaun putih itu.
Aku
memperhatikan wajahnya, berusaha mengingat siapa dia tapi tetap saja aku tidak
tahu siapa dia, “Teman masa kecilku? benarkah?” aku tidak yakin dengannya, aku
bisa mengingat semua temanku bahkan waktu masih kecil tapi aku tidak mengetahui
siapa dia.
“Aku masih
tidak percaya denganmu, kalau kamu memang teman masa kecilku aku pasti bisa
mengenalmu, selain itu kamu harus menjelaskan apa yang telah terjadi, kenapa
dalam sekejap kita bisa ada di tempat ini. Apa kamu yang membawaku, tapi
bagaimana bisa?” tanyaku sekali lagi.
“Hmmn” gadis
itu menganggukkan kepalanya, “Tentu saja aku yang membawamu ke sini, memang
siapa lagi.”
“Ehh? Jadi,
jadi benar kamu yang membawa kita ke sini, bagaimana caranya?” tanyaku. Dan
dengan ragu-ragu dan sedikit rasa malu aku melanjutkan pertanyaanku “Apa..,
kita baru saja, apa kamu bisa melakukan teleportasi?”
“Yups” jawab
gadis itu tanpa ragu-ragu.
“Jadi..,
jadi memang benar kita telah berteleportasi, wow. Tapi bagaimana bisa?” Aku terus saja bertanya
kepadanya, belum sempat dia menjawab aku langsung melanjutkan perkataanku, “Tunggu
dulu, ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa? Ini bukan tipuan kan? Atau
jangan-jangan…” aku pun mulai berfikir yang aneh-aneh, “Jangan-jangan kamu
telah menghipnotisku, atau mungkin sekarang ini ada perampok yang datang dan
menghipnotisku, membuatkan berhalusinasi dan tidak sadar sehingga mereka dengan
leluasa dapat mengambil semua barang-barangku. Ahh tidak, aku harus bangun,
Akio bangunlah, sadarlah sebelum semua barang-barangmu telah habis.”
Aku menepuk
pipiku berharap aku terbangun dari halusinasiku tapi tetap saja aku tidak
beranjak dari tempatku, “Ternyata ini bukan sekedar halusinasi, ini benar-benar
nyata, aku benar-benar telah berpindah tempat dengan sangat cepat.”
“Tentu saja,”
jawab perempuan itu sambil berjalan menuju pohon sakura yang ada di depan kami,
“Aku membawamu ke sini karena tempat ini adalah tempat pertama kali kita
bertemu, apa kamu masih ingat? Saat itu kamu masih sangat kecil, kamu baru
belajar naik sepeda tapi kamu terjatuh dan menangis tapi karena kamu malu
menangis di depan orang lain jadi kamu berlari mencari tempat yang sunyi mengangis
seindirian, tepat dibawah pohon sakura ini”
“Kamu
menangis menahan rasa sakit karena terjatuh dan terus meniup luka di kakimu.
Dan keesokan harinya kamu datang ke tempat ini lagi, disinilah kamu belajar
naik sepeda sendiri, kamu beberapa kali terjatuh dari sepeda tapi kamu langsung
bangkit dan terus berlatih hingga akhirnya kamu lancar memainkannya, sejak saat
itu kamu terus datang ke tempat ini, kamu ingatkan? Selain itu kamu juga sering
menceritakan semua masalahmu di bawah pohon ini, aku masih ingat kamu bercerita
tentang temanmu yang menjahilimu di sekolah, hmmn kalau tidak salah namanya
Abe, anak yang paling besar di kelasmu, kamu mengeluh karena dia mengambil
bekalmu.” Sakura bercerita panjang lebar tentang masa laluku.
“Kamu sering
menangis di tempat ini sendiri, menceritakan masalahmu di sekolah, tentang
teman-temanmu, bagaimana mereka memperlakukanmu, aku tahu semua. Di tempat ini
kamu mencurahkan semua isi hatimu, mengeluarkan semua emosimu, sedih, senang,
marah,” wanita itu terus saja menceritakan semua tentangku.
“Benarkan,
Akio-kun?” wanita itu berbalik, melihatku sambil tersenyum.
Aku yang
sejak tadi mendengarkan semua perkataannya hanya bisa diam, kagum bercampur
dengan bingung, darimana dia mengetahui semua masa laluku di tempat ini, “Tapi
bagaimana bisa, bagaimana bisa kamu tahu semua tentangku, tentang
teman-temanku, tentang semua masalahku?”
“Karena kamu
yang menceritakan semuanya kepadaku,” jawab gadis itu.
“Hehe.” Aku
tertawa mendengar perkataannya, “Sejak kapan aku menceritakan semuanya
kepadamu. Aku tidak pernah menceritakan masalahku kepada orang lain, bahkan
kepada orang tuaku sendiri, kecuali dengan… oh?” Aku terkejut, tiba-tiba saja
hal itu muncul di kepalaku.
Melihat
ekspresiku sepertinya wanita itu mengetahui sesuatu, “Sepertinya kamu sudah
mulai ingat.”
Perasaanku bercampur aduk, dari perasaan bingung, takut dan penasaran diakibatkan oleh tingkah wanita yang berdiri di hadapanku sekarang ini. Kenapa hal itu tiba-tiba saja muncul di kepalaku, membuatku merinding dan tidak mempercayainya.
“Kimi dare?”
Aku memberanikan diriku bertanya, memastikan bahwa apa yang baru saja
kupikirkan itu tidak benar. Dan seketika gadis itu langsung menjawab, “SAKURA!”
Mendengar
perkatannya membuatku terdiam sejenak, “Ahh, ahh.., tidak mungkin.., ini sangat
tidak masuk akal, kamu kan…” sekarang semua sudah mulai terlihat dengan jelas
di kepalaku, setiap scenario yang aku alami telah mencapai klimaks, semua
hipotesa-hipotesa aneh yang muncul di dalam kepalaku telah tersusun satu per
satu menjadi sebongkah cerita yang sempurna.
Dalam sekejap
isi kepalaku hanya memutar satu cerita, sebuah cerita dongeng yang belum pernah
aku dengar sama sekali. Aku berjalan menuju pohon sakura yang berdiri tegak di
depanku, “Hah, jadi begitu rupanya, sekarang aku mengetahui siapa kamu
sebenarnya, jika dugaanku benar, kamu adalah teman lamaku, pohon sakura ini,”
kataku sambil meraba goresan yang kubuat di pohon ini.
Mendengar
perkataanku gadis itu tersenyum, “Jadi kamu masih ingat rupanya”
“Semua yang
kualami baik itu susah ataupun senang pasti selalu kuceritakan pada pohon ini,
pohon ini telah menjadi pendengar sekaligus teman setiaku selama
bertahun-tahun, aku tidak akan pernah lupa,” ucapku sambil tersenyum menatap
pohon sakura yang ada di depanku.
“Memang
benar aku adalah pohon sakura ini,” kata Sakura, “Entah kenapa tiba-tiba aku
langsung keluar dari pohon ini dan menjadi wujub manusia. Setelah aku keluar
dari pohon ini, hal pertama yang ada dalam pikiranku ada Akio-kun, aku ingin
menemuimu dan tiba-tiba saja aku langsung berada dalam kamarmu.”
“Aku tahu
kenapa kamu bisa berubah jadi manusia dan kenapa kamu langsung berada di
kamarku.” Aku menjelaskan kepadanya sebuah alur cerita yang muncul di kepalaku
tadi, “Satu-satunya alasan yang bisa aku keluarkan untuk semua kejadian aneh
ini adalah akibat kejadian kemarin, saat itu aku bertemu dengan seorang gadis
kecil yang memegang dua mawar putih, aku mengantarnya ke kuil Matsushima dan
dia menanam satu mawar putihnya di kuil itu dengan alasan dengan menanam mawar
putih tersebut di kuil Katsushima maka keinginan kita akan terkabulkan. Dia
menanam satu mawar dan mawar yang satunya lagi diberikan kepadaku agar aku
dapat menanamnya juga di kuil tersebut jadi menanam bunga itu tepat di samping
bunga gadis kecil tadi. Mungkin karena hal itulah kamu bisa sampai berada
disini bersamaku. Tapi seingatku, aku tidak meminta kamu keluar dari pohon ini
dan menemuiku, bahkan aku tidak meminta sama sekali. Aku menanam mawar itu
hanya karena gadis itu memberikannya kepadaku yang telah dia ambil dengan susah
payah, daripada bunga itu aku telantarkan lebih baik aku menanamnya saja.”
Dengan tenang
dan pelan Sakura berkata kepadaku, “Benarkah? Mungkin Akio-kun memang tidak
meminta sesuatu, tapi jauh dalam lubuk hatimu kau membutuhkan seorang teman yang
selalu berada di sampingmu. Kamu mungkin tidak pernah berkata pada seseorang
kalau kamu menginginkan mereka untuk jadi temanmu tapi itulah keinginanmu yang
sebenarnya, membutuhkan seorang teman yang dapat mengisi dunia kecilmu yang kau
buat sendiri tanpa ada seorangpun yang dapat membukanya, yang kamu kunci
rapat-rapat dan tidak memberikan kunci itu pada siapapun.”
Mendengar
perkataan Sakura membuatku terdiam, aku tidak menyangkal apa yang ia ucapkan
karena memang benar kalau aku sebenarnya membutuhkan seorang teman di sampingku,
seorang teman yang dapat mengeluarkanku dari duniaku yang sunyi dan gelap ini. Dan
jawaban itu mungkin adalah gadis itu, Sakura…
***
Aku meminta
Sakura unuk membawaku pulang dan gadis itu pun langsung membawaku kembali ke
kamarku. Dan pastinya dengan kecepatan kilat, dia membawaku dengan selamat. Suasana
kamar tidak berubah, masih berantakan akibat kejadian tadi.
Aku melihat
jam dinding, waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Kami pulang pergi dari pulau
Okinawa ke Nagoya hanya dalam waktu kurang dari satu jam, benar-benar ajaib.
Aku
membereskan kamarku, mandi dan menyiapkan sarapan pagi. Sambil menonton TV aku
menyantap sarapan pagiku dengan santai. Tapi tiba-tiba, “Akio-kun!” Terdengar
suara teriakan Sakura dari luar rumah. Segera aku lari menuju pintu, terlihat
Sakura yang mondar-mandir di depan pintu rumah.
“Kenapa kamu
masih di sini?” tanyaku.
“Aku memang
masih di sini,” jawabnya santai.
“Apa yang kamu lalukan di luar rumahku? Kalau ada
yang lihat nanti mereka bilang apa?” aku segera menariknya masuk ke dalam rumahku.
“Sekarang
kamu harus kembali ke tempat asalmu,” perintahku.
“Tapi…Aku
tidak bisa kembali,” jawab Sakura.
“Apa
maksudmu tidak bisa kembali?” tanyaku.
Dan gadis
itu, Sakura. Dia hanya bisa tersenyum menatapku…
Bersambung
Foot note
Kimi dare? : Siapa kamu?
Sign up here with your email

Terima kasih telah membaca cerita di Tenkousei blog
Mohon kritik dan sarannya.... :) ConversionConversion EmoticonEmoticon